Dapat mawas isi hati manusia akhirnya dapat mengetahui dan melihat segala-galanya. Tetapi itu tidak boleh kelihatan secara terang-terangan. Sanghyang Bayu juga memberikan teladan lapang dan rela hati agar setiap hari terus-menerus memberikan pertolongan kepada manusia. Hatinya selalu riang gembira tanpa amarah. Disindir dan dicela pun tidak merasa tersinggung. Dapat selalu memberikan maaf, akhirnya seluruh dunia karena hatinya senang, menyayanginya dengan segala kasih mesra.
Kesejahteraan Dunia
Yang keenam adalah perilaku Sanghyang Kuwera yang selalu berusaha memberikan pangan kepada seluruh rakyat dengan tujuan kesejahteraan negara. Pemberian ini memiliki arti agar manusia dapat merasa senang dan bahagia, tak kecewa setiap harinya. Pemberian ini memiliki maksud tertentu, jadi hanya sarana untuk tujuan yang lebih mulia.
Rumeksa santosanipun bangkita sapraja sami, mamrih kawruh kasunyatan wruh purwaning dumadi. Ywa katungkul suka-suka neng nuswapada tan lami. (Pula menjaga kekuatan dan kesentosaan agar rakyat di seluruh negara berusaha memperoleh pengetahuan tentang kenyataan hidup, mengetahui asal mula serta tujuan hidup dan hanya jangan senang-senang saja karena hidup di dunia tak kan lama)
Dengan demikian, kesenangan itu akan hilang bila tidak dipikirkan benar-benar. Karena itu, Sanghyang Kuwera selalu prihatin dalam hatinya, setiap hari tiada henti-hentinya memuja dan memberikan yang serba baik.
Sebagai perilaku yang ketujuh ambillah teladan Sanghyang Baruna yang selalu siap dengan senjata panahnya guna melenyapkan segala perbuatan jahat, untuk memusnahkan semua kotoran jagad, dan menuju pada kesentosaan kemauan. Semua itu bertujuan agar dalam hidup manusia tidak lagi ada kesukaran dan bahaya, yang serba rumit menjadi mudah. Namun dianjurkan, jika tak mampu serahkanlah masalah pada ahlinya.
Ajaran ini memberi arahan agar manusia tak henti-henti mengumpulkan segala sesuatu yang menjadi kepandaian manusia. Nadyan kang tan mrih arjeng rat pinarsudi mrih udani wekasaning asthabrata iku kang tansa kaesti (Walaupun yang tidak mengarah ke kesejahteraan dunia, itu pun perlu dikumpulkan agar dapat diketahui dan dibuat cermin. Akhirnya asthabratalah yang harus selalu dituju)
Adapun perilaku yang kedelapan adalah watak Sanghyang Brahma yang selalu berusaha membakar dan melenyapkan musuh hingga tertumpas habis. Yang tetap melawan akan dihabiskan seperti harimau memangsa daging. Api pembasmi kejahatan itu menyala-nyala tinggi merusak segala yang jahat dan kotor.
Dalam memperhatikan beban manusia sedunia itu, usaha Sanghyang Brahma dibantu dengan doa dan restu. Dan karena ingin menjaga keamanan sedunia, maka segalanya dilakukan semua dengan sekuat tenaga. Namun kekuatan tenaga itu dibarengi keteguhan dan kesentosaan hati. Datan pedhot kadyangganing tepange punang kalpika tan kongsi renggang saweni den mrih raharjaning rat tan pegat sariratri (Tiada henti-hentinya usaha itu agar mencakup semua manusia tanpa kecuali. Usahanya mengacu pada kesejahteraan dunia, tak henti-hentinya dilakukan siang-malam)(Bersambung) purwanti