kiri
atas
kanan
     
 

Ritual Labuhan di Parangkusumo, Jogjakarta
Tolak Bencana, Raih Keselamatan

Kawasan Pantai Parangkusumo, Jogjakarta, Kamis malam (21/6) atau malam Jumat Kliwon lalu tak seperti biasanya. Ribuan orang memadati lokasi yang terkenal kekeramatannya itu untuk mengikuti dan menyaksikan ritual labuhan secara besar-besaran yang digelar oleh Sanggar Supranatural Songgo Buwono.

Kawasan Pantai Parangkusumo malam Jumat Kliwon lalu benar-benar menjadi lautan manusia. Ribuan orang tumplek-blek mulai dari Cepuri Parangkusumo sampai di sepanjang pantai yang sarat nilai kemistisan tersebut. Selain mereka berada di tempat itu untuk menjalani laku spiritual dengan segala panyuwunan (permintaan) masing-masing. Hal lain yang menarik perhatian banyak orang ketika digelar ritual labuhan di Laut Kidul pada tengah malam itu.

Prosesi labuhan dimulai di dalam Cepuri Parangkusumo. Setelah sebagian besar anggota Songgo Buwono memasuki Cepuri dan duduk bersila, Bunda Lia Hermin Putri selaku pemimpin ritual langsung menyulut dupa sebagai tanda dimulainya ritual. Sesaat setelah uluk salam, kemudian Bunda Lia dengan disertai beberapa anggotanya mendekati dua buah batu gilang yang konon dijadikan tempat duduk oleh Panembahan Senapati ketika bertemu dengan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul. Di tempat itulah spiritualis yang masih terlihat cantik itu bermeditasi untuk beberapa saat lamanya.

Usai melakukan ritual di Cepuri Parangkusumo, rombongan yang dipimpin Bunda Lia langsung menuju ke pinggir Laut Kidul. Dengan memilih tempat khusus, berbagai ubarampe sesaji yang dipersiapkan diletakkan dengan penuh hati-hati. Sesaat kemudian setelah dilakukan penyulutan dupa hio sebanyak 21 buah, para peserta ritual labuhan duduk bersila dan bermeditasi dalam waktu yang agak lama.

Dalam ritual yang tanpa lampu penerangan sedikit pun tersebut dijumpai fenomena yang cukup menarik. Di saat ritual digelar di pinggir Laut Kidul baru dimulai, gelombang air laut semula hanya biasa-biasa saja. Namun menjelang ritual selesai mendadak gelombang air laut semakin besar, dan gerakan air laut hampir menyentuh tempat peserta ritual melakukan meditasi. Menurut kasak-kusuk peserta ritual, itu sebagai pertanda bahwa Kanjeng Ratu Kidul berkenan atas ritual tersebut.

Usai meditasi berbagai sesaji berupa angsa, nasi tumpeng, aneka buah-buahan, busana untuk Kanjeng Ratu Kidul dan lainnya lantas dilarung di Laut Kidul. Dalam sekejap, aneka sesaji tersebut lenyap ditelah keganasan ombak Laut Kidul dan tak kelihatan lagi. Sebelumnya, untuk menunjang ritual labuhan di Laut Kidul ini terlebih dulu dilakukan ritual di Sanggar Songgo Buwono, berupa Tawasul dan Yasin.

Tolak Bencana
Menurut Bunda Lia, ritual labuhan yang digelar di Laut Kidul Parangkusumo kali ini memang amat besar dan istimewa. Kalau sebelumnya dalam ritual serupa hanya mengeluarkan hio sebanyak 11 buah, kali ini mengeluarkan hio sebanyak 21. “Dengan mengeluarkan hio sejumlah 21 itu berarti membutuhkan kekuatan yang amat luar biasa. Untuk membantu keberhasilan dalam ritual ini saya memang minta bantuan doa kepada siapa saja untuk kelancaran ritual labuhan ini,” ujar Bunda Lia kepada posmo sebelum acara dimulai.

