kiri
atas
kanan
 
- LAPORAN UTAMA -
   

Mengenang Sunan Bungkul pada Peringatan Haulnya
Terapkan Sistem Pemerintahan Islam

Nama Sunan Bungkul cukup melekat di hati para peziarah walisongo. Bahkan, bagi masyarakat Surabaya sudah tidak asing lagi. Setiap bulan Syakban, haulnya diperingati. Namun, tidak tahu banyak tentang siapa sebenarnya sang wali yang satu ini. Berikut jati dirinya.

Sunan Bungkul bernama asli Syekh Mahmudi. Hidup sezaman dengan Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit) dan Sunan Ampel. Beliau berasal dari Campa atau Kamboja. Datang ke Majapahit setelah terjadi kerusuhan di tempat kelahirannya. Kedatangannya ke kerajaan Majapahit karena ada hubungan keluarga dengan istri raja Majapahit dan juga ada hubungan keluarga leluhurnya dari trah istri Raja Kertanegara dari kerajaan Singosari yang berkuasa di wilayah Malang. Sebab, salah satu istri Kertanegara berasal dari Kamboja yang waktu itu merupakan kerajaan Islam. Baca posmo edisi 584-

COVER 577  
Cover 584
 
- LAPSUS-
 
 
- MAJALAH POSMO EXCLUSIVE-
   

Di Balik Insiden Penolakan Perluasan Masjid Ahmadiyah di Bogor
Dugaan Sesat Masih Jadi Polemik Utama 

Hari itu, Selasa, 12 Juli 2010. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dibantu Polsek Ciampea, Bogor membongkar bangunan tempat ibadah Ahmadiyah di Kampung Cisalada RT 02 RW 05, Ciampea Udik, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Jemaah Ahmadiyah hanya mampu pasrah ketika melihat rencana bangunan yang hendak dibuat untuk masjid tersebut diruntuhkan.

Ada apa di balik aksi penolakan warga tersebut? Kapolsek Ciampea, Ajun Komisaris Polisi, Roni Mardiyanto mengatakan, Satpol PP membongkar paksa bangunan tersebut karena desakan dari masyarakat setempat yang tidak menginginkan adanya bangunan Ahmadiyah.
“Beberapa kali warga setempat akan melakukan pembongkaran bangunan tersebut. Namun, kami langsung mencegahnya supaya tidak terjadi anarkis. Sehingga Satpol PP Kabupaten Bogor yang membongkarnya,” jelasnya. - Baca posmo edisi 584-

AGUSTUS
 
-PERISTIWA -
 
 
- SERAT -
 

Membuka Serat Kuno Babad Majapahit Dan Para  Wali
Menunggu Keajaiban Kiai Sengkelat

Keris Sengkelat tiruan telah rampung dicipta Ki Supa kecil. Benda pusaka itu tidak geseh sedikitpun dengan aslinyamembuat para petinggi  Majapahit terkesima dengan hasil kerja putra tunggal Pangeran Sendhang itu. Selanjutnya keris beryoni ini disimpan dalam salah satu kamar istana, agar sawabnya membuat Majapahit kembali ‘bersinar’ seperti semula.

DALAM serat Babad Majapahit dan para Wali dikisahkan bahwa tiruan Keris Sengkelat dikerjakaan oleh putra tunggal Pangeran Sendhang Baca Tabloid posmo 584-

 

Misteri Penampakan Sinar Biru Membelah Langit Jogjakarta
Sasmita Terjadi Peristiwa Besar

Seorang warga di Jogjakarta berhasil mengabadikan fenomena alam berupa penampakan sinar biru membelah langit. Fenomena langka ini tak hanya dilihat oleh satu orang. Tetapi, juga dilihat oleh dua warga lain di Jogjakarta. Diyakini, fenomena alam itu membawa sasmita.

