kiri
atas
kanan

Geger Hantu Tukang Bakso Boyolali

Pascakematian penjual bakso itu membuat geger warga Boyolali. Muncul kabar menakutkan jika rombong almarhum sering berjalan sendiri. Benarkah?

Kini isu rombong bakso yang sering berjalan sendiri tiap malam itu gemparkan warga desa. Kabar tersebut kian santer beredar, hingga membuat penduduk ketakutan keluar rumah terutama waktu malam menjelang. Suasana kampung terlihat sunyi senyap setelah beduk Isak bergema. Padahal waktu ini biasanya banyak orang yang nongkrong, jagongan ataupun pergi ke warung kopi. Kini keadaan miris itu telah merebak seiring dengan kematian Kasminto, penjual bakso asal Boyolali, Jateng. Lalu bagaimana ceritanya.

Lima tahun berselang, semenjak penyakit paru-paru menggerogoti tubuhnya, Kasminto tak lagi sering berjualan. Dia pilih pulang ke daerah asalnya Cempogo, Boyolali, Jateng untuk berobat sekaligus beristirahat. Ketika kesehatannya sudah membaik, lelaki ini balik ke Gresik, Jatim untuk kembali berjualan. Itulah setahun terakhir yang dilakukan sampai akhirnya ajal menjemput.

Di kota Pudak itu, dirinya mengontrak rumah petak di wilayah Desa Tlapak. Adapun areal jualannya, mulai Desa Tiken, Naru sampai Randegan terus kembali lagi ke Tlapak. Kawasan desa itu seakan telah akrap dengannya. Demikian pula dengan penduduknya, khususnya mereka yang suka cangkruk malam hari. Keberadaan Kasminto sangat mereka butuhkan.

Pria lugu ini memiliki kebiasaan unik. Selalu memukul mangkok baksonya sekencang mungkin. Dengan harapan supaya didengar orang yang jauh dari jalan atau sedang tertidur. Rombongnya sendiri, dicat warna hijau pupus dengan lampu sentir (lampu minyak tanah) yang ditaruh di bagian depan rombongnya. Sikapnya yang ramah, santun, dan dermawan lantaran penjual yang sudah akrap dengannya diperkenankan mengutang, membuat kehadiran dirinya lekas akrap dengan masyarakat.

Kala itu, sehari saja tak jualan, esok malamnya ketika kembali jualan banyak orang yang menanyakan keberadaannya Tapi seiring dengan penyakit paru-paru yang diderita semakin parah, membuatnya kerap pulang ke daearah asalnya. Kasminto, terlahir kembar. Kembarannya bernama Kasturi yang dedeg (perawakannya) serta wajahnya ibarat pinang dibelah dua, sangat mirip.

 

 

Di desa kelahirannya dia juga berjualan bakso, seperti dirinya. Lantaran itu, ketika kembarannya sudah almarhum, seizin orang tuanya, Kasturi meneruskan jualannya. Nah, genap empat puluh hari kematian Kasminto, dirinya berangkat ke Gresik. Rombong yang dipakai pun, juga milik almarhum. Sejatinya, dari situlah isu rombong bakso berjalan sendiri itu muncul.

Pada awalnya, Kasturi cukup bersemangat bisa keluar dari tanah kelahirannya, merantau ke lain daerah untuk mencari uang sebagai bekal masa depannya. Akan tetapi setelah mendapati keadaan yang tak sesuai dengan harapan hatinya, semangat hidupnya jadi nglokro dan ingin kembali ke Cempogo. Sebab, sepanjang jalan yang dilewati seperti rute yang dilalui oleh almarhum, tak seorang pun mau menyapanya. Malah sebagian orang memandangnya dengan raut muka ketakutan lalu beranjak pergi.

Pernah suatu ketika, semalam baksonya tak ada yang membeli hingga ia pulang dengan hati dongkol. Esoknya, bakso itu dibuangnya ke sungai dan malam berikutnya ia mutung. Tidak berjualan dan baru dua malam berikutnya, ia kembali nyurung rombong baksonya. Tapi, lagi-lagi sepanjang jalan yang dilewati, semua pintu rumah sudah tertutup. Hanya lampu jalan yang menyala, itu pun hanya satu dua. Sepi, sepi sekali.

Seiring dengan itu, isu rombong bakso berjalan sendiri semakin santer terdengar. Sampai akhirnya, di suatu siang ada serombongan warga mendatangi pondokannya. Saat itu, lelaki ini sedang sibuk merebus daging sapi untuk pentol baksonya. Kedatangan orang-orang yang tidak dikenalnya itu, membuatnya kaget. Para tamu yang tak diundang itu dipersilakan masuk lalu ditanya soal keperluannya.

Serombongan warga ini bercerita bahwa pernah ada penjual bakso yang meninggal. Dia sangat baik, namun arwahnya sepertinya masih belum rela dan menjadi roh gentayangan. Tiap malam rombongnya berjalan sendiri hingga membuat warga utamanya yang masih memiliki utang pada almarhum menjadi ketakutan. Dikatakan oleh para tamu itu bahwa raut muka serta perawakan penjual bakso itu mirip sekali dengan dirinya.

Mendengar keterangan tamunya, Kasturi hanya tersenyum dan baru mudeng. Pada tamunya ia berkata, ”Iya Bapak-Bapak, penjual bakso itu kembaran saya namanya Kasminto, sedang saya Kasturi dan saya berniat untuk melanjutkan berjualan bakso di sini yang sudah dirintis oleh kembaran saya itu,” kata Kasturi ramah. Ini yang membuat orang-orang melongo, karena pria ini memang saudara kembar almarhum. edy whien
   
 

 

Copyrights © 2007, Tabloid Posmo, All Rights Reserved