kiri
atas
kanan
     
 

Hidup Saya Bergelimang Dosa ?

Bapak Luqman Hakim MA Yth, perkenankan saya menuliskan siapa diri saya.
Saya merasa penuh dosa. Saya pernah masuk tempat ibadah agama lain, dan mengikuti ritual keagamaannya. Tapi, saya tidak pernah merasa masuk/pindah ke agama itu.

Terus sekarang hidup saya bergelimang dosa. Hati saya selalu menginginkan hidup yang benar. Tapi keimanan saya yang rapuh selalu membawa saya ke dalam kezaliman. Hati saya selalu merindukan hidup tanpa keduniaan. Tolonglah saya Pak. Apa yang harus saya lakukan. Padahal, saya sekarang memiliki suami dan anak.

Atas perhatian Bapak saya mengucapkan terima kasih.
 
Nea
E-mail: mailto:neasaja@yahoo.com

Jawab:
Mulailah dengan sesuatu yang baru, seperti layaknya kelahiran baru. Caranya? Lupakan seluruh dosa Anda, kezaliman yang pernah Anda lakukan, dan mohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya kerinduan Anda adalah wujud betapa Allah dekat dengan Anda, dan Allah masih sayang pada diri Anda.

Belajarlah untuk bersikap wajar, tidak ambisius dengan dunia. Tetapi tidak berarti meninggalkan keduaniaan Anda. Tapi, belajarlah mulai mencintai Allah dan rasul-Nya, nanti dunia biar berjalan dengan wajar dan logis-logis saja. Silakan Anda bekerja dengan dunia, tapi bukan untuk mencintai dunia. Tapi niatkan semua itu untuk menegakkan perjuangan Allah dan rasul-Nya.

Jangan kembali memanjakan diri sendiri, memanjakan diri adalah memanjakan nafsu Anda. Berbagilah kepada orang-orang yang menderita, fakir miskin, dan yatim piatu, dan orang-orang yang dhu’afa’.

Baca istighfar 100 x setiap habis salat dan Yaa Hayyu Yaa Qoyyum 100 x. Dalam hatimu harus terus mengingat Allah Allah…Jangan sampai lepas.
 
Calon Istriku Bekas Hostes

Assalamualaikum. Saya bermaksud untuk meminta tolong dan nasihat karena Allah. Saya punya pacar yang hendak masuk Islam dan saya ingin menikahinya, hanya saja masa lalunya membuatnya jadi ragu (maaf, dia asalnya seorang wanita panggilan). Saya ingin dan dia ingin tidak kembali ke masa lalunya. Saya ingin dia mencintai Allah, Rasul, Ahlul bait, para wali. Apa yang harus dilakukan?

Kami mohon bantuannya juga doanya! O..ya, selain itu berhubung saya beragama Islam, jadi ada masalah di keluarganya. Jika bisa tolong bimbing dia dan saya secara batin. Saya ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum

Fajar Hadi Rachman
E-mail: mailto: fajar-tech@bdg.centrin.net.id

Jawab:
Kalau Anda yakin, jalan saja. Kalau dia masuk Islam, seluruh dosanya dihapus oleh Allah. Ajari dia supaya hatinya bunyi Allah Allah di mana dan kapan saja, jangan sampai lupa. Kami mendoakan Anda dari jauh.

Ajari dia baca istigfar dan salawat Nabi, agar terbiasa terus membacanya setiap hari. Anda pun harus mendoakan dia setiap hari, memohonkan ampunan dan juga harus berbesar jiwa dalam hal-hal memaafkan dia.

 
 

Rela Makrifat Gusti Allah

“Kamu sudah kenal Gusti Allah, Dul?” tanya Pardi tiba-tiba, ketika fajar mulai menyingkap semesta.

“Wah, pertanyaanmu kok nganeh-nganehi Di…”

“Lha wajar to. Allah sudah kita sembah bertahun-tahun, jangan-jangan kita nggak kenal….”

Dulkamdi puyeng mendengar pertanyaan yang langsung menghujam ke ulu jantungnya, sampai ke ubun-ubun-ubun pikirannya.

“Nggak Di, kamu kok tiba-tiba tanya begitu pasti ada latar belakangnya.”

“Latar belakangnya ya kebingungan saya. Soalnya sekarang banyak orang ngaku makrifat, hakikat, sampai njlimet, tapi nyatanya nggak kenal Gusti Allah..”