Awalnya, seorang warga Desa Medjing, Sidoarum, Godean, Sleman, mengabarkan kepada posmo telah terjadi penampakan sinar biru membelah langit. Penampakan itu terjadi menjelang magrib. Namun, warga Desa Medjing yang tidak mau disebutkan namanya itu tak sempat mengabadikan penampakan itu dengan alat rekam seperti video shooting atau kamera photo yang biasa terdapat di HP. Posmo akhirnya urung menindaklanjuti kabar itu. Namun, warga Desa Medjing itu masih mengingat peristiwa itu sebagai pengalaman unik. “Saya ingat betul penampakan itu terjadi pada Jumat Kliwon,” katanya.
Beberapa hari kemudian, posmo kembali menerima kabar itu dari seorang warga dusun lain. Namanya, Indra (22), mahasiswa UPN Jogjakarta Jurusan Akuntansi yang tinggal di Dusun Kurahan, Margodadi, Seyegan, Sleman. Kali ini, kabar penampakan sinar biru itu disertai gambar. -baca Tabloid posmo edisi 584-

- PERISTIWA-
- LAPUT -
   

Peringatan Haul KH Ahmad Asrori Ustman Al-Ishaqy
Lanjutkan Ajaran yang Ditinggalkan

Hari itu, Sabtu (17/7). Ribuan umat muslim dari berbagai daerah di Jawa berbondong-bondong memadati halaman Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya untuk menghadiri haul pertama KH Ahmad Asrori Ustman Al-Ishaqy. Bagaimana peringatan haul pertama ulama yang wafa pada tanggal 18 Agustus 2009 ini?

Tanpa mengabaikan nama-nama ulama maupun waliyullah di kota pahlawan, seperti Sunan Ampel, Sunan Bungkul, dan waliyullah lain, sosok almarhum KH Ahmad Asrori Ustman di Desa Kedinding Lor, Surabaya patut dihormati dan dikenang layaknya waliyullah sebelumnya. Menginggat, sepak terjang beliau dalam memperjuangkan agama Allah SWT di tengah-tengah masyarakat dan kehidupan bangsa.
Pada hari Sabtu (17/7) lalu, genap satu tahun wafatnya KH Ahmad Asrori Ustman, mursyid Tarekat Qadiriyyah wan Naqsabandiyyah asal Surabaya. Baca Tabloid posmo edisi 584-

 

Labuhan Ageng 1943 Dal Tingalan Dalem Jumenengan Sultan HB X
Tunaikan Janji Panembahan Senopati

Labuhan dalem tingalan jumenengan Sultan HB X, tahun ini merupakan labuhan ageng. Prosesi ritual yang pada tahun sebelumnya hanya diadakan di Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu, kali ini juga diadakan di Dlepih, Kahyangan, Wonogiri, Jawa Tengah.

Hajad Dalem Sultan HB X pada setiap 30 Rejeb, kali ini jatuh pada tahun Dal, 1943. Sama seperti Grebeg Dal, tradisi tahunan berupa labuhan dalam rangka memperingati bertahtanya Sultan HB X sebagai raja di Kesultanan Jogjakarta itu kemudian juga berskala besar dan istimewa.
Labuhan tingalan dalem jumenengan Sultan HB X yang biasanya disebut Labuhan Alit, kemudian disebut Labuhan Ageng. Meskipun prosesi ritualnya tiada berbeda, namun ada penambahan sejumlah ubarampe dan tempat pelaksanaannya.
Labuhan Ageng mensyaratkan dilabuhnya pelana kuda milik Sultan di Gunung Merapi. Labuhan Ageng juga harus diadakan di di kedung atau sumber air perbukitan Dlepih, Kahyangan, Wonogiri pada setiap Labuhan Ageng tahun Dal ini.-baca Tabloid posmo edisi 584

 
- MISTERIL -
- PESUGIHAN -
 

Mengikuti Ritual Adat Larung Sesaji, Telaga Sarangan, Magetan, Jatim
Puncak Bersih Desa & Simbol Rasa Syukur

Larung Sesaji yang digelar masyarakat sekitar Telaga Sarangan, Magetan ini diyakini dapat memberikan keberkahan kepada masyarakat. Sementara itu, tradisi yang sudah dilakukan sejak tahun 1508 ini masih tetap lestari hingga kini. Bagaimana prosesinya? Berikut laporan posmo.