Bunda Lia yang waktu ritual mengenakan pakaian serba putih itu mengungkapkan, ritual labuhan yang digelarnya itu tiada lain merupakan rangkaian tujuan untuk ikut memikirkan nasib bangsa dan negara atas banyaknya musibah dan bencana serta berbagai persoalan bangsa yang dihadapi saat ini. Lewat ruwatan dan tolak bencana tersebut diharapkan ketenangan, kedamaian, dan keselamatan bisa dirasakan oleh rakyat negeri ini.

“Kami sebagai wong Jawa yang kebetulan tinggal di dekat Laut Kidul, apa salahnya kalau menggelar ritual dengan tujuan mulia untuk mendapatkan keselamatan negeri ini. Salah satunya lewat ritual labuhan sekaligus untuk mengakrabi alam seperti Laut Kidul ini,” imbuhnya.

Menurut dia, dengan cara kembali mengakrabi alam diharapkan alam tidak murka dan menebar bencana lagi. Sebab diakui atau tidak, meski untuk sementara waktu alam terlihat tenang, tapi harus tetap diwaspadai. Dengan ritual tersebut diharapkan sebagai bentuk antisipasi dan harapan agar di kemudian hari yang namanya bencana tak datang lagi dan masyarakat bisa hidup tenang.

Terjadinya segala bencana yang diakibatkan kemurkaan alam sebenarnya dipicu oleh kesalahan manusia sendiri yang dengan kesombongan dan keserakahannya telah melupakan alam bahkan merusaknnya. Karena dirusak, alam pun menjadi murka. “Dengan ruwatan dan labuhan di Laut Kidul ini sebenarnya sebagai upaya untuk mengakrabi alam itu sendiri. Lepas dari kekuatan-kekuatan yang ada serta merta melingkupi setiap tempat,” tukas Bunda Lia.

Pada sisi lain diungkapkan, dalam konteks kekinian setiap manusia hendaknya harus mengedepankan sikap kehati-hatian dan kewaspadaan. Sebab, saat ini sebenarnya manusia tengah menapaki zaman yang berada di garis galenganing Jaman Kalatidha. Sebuah zaman yang serba tidak menentu dan sering terjadi kekacauan. “Agar mendapatkan keselamatan langkah awal yang harus ditempuh adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan kembali mengakrabi alam lingkungannya. Yang namanya kesombongan dan keserakahan harus disingkirkan jauh-jauh,” tukas Bunda Lia. irul sb

 
 

Kelahiran Kerbau Kiai Slamet di Keraton Surakarta
Disambut Wilujengan Lengkap

Salah satu induk kawanan kerbau keturunan Kiai Slamet milik Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (18/6) lalu melahirkan seekor gudel. Sebagai hewan klangenan keraton, kelahiran anak kerbau tersebut cukup diistimewakan. Layaknya manusia, setelah sepasar (lima hari) kelahirannya dilakukan ritual wilujengan sesuai upacara adat keraton.

Berbeda dengan proses kelahiran dari dua induk kerbau keturunan Kiai Slamet sebelumnya yang tak bisa bertahan hidup, bahkan merenggut nyawa salah satu induknya. Kali ini proses kelahiran kerbau milik keraton itu berjalan lancar dan selamat. Anak kerbau yang lahir pada Senin (18/6) sekitar pukul 08.00 WIB tersebut sampai sekarang terlihat normal dan sehat.

Srati kawanan kerbau keraton, Utomo Gunadi (46) mengungkapkan, kelahiran gudel dari pasangan kerbau Nyi Panggung dan Ki Alim itu tak merepotkan seperti yang terjadi sebelumnya. Selain sudah waktunya melahirkan, proses kelahirannya berjalan singkat. “Sekitar satu setengah jam setelah kelahirannya, anak kerbau itu sudah mampu berdiri. Selain karena alami dan naluri induknya yang mau merawat anaknya dengan baik. Proses kelahiran gudel kali ini tak begitu banyak adanya campur tangan manusia,” katanya kepada posmo di kompleks Sitinggil selatan di mana kerbau itu berada.

