Menguak Tradisi Makan Air Tajin
Tradisi memberikan air tajin kepada bayi, kini meruak lagi. Bukan hanya lantaran harga susu formula sebagai penyeimbang ASI mahal, tetapi lantaran tradisi itu dinilai efektif bagi sebagian ibu modern.
Di sebuah blog pribadi, seorang ibu, sebut saja Nani, mengaku bisa memberikan air tajin kepada buah hatinya yang masih bayi. Nani adalah seorang karyawan swasta yang senantiasa memberikan ASI kepada bayinya. Awal masuk kerja, karena pekerjaan belum banyak, setiap makan siang, Nani pulang sambil membawa ASI pompaan.
Namun setelah 1 bulan dijalani, pekerjaannya mulai banyak sehingga ia tak punya waktu untuk pulang. Kalaupun pompa ASI sebelum berangkat kerja, Nani mengaku hanya sedikit ASI yang dipompanya. Padahal, si bayi butuh cukup banyak makanan utamanya itu.
Nani pun mencoba memperkenalkan susu formula pada bayinya dengan tetap memberikan ASI. Beberapa susu formula diberikan, tapi si bayi kerap mencret atau muntah-muntah. Ketika ditanyakan ke dokter, disebutkan si bayi ternyata alergi susu sapi. Pusing bukan kepalang ibu Nani. Dalam kecemasan, akhirnya ia meminta bantuan kepada ibunya yang senior. Ibunya yang wanita Jawa itu pun memberikan resep leluhur yakni memberi si bayi air tajin beras merah.
“Agar ada rasa, beri madu sedikit..., memang banyak kontroversial dalam dunia kedokteran untuk pemberian madu dan makanan pengganti ASI sebelum usia 6 bulan. Tapi mau gimana lagi... karena untuk saat ini saya tidak mungkin berhenti bekerja. Daripada anak saya kekurangan cairan dan asupan makanan. Jadi untuk saat ini bayi saya 5 bulan, tetap saya berikan ASI lalu diselingi air tajin beras merah campur madu.... alhamdulillah baik-baik aja.. dan sehat,” tutur Nani dalam pesan di blognya.
Berbeda dengan Nani, ibu-ibu Indonesia sekarang, terlebih ketika harga susu formula melambung beberapa minggu ini, sengaja menambah makanan bayinya dengan air tajin. Air tajin yang dipakai bukan air tajin dari beras merah seperti yang disarankan Nani. Tapi, air tajin dari beras biasa yang kita konsumsi sehari-hari.
Air tajin ini bukan dari air beras yang dibersihkan seperti dikira, tapi dari air menanak nasi. Pembuatannya cukup mudah, ketika kita masak nasi, pada saat air sudah mendidih (meletup-letup), ambil airnya saja, kira-kira 5 sendok saja. Pada saat kita mau memberikan makanan untuk si bayi, kita campurkan juga air tajin tersebut.
Seperti diketahui, bayi usia 4-6 bulan hanya makan susu, dalam hal ini ASI. Tapi, sayang, banyak juga ibu-ibu yang ASI-nya tak lancar sehingga perlu tambahan susu lain, biasanya susu formula. Dengan melambungnya harga susu, tak ayal banyak ibu kelimpungan dan beralih ke tradisi lama untuk membuat si bayi montok, yakni pemberian air tajin.
Bukan Penganti
Seorang ibu yang cukup mengikuti perkembangan bayinya, mengaku tradisi ini ternyata terbukti. Menurutnya, air tajin itu berguna untuk memberikan sari-sari beras bagi si bayi. Air tajin bermanfaat sekali, paling tidak untuk bayi atau anak yang tingkat minumnya tinggi dan cepat lapar. Tidak selalu harus yang kental, cukup air yang putih pada saat menanak nasi (ngaronin nasi).
Disebutkan, untuk bayi yang sudah mendapat makanan padat, sebaiknya pemberian air tajin cukup 1 kali saja pada malam hari. Biasanya, ibu yang satu ini memberi bayinya air tajin dengan perbandingan 1/4 botol air tajin dan 3/4 air panas biasa. Di kampung-kampung, seiring melambungnya harga susu, bayi yang asupan makanannya masih sebatas ASI saja, akhirnya mengikuti tradisi ini.
Mengenai ukuran pemberian, disesuaikan kemampuan bayi. Ada yang cukup memberikan 5-6 sendok makan saja sehari. Air tajin yang paling baik, menurut seorang ibu adalah dari beras yang belum dislip alias masih ada kulit arinya. Jadi vitamin yang bermanfaat masih banyak terkandung di beras tersebut. Air tajin hasil rebusan awal tidak harus kental. Dan, seperti disebut Nani, beras merah adalah beras penghasil air tajin yang terbaik.
Tapi dengan bijak, ibu yang satu ini menyatakan bahwa pemberian air tajin bisa dilakukan kapan saja, tapi susu masih lebih baik. Bayi sampai usia 4 bulan cukup diberi ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman apa pun juga. Kalau mau memberi air tajin atau tambahan-tambahan lainnya, sebaiknya setelah diperkenalkan dengan makanan padat (4 - 6 bulan).