PAGI itu, Minggu (11/7) lalu di sekitar objek wisata Telaga Sarangan yang terletak di Desa Sarangan, Kec. Plaosan, Kab. Magetan, Jatim dipadati ribuan pengunjung yang ingin menyaksikan ritual adat Larung Sesaji yang dilakukan setahun sekali tiap bulan Jawa Ruwah, menjelang Ramadan. Sejak pagi, para wisatawan tak kunjung berhenti berdatangan.
Tidak hanya masyarakat sekitar Desa Sarangan, akan tetapi wisatawan lokal serta mancanegarapun juga turut antusias mengikuti ritual adat sarat kejawen ini. -baca Tabloid posmo edisi 584-

 

Menelisik Pesugihan Nyai Puspo Cempoko di Rembang, Jateng
Harta Kekayaan, Ditumbali Nyawa Istri
 
Tanda-tanda jaman edan, makin banyak manusia yang diperbudak materi. Godaan harta benda menutup keimanan dan penyimpangan norma-norma kehidupan. Pedoman agama pun diabaikan. Banyak orang sudi diperhamba oleh setan untuk memperoleh harta kekayaan yang biasa disebut ritual pesugihan.

Masyarakat Jawa masih memegang teguh terhadap kekuatan mistik dengan mengenal bentuk-bentuk pesugihan sebagai bagian dalam kepercayaan leluhur yang disebut animisme-dinamisme. Para ahli budaya menyebut paham ini sebagai warisan yang masih mempercayai satu kekuatan gaib. Begitupun dengan referensi kalangan spiritualis (paranormal) menyebut, bahwa bentuk pesugihan itu sangat beragam, baik jumlah dan bentuknya termasuk syarat, ritual, hasil dan wadal (tumbal) yang menyertainya.
Konsep mistik ini dipakai sebagai acuhan dasar bahwa kekuatan hitam yang dipercaya sebagai pemberi kekayaan secara cepat. .-baca Tabloid posmo edisi 584-

 

KEDAI SUFI
 

Jangan Sok Sufi

HARI masih pagi. Tapi, Mbah Kodin dan Kang Soleh sudah jagongan sembari ngobrol. Terdengar percakapan gayeng kedua sahabat tersebut.
“Batasnya sangat tipis, Kang. Tipis sekali. Lebih tipis dari rambut dibelah tujuh.”
“Kalau sudah begitu nggak usah dipikirin Mbah.”
“Ya..yaa.. Padahal masuk surga itu gampang sekali.”
“Lebih gampang masuk neraka…Mbah.”
“Saya pinginnya nggak usah memikirkan dosa dan amal, surga dan neraka.”
“Salah sendiri Mbah, syurga saja kok dipikirin, neraka saja kok ditakuti.”
Lalu dua orang itu tertawa terbahak-bahak. Tawa yang meledak, memecah kebekuan embun pagi itu, di saat banyak hamba Tuhan berselimut kehangatan yang melelapkan.
Dialog itu mengasyikkan. Setiap kali dua makhluk Tuhan itu bertemu, tak ada yang terucap dari bibirnya, melainkan ungkapan-ungkapan yang satire tentang kehidupan di akhir nanti, atau tentang sejumlah lelucon Sufi, bahkan gojlokan sehari-hari.
Mbah Kodin dan Kang Soleh, walau usia mereka berjarak panjang, namun mereka seperti teman. Dua orang yang seringkali mengungkap klangenan dan rasa rindu yang hanya terpuaskan jika bertemu. Terkadang, dalam canda tawa mereka berdua, tak jarang mereka tertawa-tawa, sementara air matanya tak terbendung. Mengembang di pelupuk masing-masing. - baca Tabloid posmo edisi 584-

     


Copyrights © 2007, Tabloid Posmo, All Rights Reserved