Di usianya yang baru lima hari, pertumbuhan anak kerbau tersebut cukup menggembirakan. Kondisinya sehat dan normal. Bahkan, anak kerbau dengan ules pancal atau terdapat belang putih pada kakinya itu kini sudah berjalan lumayan jauh mengikuti induknya. “Meski anak kerbau yang dilahirkan kali ini kondisinya cukup baik dan normal, namun tetap dalam pengawasan drh Hardiyanto yang bertugas mengawasi kesehatan kerbau milik keraton,” imbuhnya.

Dengan kelahiran anak kerbau tersebut berarti kawanan kerbau milik keraton yang oleh masyarakat luas masih dikeramatkan itu sekarang menjadi 12 ekor. Dari jumlah itu terbagi menjadi dua kelompok, yakni enam kerbau yang kini berkeliaran di alun-alun selatan dan empat kerbau pengembalian dari Madiun yang kini salah satu induknya melahirkan gudel tersebut dan ditempakan di dalam pagar Sitinggil. Sementara itu, seekor kerbau jantan lainnya kini tetap berkeliaran di daerah Grogol, Sukoharjo dan tak mau pulang ke keraton.

Menurut Gunadi, enam kerbau yang berkeliaran di alun-alun selatan itu merupakan kerbau yang biasa digunakan sebagai cucuk lampah dalam ritual Suroan. Sementara itu, empat kerbau yang tak mau bercampur dengan gerombolan enam kerbau lainnya itu dulunya dipinjam oleh seseorang di Madiun. Karena melalui isyarat gaib kerbau itu ingin pulang ke keraton, akhirnya empat kerbau tersebut dikembalikan dan kini berada di Keraton Surakarta. “Untuk kelahiran anak kerbau yang berasal dari Madiun ini warnanya hitam, tidak bule seperti lainnya,” terang Gunadi.

Disinggung proses kelahiran anak kerbau kali ini, Gunadi mengaku sebelumnya pernah mendapati firasat khusus. Jelasnya, sebelum Nyi Panggung melahirkan, dua malam berturut-turut ia bermimpi sama persis, yakni seperti tangannya mengambil sebuah batu segi empat berwarna biru di dalam air baskom. “Setelah mimpi yang terakhir dan terbangun dari tidur, saya sudah mendapati induk kerbau dalam keadaan mau melahirkan, bahkan kedua kaki gudel itu sudah kelihatan,” imbuhnya.

Wilujengan Lengkap
Kelahiran anak kerbau berjenis kelamin jantan ini kenyataannya mendapatkan perhatian khusus dari keraton. Sebagai bukti, setelah lima hari kelahirannya, keraton menggelar upacara adat berupa wilujengan terhadap anak kerbau tersebut.

Sebagaimana sering dikenakan pada anak manusia yang baru dilahirkan, upacara adat terhadap kelahiran anak kerbau klangenan keraton itu malah terkesan cukup istimewa. Yakni berupa wilujengan dengan sesaji pepak alit. Di antaranya berupa ketan empat warna, pisang raja setangkep, bubur merah dan putih, jajan pasar, apem, dan lainnya. “Selama saya menjadi srati kerbau klangenan keraton ini baru sekarang menjumpai upacara wilujengan sebesar itu. Sebelumnya hanya dengan wilujengan kecil-kecilan,” terang Gunadi.

Ritual wilujengan sepasar terhadap anak kerbau yang baru dilahirkan itu berlangsung di Pendapa Sitinggil Selatan, Jumat (22/6) sekitar pukul 09.00 WIB. Wilujengan dipimpin langsung oleh KRAr Winarno Kusumo dan diikuti banyak abdidalem serta masyarakat luas. Dan seusai didoakan, aneka sesaji itu dibagikan kepada mereka yang berada di tempat wilujengan.

Winarno mengungkapkan, wilujengan terhadap anak kerbau yang dilahirkan ini sebenarnya merupakan upacara adat keraton yang dikenakan kepada kawanan kerbau yang merupakan salah satu pusaka milik Keraton Surakarta. “Inti dari wilujengan ini adalah agar anak kerbau tersebut bisa mendapatkan keselamatan serta tumbuh normal dan sehat. Bagaimanapun keberadaan kerbau keturunan Kiai Slamet ini harus dipertahankan,” katanya.

