Di desa kelahirannya dia juga berjualan bakso, seperti dirinya. Lantaran itu, ketika kembarannya sudah almarhum, seizin orang tuanya, Kasturi meneruskan jualannya. Nah, genap empat puluh hari kematian Kasminto, dirinya berangkat ke Gresik. Rombong yang dipakai pun, juga milik almarhum. Sejatinya, dari situlah isu rombong bakso berjalan sendiri itu muncul.
Pada awalnya, Kasturi cukup bersemangat bisa keluar dari tanah kelahirannya, merantau ke lain daerah untuk mencari uang sebagai bekal masa depannya. Akan tetapi setelah mendapati keadaan yang tak sesuai dengan harapan hatinya, semangat hidupnya jadi nglokro dan ingin kembali ke Cempogo. Sebab, sepanjang jalan yang dilewati seperti rute yang dilalui oleh almarhum, tak seorang pun mau menyapanya. Malah sebagian orang memandangnya dengan raut muka ketakutan lalu beranjak pergi.
Pernah suatu ketika, semalam baksonya tak ada yang membeli hingga ia pulang dengan hati dongkol. Esoknya, bakso itu dibuangnya ke sungai dan malam berikutnya ia mutung. Tidak berjualan dan baru dua malam berikutnya, ia kembali nyurung rombong baksonya. Tapi, lagi-lagi sepanjang jalan yang dilewati, semua pintu rumah sudah tertutup. Hanya lampu jalan yang menyala, itu pun hanya satu dua. Sepi, sepi sekali.
Seiring dengan itu, isu rombong bakso berjalan sendiri semakin santer terdengar. Sampai akhirnya, di suatu siang ada serombongan warga mendatangi pondokannya. Saat itu, lelaki ini sedang sibuk merebus daging sapi untuk pentol baksonya. Kedatangan orang-orang yang tidak dikenalnya itu, membuatnya kaget. Para tamu yang tak diundang itu dipersilakan masuk lalu ditanya soal keperluannya.
Serombongan warga ini bercerita bahwa pernah ada penjual bakso yang meninggal. Dia sangat baik, namun arwahnya sepertinya masih belum rela dan menjadi roh gentayangan. Tiap malam rombongnya berjalan sendiri hingga membuat warga utamanya yang masih memiliki utang pada almarhum menjadi ketakutan. Dikatakan oleh para tamu itu bahwa raut muka serta perawakan penjual bakso itu mirip sekali dengan dirinya.
Mendengar keterangan tamunya, Kasturi hanya tersenyum dan baru
mudeng. Pada tamunya ia berkata, ”Iya Bapak-Bapak, penjual bakso itu kembaran saya namanya Kasminto, sedang saya Kasturi dan saya berniat untuk melanjutkan berjualan bakso di sini yang sudah dirintis oleh kembaran saya itu,” kata Kasturi ramah. Ini yang membuat orang-orang
melongo, karena pria ini memang saudara kembar almarhum.
edy whien