Kelahiran Kerbau Kiai Slamet di Keraton Surakarta
Disambut Wilujengan Lengkap
Salah satu induk kawanan kerbau keturunan Kiai Slamet milik Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (18/6) lalu melahirkan seekor gudel. Sebagai hewan klangenan keraton, kelahiran anak kerbau tersebut cukup diistimewakan. Layaknya manusia, setelah sepasar (lima hari) kelahirannya dilakukan ritual wilujengan sesuai upacara adat keraton.
Berbeda dengan proses kelahiran dari dua induk kerbau keturunan Kiai Slamet sebelumnya yang tak bisa bertahan hidup, bahkan merenggut nyawa salah satu induknya. Kali ini proses kelahiran kerbau milik keraton itu berjalan lancar dan selamat. Anak kerbau yang lahir pada Senin (18/6) sekitar pukul 08.00 WIB tersebut sampai sekarang terlihat normal dan sehat.
Srati kawanan kerbau keraton, Utomo Gunadi (46) mengungkapkan, kelahiran gudel dari pasangan kerbau Nyi Panggung dan Ki Alim itu tak merepotkan seperti yang terjadi sebelumnya. Selain sudah waktunya melahirkan, proses kelahirannya berjalan singkat. “Sekitar satu setengah jam setelah kelahirannya, anak kerbau itu sudah mampu berdiri. Selain karena alami dan naluri induknya yang mau merawat anaknya dengan baik. Proses kelahiran gudel kali ini tak begitu banyak adanya campur tangan manusia,” katanya kepada posmo di kompleks Sitinggil selatan di mana kerbau itu berada.
Di usianya yang baru lima hari, pertumbuhan anak kerbau tersebut cukup menggembirakan. Kondisinya sehat dan normal. Bahkan, anak kerbau dengan ules pancal atau terdapat belang putih pada kakinya itu kini sudah berjalan lumayan jauh mengikuti induknya. “Meski anak kerbau yang dilahirkan kali ini kondisinya cukup baik dan normal, namun tetap dalam pengawasan drh Hardiyanto yang bertugas mengawasi kesehatan kerbau milik keraton,” imbuhnya.
Dengan kelahiran anak kerbau tersebut berarti kawanan kerbau milik keraton yang oleh masyarakat luas masih dikeramatkan itu sekarang menjadi 12 ekor. Dari jumlah itu terbagi menjadi dua kelompok, yakni enam kerbau yang kini berkeliaran di alun-alun selatan dan empat kerbau pengembalian dari Madiun yang kini salah satu induknya melahirkan gudel tersebut dan ditempakan di dalam pagar Sitinggil. Sementara itu, seekor kerbau jantan lainnya kini tetap berkeliaran di daerah Grogol, Sukoharjo dan tak mau pulang ke keraton.
Menurut Gunadi, enam kerbau yang berkeliaran di alun-alun selatan itu merupakan kerbau yang biasa digunakan sebagai cucuk lampah dalam ritual Suroan. Sementara itu, empat kerbau yang tak mau bercampur dengan gerombolan enam kerbau lainnya itu dulunya dipinjam oleh seseorang di Madiun. Karena melalui isyarat gaib kerbau itu ingin pulang ke keraton, akhirnya empat kerbau tersebut dikembalikan dan kini berada di Keraton Surakarta. “Untuk kelahiran anak kerbau yang berasal dari Madiun ini warnanya hitam, tidak bule seperti lainnya,” terang Gunadi.
Disinggung proses kelahiran anak kerbau kali ini, Gunadi mengaku sebelumnya pernah mendapati firasat khusus. Jelasnya, sebelum Nyi Panggung melahirkan, dua malam berturut-turut ia bermimpi sama persis, yakni seperti tangannya mengambil sebuah batu segi empat berwarna biru di dalam air baskom. “Setelah mimpi yang terakhir dan terbangun dari tidur, saya sudah mendapati induk kerbau dalam keadaan mau melahirkan, bahkan kedua kaki gudel itu sudah kelihatan,” imbuhnya.
Wilujengan Lengkap
Kelahiran anak kerbau berjenis kelamin jantan ini kenyataannya mendapatkan perhatian khusus dari keraton. Sebagai bukti, setelah lima hari kelahirannya, keraton menggelar upacara adat berupa wilujengan terhadap anak kerbau tersebut.
Sebagaimana sering dikenakan pada anak manusia yang baru dilahirkan, upacara adat terhadap kelahiran anak kerbau klangenan keraton itu malah terkesan cukup istimewa. Yakni berupa wilujengan dengan sesaji pepak alit. Di antaranya berupa ketan empat warna, pisang raja setangkep, bubur merah dan putih, jajan pasar, apem, dan lainnya. “Selama saya menjadi srati kerbau klangenan keraton ini baru sekarang menjumpai upacara wilujengan sebesar itu. Sebelumnya hanya dengan wilujengan kecil-kecilan,” terang Gunadi.
Ritual wilujengan sepasar terhadap anak kerbau yang baru dilahirkan itu berlangsung di Pendapa Sitinggil Selatan, Jumat (22/6) sekitar pukul 09.00 WIB. Wilujengan dipimpin langsung oleh KRAr Winarno Kusumo dan diikuti banyak abdidalem serta masyarakat luas. Dan seusai didoakan, aneka sesaji itu dibagikan kepada mereka yang berada di tempat wilujengan.
Winarno mengungkapkan, wilujengan terhadap anak kerbau yang dilahirkan ini sebenarnya merupakan upacara adat keraton yang dikenakan kepada kawanan kerbau yang merupakan salah satu pusaka milik Keraton Surakarta. “Inti dari wilujengan ini adalah agar anak kerbau tersebut bisa mendapatkan keselamatan serta tumbuh normal dan sehat. Bagaimanapun keberadaan kerbau keturunan Kiai Slamet ini harus dipertahankan,” katanya.
Menurut dia, upacara adat keraton yang dikenakan kepada kerbau keraton tak hanya bagi yang baru saja dilahirkan. Bagi kerbau yang meninggal pun diperlakukan sama, yakni dengan upacara adat keraton. Seperti sebelum dikuburkan, kerbau itu terlebih dulu dimandikan lantas dikafani seperti halnya manusia.
Gunadi menambahkan, dalam wilujengan tersebut juga dilakukan pemberian nama pada anak kerbau yang baru dilahirkan. “Anak kerbau itu dinamai Senin. Nama tersebut dimaksudkan untuk memudahkan mengingat hari kelahirannya, di samping untuk mengenali ciri masing-masing kerbau,” tukas Gunadi. irul sb