Harus diakui, dulu air tajin banyak digunakan oleh ibu-ibu lantaran susu tambahan sangat susah didapat. “Air tajin mengenyangkan bayi saya, terlebih ketika ASI saya kurang lancar. Mau nambahkan susu formula, selain mahal juga takut bayi saya tidak cocok. Selama ASI saya lancar, bayi belum bisa diberi makanan tambahan, saya memberi air tajin 5-6 sendok tiap hari,” tutur Wiwik, seorang ibu muda.
Tak salah memang, tapi bagaimanapun susu terlebih ASI adalah yang terbaik bagi bayi. Tradisi ada baiknya diikuti, tapi tentu saja dengan pengetahuan yang mencukupi. Seperti yang disebut seorang dokter anak, Dr. Hardiono Pusponegoro. Menurutnya, air tajin isinya maltodextrin, sejenis karbohidrat. Ia menyarankan bayi mengonsumsi air tajin jika si bayi kurus.
Perlu diingat, air tajin itu hanya tambahan, diberikan tak mengapa asal makanan lain (terlebih ASI) tetap masuk. Kalau hanya air tajin tanpa yang lain, tentu saja keseimbangan gizinya akan terganggu.
Berbeda dengan Dokter Anton, seorang ahli gizi lulusan Australia ketika dihubungi posmo mengatakan, susu terlebih ASI bagi bayi usia 0- 6 bulan dikonsumsi bukan untuk sekadar menggemukkan badan, tetapi untuk memberikan kontribusi protein yang meskipun kecil tetapi berkualitas. Juga untuk menyumbangkan kalsium yang dapat menguatkan tulang dan mencegah osteoporosis (tulang rapuh).
Menurut dr. Anton, air tajin yang tak lain berasal dari pangan nabati mengandung protein dengan susunan asam amino tidak selengkap protein hewani (susu). “Jadi, jangan hanya melihat warna putihnya air tajin yang seperti susu, maka diasumsikan bahwa itu dapat menggantikan susu. “Susu adalah makanan terlengkap di dunia bagi bayi usia 0 - 4 bulan. Susu adalah makanan yang baik dengan mutu gizi tinggi. Namun, susu bukan magic food karena yang terbaik bagi kita setelah usia dua tahun adalah aneka ragam makanan yang dikonsumsi secara seimbang,” urainya.
Diuraikan, konsumsi susu sampai bayi berusia 6 bulan adalah sekitar 900 - 1.200 cc per hari. Setelah lebih dari 6 bulan kebutuhan susu semakin berkurang karena anak sudah mengenal makanan sehingga cukup diberikan 300 - 400 cc per hari. Semakin anak besar, kebutuhan susunya juga berkurang karena berbagai zat gizi dapat diambil dari makanan-makanan yang dikonsumsinya.
“Sekali lagi, saya tegaskan, bagi ibu-ibu yang bayinya di bawah 6 bulan, pun 2 tahun, ASI adalah yang terbaik. Selagi bisa memberikan, berikanlah secara maksimal. Kalau tidak bisa, dan harga susu mahal, mungkin bisa cari alternatif lain sebagai selingan seperti susu kedelai,” urainya
Memang, setelah usia 2 tahun, susu bukan lagi merupakan makanan wajib bagi seorang anak. Jadi, memang tak perlu ketakutan ketika harga susu melambung. Masih banyak penggantinya, seperti susu kedelai. Yang menarik adalah bahwa susu sebenarnya bukan produk kaya protein. Baik susu kedelai maupun susu sapi, kandungan proteinnya hanya sekitar 3%, bandingkan dengan telur yang mencapai 12% dan daging 18%. Bahkan beras yang kita konsumsi sehari-hari mengandung protein 7%. Karena itu, dari segi protein, susu bukanlah segala-galanya.
Sisi lain dari kandungan gizi susu adalah menyangkut kadar zat besi yang juga relatif kecil. Di negara maju seperti Amerika Serikat, ternyata dijumpai pula masalah anemia (kurang zat besi) pada anak-anak. Penyebabnya tak lain adalah konsumsi susu yang menurut takaran kita berlebihan, sehingga anak-anak tersebut mengurangi konsumsi makanan lain yang lebih kaya zat besi.
Untuk itu, perhatikan konsumsi susu anak kita. Jangan memaksa anak untuk mengonsumsi susu terlalu banyak, karena anak akan merasa kenyang mengingat kandungan airnya yang mencapai 90%. tommy ardyan
Cara Mudah Dapat Air Tajin
Bahan:
1 genggam beras
2 gelas air
Cara Membuat:
Cuci bersih beras sampai bersih, tiriskan
Tempatkan di panci bergagang, tambahkan air, dan rebus.
Aduk-aduk sesekali, sampai mengental.
Angkat, saring. Kalo terlalu kental dan agak susah, cukup pisahkan dengan nasinya
Dinginkan, dan sajikan segera.
Catatan:
Bisa dicampur dengan susu atau diminum langsung.