kiri
atas
kanan

Menguak Ajaran Kehidupan Serat Niti Sruti (8)

Jabarkan Ajaran Asthabrata

Ajaran Asthabrata pun tak lekang dari pemikiran Pangeran Karanggayam dalam menulis serat yang satu ini. Ia selalu mengingatkan pentingnya ajaran ini untuk menimba nilai-nilai luhur.

Sama halnya dengan ajaran Jawa lain, Serat Niti Sruti juga menyoal ajaran Asthabrata, yakni wejangan bagaimana perilaku pemimpin yang sempurna. Dalam tembang Kinanti semua ajaran asthabrata dijabarkan. Pertama, ialah mengambil teladan perilaku Sanghyang Indra yang telah membentangkan dan menyebarkan tata krama kepada manusia di seluruh dunia.

Tandukipun tinindakken mrih pakantuk ing pangreksanira, lan paramartaning kapti kinanthenan lumintuning dana boja. (Tindak tanduk dan segala perbuatannya dilakukan agar dapat menjaga dan memelihara dunia dengan tujuan supaya semua manusia dapat memperoleh kehidupan dengan harta benda dan pangan terus-menerus)
Perilaku kedua yang perlu dicontoh adalah perilaku Sanghyang Yama, dewa yang teguh menyebarkan hukum denda pidana kepada para penjahat dan penipu. Segala yang merupakan kotoran dunia dihukumnya tanpa pandang bulu. Meski sanak kadang, kalau penjahat tak segan-segan dihukumnya, kalau perlu hukuman mati.

Adapun perilaku yang ketiga ialah agar memiliki watak seperti Sanghyang Surya. Dengan kebesaran hatinya ia memberikan tuntunan kepada hati sanubari manusia. Upamia ngingsep toya nadyan wanter ing pakerti. Tan karaos asatipun saking patrap rereh ririh ngarah-arah tan kasesa, panginsepe lawan aris (Dapat diumpamakan sebagai menghirup air; walaupun cepat dilakukannya tidak terasa. Tidak terasa habisnya karena dilakukan dengan tenang dan terarah. Cara menghirupnya tenang dan damai)

Sanghyang Surya juga mengajarkan teladan dalam peperangan. Bila ada musuh yang terkalahkan, sebaiknya didekati. Diajak berdamai, didekati dan dibujuk dengan lembut supaya hatinya tak lagi curiga. Dengan sopan-santun yang wajar diajak berbarengan. Demikianlah cara Sanghyang Surya memimpin manusia.

Perilaku keempat yang dapat dijadikan teladan adalah Sanghyang Candra. Ia selalu berusaha menjadikan hati manusia senang secara merata agar mereka akal budinya menjadi baik. Usahanya selalu disertai dengan senyum tawa, tutur kata yang lembut manis, dan didasari budi yang halus. Akhirnya semua itu membuat hati manusia setia, tekun dalam menjalankan perbuatan baik.

Yang kelima dapat disebut perilaku Sanghyang Bayu yang selalu berusaha akan kesempurnaan pengetahuan. Anggung amawang salwiring solah bawaning bawana, wruh budining wong sabumi (Pengetahuan yang dimaksud dapat memawas dan mengetahui gerak-gerik serta keadaan di bumi, dapat menyelami watak dan budi orang sedunia)

 

 

Dapat mawas isi hati manusia akhirnya dapat mengetahui dan melihat segala-galanya. Tetapi itu tidak boleh kelihatan secara terang-terangan. Sanghyang Bayu juga memberikan teladan lapang dan rela hati agar setiap hari terus-menerus memberikan pertolongan kepada manusia. Hatinya selalu riang gembira tanpa amarah. Disindir dan dicela pun tidak merasa tersinggung. Dapat selalu memberikan maaf, akhirnya seluruh dunia karena hatinya senang, menyayanginya dengan segala kasih mesra.

Kesejahteraan Dunia
Yang keenam adalah perilaku Sanghyang Kuwera yang selalu berusaha memberikan pangan kepada seluruh rakyat dengan tujuan kesejahteraan negara. Pemberian ini memiliki arti agar manusia dapat merasa senang dan bahagia, tak kecewa setiap harinya. Pemberian ini memiliki maksud tertentu, jadi hanya sarana untuk tujuan yang lebih mulia.

Rumeksa santosanipun bangkita sapraja sami, mamrih kawruh kasunyatan wruh purwaning dumadi. Ywa katungkul suka-suka neng nuswapada tan lami. (Pula menjaga kekuatan dan kesentosaan agar rakyat di seluruh negara berusaha memperoleh pengetahuan tentang kenyataan hidup, mengetahui asal mula serta tujuan hidup dan hanya jangan senang-senang saja karena hidup di dunia tak kan lama)

Dengan demikian, kesenangan itu akan hilang bila tidak dipikirkan benar-benar. Karena itu, Sanghyang Kuwera selalu prihatin dalam hatinya, setiap hari tiada henti-hentinya memuja dan memberikan yang serba baik.

Sebagai perilaku yang ketujuh ambillah teladan Sanghyang Baruna yang selalu siap dengan senjata panahnya guna melenyapkan segala perbuatan jahat, untuk memusnahkan semua kotoran jagad, dan menuju pada kesentosaan kemauan. Semua itu bertujuan agar dalam hidup manusia tidak lagi ada kesukaran dan bahaya, yang serba rumit menjadi mudah. Namun dianjurkan, jika tak mampu serahkanlah masalah pada ahlinya.

Ajaran ini memberi arahan agar manusia tak henti-henti mengumpulkan segala sesuatu yang menjadi kepandaian manusia. Nadyan kang tan mrih arjeng rat pinarsudi mrih udani wekasaning asthabrata iku kang tansa kaesti (Walaupun yang tidak mengarah ke kesejahteraan dunia, itu pun perlu dikumpulkan agar dapat diketahui dan dibuat cermin. Akhirnya asthabratalah yang harus selalu dituju)

Adapun perilaku yang kedelapan adalah watak Sanghyang Brahma yang selalu berusaha membakar dan melenyapkan musuh hingga tertumpas habis. Yang tetap melawan akan dihabiskan seperti harimau memangsa daging. Api pembasmi kejahatan itu menyala-nyala tinggi merusak segala yang jahat dan kotor.

Dalam memperhatikan beban manusia sedunia itu, usaha Sanghyang Brahma dibantu dengan doa dan restu. Dan karena ingin menjaga keamanan sedunia, maka segalanya dilakukan semua dengan sekuat tenaga. Namun kekuatan tenaga itu dibarengi keteguhan dan kesentosaan hati. Datan pedhot kadyangganing tepange punang kalpika tan kongsi renggang saweni den mrih raharjaning rat tan pegat sariratri (Tiada henti-hentinya usaha itu agar mencakup semua manusia tanpa kecuali. Usahanya mengacu pada kesejahteraan dunia, tak henti-hentinya dilakukan siang-malam)(Bersambung) purwanti

     


Copyrights © 2007, Tabloid Posmo, All Rights Reserved