Menurut dia, upacara adat keraton yang dikenakan kepada kerbau keraton tak hanya bagi yang baru saja dilahirkan. Bagi kerbau yang meninggal pun diperlakukan sama, yakni dengan upacara adat keraton. Seperti sebelum dikuburkan, kerbau itu terlebih dulu dimandikan lantas dikafani seperti halnya manusia.

Gunadi menambahkan, dalam wilujengan tersebut juga dilakukan pemberian nama pada anak kerbau yang baru dilahirkan. “Anak kerbau itu dinamai Senin. Nama tersebut dimaksudkan untuk memudahkan mengingat hari kelahirannya, di samping untuk mengenali ciri masing-masing kerbau,” tukas Gunadi. irul sb


     
   

Misteri Penangkapan Ular Raksasa di Boyolali, Jawa Tengah
Dibarengi Penampakan Wanita Cantik

Masyarakat Boyolali belakangan heboh. Menyusul tertangkapnya dua ular raksasa jenis piton di Waduk Cengklik dan Garut, Jawa Barat oleh salah seorang warga Solo. Ular yang diduga penjelmaan wanita cantik itu kini dikandangkan dan menjadi tontonan banyak orang.

Penangkapan dua ular raksasa di tempat berbeda dan kini dikandangkan di rumah Sukidi (40) warga Dusun Tegalrejo, Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali atau tepatnya di sebelah barat Bandara Adisumarmo sampai kini masih menjadi pusat perhatian banyak orang. Hampir tiap hari banyak pengunjung ingin menyaksikan dari dekat kedua ular yang ditempatkan secara terpisah itu.

Ihwal penangkapan kedua ular tersebut bermula saat Bambang Pranyoto (61), warga Kebalen Tengah RT 03/04, Kampung Baru, Solo hendak pergi ke Pengging, Boyolali untuk menjalani sesirih, Kamis (31/5) malam. Namun entah mengapa perjalanannya ke Pengging mendadak harus memutar dan lewat Waduk Cengklik. Tanpa pernah diduga sebelumnya, ketika lewat tempat itu sekitar pukul 22.20 WIB mendadak ada ular besar keluar dari Waduk Cengklik. “Seperti ada kekuatan lain dan tiba-tiba muncul keberanian untuk menangkap ular besar itu. Anehnya pula, saat saya tangkap dan kemudian saya masukkan ke dalam sarung, ular itu terlihat jinak dan tak banyak melawan,” ujar Bambang pada posmo sembari mengaku sebelumnya tak pernah menangkap ular.

Sesaat setelah berhasil menangkap ular betina sepanjang 7 meter dengan berat 120 kg, kemudian dinamai Nyi Sariti itu, Bambang menuju rumah temannya di Tegalrejo, Ngesrep yang tak jauh dari lokasi penangkapan ular. Ular tersebut dititipkan dan dikandangkan di rumah tersebut. Ia pun kemudian mengurungkan niatnya untuk sesirih di Pengging.

Dalam perkembangannya, pada malam berikutnya ketika Bambang tidur mendadak bermimpi seperti ditemui seekor ular yang bisa bicara. Dalam pembicaraan itu si ular minta agar dikawinkan dengan pasangannya yang sekarang masih berada di daerah Jawa Barat. “Usai mimpi itu mendadak saya terbangun. Terus terang waktu itu saya tak tahu makna mimpi itu,” imbuhnya.