“Lhah, itu soal klasik, sejak zaman dahulu juga banyak manusia seperti itu. Nggak usah dipikirin, tiwas melu edan…”

“Lha terus gimana to Dul?”

“Gampang. Coba tadi malem Kiai Mursyid kan melontarkan suatu hadis Nabi.”

“Telah merasakan nikmatnya iman, orang yang rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad SAW sebagai Nabi.” Nah, beres kan? Nggak usah puyeng-puyeng…”

“Lalu rasa tersebut macam apa, Dul?”

“Begini, ini kata Kang Soleh. Nggak tahu Kang Soleh juga ngutip dari mana, saya juga nggak tahu antah berantahnya. Katanya, rasa tersebut adalah faktor yang dibangkitkan oleh rida (kerelaan), yaitu makrifat kepada Allah. Dan, makrifat itu adalah cahaya yang ditempatkan oleh Allah dalam kalbu hamba yang dicintai-Nya. Tak ada yang lebih besar dan lebih agung ketimbang cahaya itu. Sedangkan hakikat makrifat itu adalah hidupnya hati dengan Yang Maha Hidup, sebagaimana firman-Nya: “Adakah orang yang keadaan mati, maka Kami hidupkan dia?” begitu juga, “Agar menjadi peringatan bagi orang yang hidup (hatinya)”, ayat lain “Maka Kami hidupkan ia, dengan kehidupan yang baik.”

“Itu yang kumaksud Dul…”

“Ah, itu tadi takwilan dari Syeikh Rifa’i. Beliau juga mengatakan, “Siapa yang mati nafsunya, maka dunianya jauh darinya. Siapa yang mati hatinya, akan jauh dari Tuhannya.” Kata Kang Soleh njudhul begitu saja dalam majlis kedai kopi.

Ibnu Sammak pernah ditanya, “Kapan seorang hamba dikenal bahwa dirinya telah sampai ke hakikat makrifat?” Beliau menjawab, manakala seorang hamba melihat Allah dengan mata renungan hatinya, fana dari segala selain diri-Nya.”

Dikatakan, “Makrifat berarti sirnanya pandangan melihat selain Allah, di mana segala selain Allah Ta’ala begitu kecil bahkan dibanding biji bayam sekali pun. “Katakan, Allah, lalu tinggalkan mereka….”

Siapa yang memandang Allah ia tidak akan memandang dunia, tidak pula akhirat. Cahaya matahari kalbu orang yang ‘arif itu lebih cemerlang ketimbang cahaya matahari dunia, dan lebih terang lagi di awal munculnya cahaya.

Matahari orang yang mencintaimu telah terbit di malam hari. Lalu cahayanya memendar, tak pernah surup. Matahari di siang dunia telah surup. Sedang matahari kalbu tak pernah sirna.

Imam Ja’far ash-Shodiq Ra mengatakan, “Seseorang tidak akan sampai pada hakikat makrifat manakala masih menoleh kepada selain diri-Nya. Makrifat itu sendiri adalah terbangnya hati menuju kemah-kemah kemesraan dan kecintaan, berjalan di balik hijab Keagungan dan Qudrah.

Inilah perilaku orang yang telinganya ditulikan dari suara kebatilan, matanya dibutakan dari memandang kesenangan, dan lisannya dibisukan dari bicara yang sia-sia.
Abu Yazid al-Bisthami Ra pernah ditanya, “(Jika begitu) apakah Anda memandang makhluk?” beliau menjawab, “Bersama Allah… Aku melihat makhluk”.

Dzun Nuun al-Mishry Ra menegaskan, “Tampaknya Allah SWT, di dalam hakikat jiwa melalui limpahan-limpahan anugerah, sebagaimana tampaknya matahari di muka bumi melalui cemerlangnya cahaya-cahaya. Hendaknya kalian menjernihkan kalbu, karena di sanalah cermin pandangan-Nya, dan tempat rahasia-Nya. Karena siapa yang mengenal Allah ia tak bakal memilih selain Allah sebagai Sang Kekasih.”

“Cukup Kang… cukuuuuup. Aku bisa edan mangan sepatu nanti Kaaaang… Cukupppp…!”

Lalu, Kang Soleh ngeloyor di telan pagi buta. Pardi dan Dulkamdi malah berpelukan erat. Dadanya berdegup guncang. Penuh dengan zikrullah.

M. Luqman Hakim
Jakarta Sufi Center

 


     
       

 
 

 
Copyrights © 2007, Tabloid Posmo, All Rights Reserved