Adalah Sarpakenaka, adik wanita Raja Alengka Prabu Dasamuka. Ia menjalani poliandri, bersuami dua, Ditya Karadusana dan Ditya Kala Nopati. Karena libidonya sangat besar, dia juga punya PIL (pria idaman lain) Kala Marica. Meski demikian, dia masih jatuh cinta pada Raden Laksmana Widagdo, adik Prabu Rama.
Sejak kecil, Sarpakenaka lebih akrab dengan kakak sulungnya, Dasamuka. Sebab, sama-sama menyukai hidup hura-hura bergelimang harta dan keserakahan. Keduanya berbeda jauh dengan sifat dua saudara lainnya, yakni Kumbakarna dan Gunawan Wibasana. Meski berwujud raksasa, Kumbakarna berjiwa ksatria sejati sebagaimana adik bungsunya, Gunawan Wibisana yang berwujud manusia.
Kebiasaan berfoya-foya dan begadang membuat Sarpakenaka terjerumus dalam pergaulan bebas. Dia lupa ibadah pada Gusti Kang Akarya Jagad (Tuhan Yang Mencipta Alam). Yang dikejarnya hanya kenikmatan dan kesenangan duniawi saja. Apalagi dengan kesaktiannya yang luar biasa, dia suka sewenang-wenang dan semena-mena terhadap rakyat kecil.
Sesuai namanya, Sarpakenaka sangat menyeramkan. Sarpa berarti ular, sedangkan kenaka berarti kuku. Dengan demikian, Sarpakenaka berarti kuku ular. Dia memang punya kesaktian, kukunya mengandung upas (berbisa) layaknya bisa ular. Kalau sampai menggores orang akibatnya akan sangat fatal. Orang itu akan tewas karena keracunan bisa tersebut.
Sebagai adik raja, Sarpakenaka sering memanfaatkan kesempatan dan fasilitas kerajaan. Padahal, itu semua dilakukan hanya untuk memuaskan kesenangannya. Kebiasaannya yang mata keranjang dan tak tahan melihat pria tampan atau perkasa, membuatnya sering jatuh ke pelukan jagoan-jagoan Alengka.
Dari sekian banyak jagoan dan perwira perang Alengka, terdapat dua raksasa yang menjadi pilihan Sarpakenaka untuk dijadikan suami. Yakni Ditya Karadusana dan Ditya Kala Nopati. Keduanya dijadikan suami sah oleh Sarpakenaka. Dengan menjalani poliandri itu, dia sangat berharap dapat terpuaskan kebutuhan biologisnya. Mengingat, Sarpakenaka memang tergolong wanita hiperseks. Ditya Karadusana dan Ditya Kala Nopati secara bergiliran ‘ditiduri’ Sarpakenaka.
Tampaknya, dengan bersuami dua orang pun Sarpakenaka tidak pernah terpuaskan. Padahal, kedua suaminya itu tergolong raksasa yang tampan, perkasa dan tidak macam-macam. Keduanya seakan-akan memasrahkan hidupnya untuk ‘melayani’ Sarpakenaka yang dianggapnya sebagai majikan (tuan)-nya.