Mimpinya seakan terjawab ketika Bambang hendak mengunjungi saudaranya di Cianjur, tiga hari berselang setelah menangkap ular Nyi Sariti. Dalam perjalanannya itu ia sempat mampir di Rumah Makan Cilenyi di Bandung. Usai makan, sekitar pukul 03.00 WIB, tiba-tiba Bambang mendengar kabar ada seekor ular besar yang habis makan babi hutan di Gunung Wanaraja, Garut. Teringat akan mimpinya dan kembali seperti ada kekuatan lain pada dirinya, Bambang pun menuju lokasi keberadaan ular besar itu. Dengan dibantu 15 orang, ular seberat 220 kg dan panjang 12 meter itu berhasil ditangkap dan kemudian dibawa pulang ke Boyolali dengan truk. “Ular tangkapan di Garut pada Senin sekitar pukul 05.00 WIB itu kemudian saya namai Ki Anak Conda dan saya bawa ke tempat Nyi Sariti berada. Semula kedua ular itu saya jadikan satu dan sempat kawin. Setelah itu saya pisahkan dengan kandang sendiri-sendiri,” jelas Bambang.

Sampai sekarang kedua ular besar itu masih menjadi tontonan masyarakat luas. Tak hanya warga Ngemplak saja, namun sudah merambah ke daerah lain, seperti Semarang, Salatiga, dan daerah lain banyak yang berdatangan untuk melihatnya. Dengan bekerja sama dengan Karang Taruna desa setempat, untuk melihat kedua ular besar itu setiap pengunjung dikenakan sumbangan sebesar Rp 2000.

Hasil sumbangan itu sebagian untuk mengisi kas Karang Taruna Tegalrejo dan lainnya untuk memberi makan kedua ular tersebut. Menurut Bambang, untuk memberi makan kedua ular itu membutuhkan dana yang tak sedikit. Dalam setiap setengah bulannya ia harus memberi makan kepada Nyi Sariti dengan ayam sejumlah 10-15 ekor yang jika dinominalkan mencapai Rp 300.000. Sementara itu, untuk Ki Anak Conda dalam setengah bulannya harus disediakan seekor kambing seharga sekitar Rp 400.000

Jelmaan Wanita Cantik?
Penangkapan kedua ular tersebut sampai sekarang masih menyisakan misteri yang sulit dinalar. Bagaimana tidak, ular bernama Nyi Sariti itu disebut-sebut sebagai jelmaan wanita cantik jelita. Sebagaimana diakui sang penangkapnya, Bambang, selang beberapa hari setelah dirinya berhasil menangkap kedua ular besar itu pernah didatangi seorang wanita yang amat cantik meski lewat mimpi. “Dalam mimpi itu sosok wanita cantik tersebut minta agar diperbolehkan ikut dengan saya dan jangan disia-siakan,” jelas Bambang.

Hal senada diungkapkan oleh Sukidi (40), pemilik rumah tempat kedua ular itu dititipkan. Menurutnya, beberapa hari sebelum ular Nyi Sariti dititipkan di rumahnya ia pun sempat bermimpi aneh. Sepertinya dalam mimpinya itu ia kedatangan seorang tamu wanita yang amat cantik. “Tamu wanita itu bilang ingin ikut kepada saya. Hanya itu,” katanya sembari menambahkan setelah Nyi Sariti berada di rumahnya ia pernah menjumpai kelebat bayangan wanita cantik di dekat kandang ular Nyi Sariti.

Peristiwa aneh lain yang dialami Sukidi adalah ketika kali pertama memegang ular Nyi Sariti mendadak tubuhnya menjadi panas sekali sekitar empat jam lamanya. Meski telah diminumi obat, namun tak berhasil juga. “Anehnya, ketika saya tidur malam harinya mendadak bermimpi kembali bertemu dengan sosok wanita cantik. Wanita itu bilang, jika ingin memegang harus jawab atau minta izin dulu,” imbuhnya.

Sukidi pun membeberkan, dalam kesempatan mimpi lainnya dirinya pernah disuruh wanita cantik itu untuk mengutarakan segala permintaan. Namun Sukidi tak menyodorkan permintaan apa-apa kecuali dirinya dan seluruh keluarganya diberi keselamatan dan kebahagiaan. “Tak hanya lewat mimpi, pernah pula melalui suara agar saya mengatakan permintaan. Tapi saya tetap tak minta apa-apa, kecuali keselamatan dan kebahagiaan keluarga saya,” tukas Sukidi. irul sb
 
       
         

 
 

 
Copyrights © 2007, Tabloid Posmo, All Rights Reserved