Indonesia Rindukan Kejayaan Majapahit
Tatkala negara mengalami carut-marut, ekonomi terpuruk, kerusuhan terjadi di mana-mana, musibah silih berganti tak pernah henti, pemimpin kehilangan legitimasi rakyat, maka yang terjadi adalah kerinduan. Rindu masa lalu. Masa kejayaan bangsa. Yaitu masa Kerajaan Majapahit. Seperti apa kejayaan kala itu?
Majapahit adalah kerajaan besar di masanya. Dua tokoh besar, Hayam Wuruk dan Gajah Mada, jadi simbol keemasannya. Angkatan perangnya perkasa, Nusantara disatukan. Republik Indonesia berdiri di atas peninggalan Majapahit yang agung itu. Namun kini negeri ini sedang terpuruk. Kepemimpinan nasional tak lagi dapat dipercaya. Benarkah karena kualat leluhur? Atau terkena kutukan sumpah palapa?
Dalam catatan sejarah, kerajaan besar ini berdiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Tanah Jawa bagian timur adalah pusatnya. Majapahit dikenal sebagai kerajaan terbesar dalam catatan sejarah Nusantara. Angkatan perangnya tangguh dan pilih tanding. Karenanya, Majapahit berhasil menguasai sebagian besar pulau Jawa, Madura, Bali, bahkan konon seluas wilayah NKRI sekarang ditambah Malaka.
Kitab Nagarakertagama mencatat zaman keemasan itu. Bahwa harumnya Majapahit, terjadi semasa diperintah Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Selain itu, Majapahit selalu dikenang kebesarannya karena jasa Patih Gajah Mada. Berkat dialah angkatan perang Majapahit, terutama angkatan lautnya, menjadi kokoh dan digdaya. Namun setelah masa itu, sejarah Majapahit menjadi tak jelas.
Masih menurut catatan sejarah bahwa Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi dua sektor itu. Dalam catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua. Sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi.
Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata. Kondisi itu menggambarkan bila Majapahit pada masa itu berada dalam kemakmuran, melalui simbol istana rajanya.
Sektor pemerintahan, Majapahit ditulis sejarah sebagai kerajaan yang struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur. Itu terjadi pada masa pemerintahan dipimpin Hayam Wuruk. Pola demikian tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya. Kala itu, raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi. Raja dibantu sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan. Putra dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi.
Perintah raja diturunkan kepada pejabat-pejabat di bawahnya, yaitu Rakryan Mahamantri Katrini (biasanya dijabat putra-putra raja), Rakryan Mantri ri Pakira-kiran (dapat dikatakan sebagai dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan), para Dharmmadhyaksa (pejabat hukum keagamaan), dan para Dharmma-upapatti (pejabat keagamaan).
Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, disebut Bhattara Saptaprabhu. Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, di bawah raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah yang disebut paduka bhattara. Mereka biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat raja dan bertugas mengumpulkan penghasilan kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan kerajaan di wilayahnya masing-masing.
Bayang-Bayang Majapahit
Seperti diungkap spiritualis Ki RM Dewo, ada satu yang pantas diingat dari kebesaran Majapahit. Yakni angkatan perangnya, dalam hal ini angkatan laut yang sangat tangguh. Kondisi seperti ini terjadi ketika Patih Majapahit dijabat oleh Gajah Mada. "Di tangan pria misterius bertangan besi ini, Majapahit menjadi kerajaan yang perkasa dan besar," kata spiritualis yang masih keturunan Brawijaya VII ini.
Menurut Ki Dewo, keterpurukan Indonesia saat ini karena tidak meniru pola yang diterapkan Majapahit. Pola angkatan bersenjata yang menitikberatkan pada pertahanan laut, sangat pantas diterapkan di Indonesia. Sebab sebagai negara kelautan dengan ratusan pulaunya, Republik Indonesia sangat rentan infiltrasi asing. "Kita lihat dengan mudahnya kekayaan laut dan hasil pulau-pulau kita dikuasai negara lain. Itulah kelemahan besar kita," ujar Ki Dewo.
Semasa pemerintahan Gus Dur, terang Ki Dewo, pusat kekuatan angkatan bersenjata kita pernah diarahkan pada kekuatan laut. Antara lain dengan diangkatnya Panglima TNI dari unsur angkatan laut. Itu menunjukkan perhatian Gus Dur pada sektor kelautan yang perlu perhatian besar. "Tapi sayang hal itu seperti putus di tengah jalan. Terbukti cita-cita memperkuat sektor kelautan tidak berkesinambungan pada pemerintahan berikutnya," imbuh Ki Dewo.
Kalau saja Indonesia mau menerapkan titik pangkal kekuatan pada sektor laut, ungkap Ki Dewo, niscaya Indonesia akan berjaya. Karena laut dan pulau-pulau yang berserakan di nusantara ini, menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. "Andai saja kekayaan itu bisa digali, bukan tidak mungkin Indonesia bisa jadi negara yang kaya," katanya.
Keterpurukan Indonesia saat ini, antara lain disebabkan tidak mau bercermin pada Kerajaan Majapahit. Apalagi sikap mental pemimpin dan para pejabat di Indonesia yang hanya ingin mencicipi manisnya saja. Tidak seperti apa yang dilakukan Patih Majapahit, Gajah Mada. "Prinsip pejabat di kerajaan Majapahit itu pantas ditiru. Para pimpinan negeri ini kualat kepada Gajah Mada sehingga Indonesia terpuruk," ungkap Ki Dewo.
Patih Gajah Mada dengan sumpah palapanya, menjadi contoh seorang pemimpin sejati. Dialah panglima perang yang benar-benar mengabdi kepada negaranya, bukan mengabdi pada kepentingan dirinya. Ia tidak akan pernah mencicipi manisnya jabatan, sebelum tugas-tugasnya dilaksanakan terlebih dahulu. "Coba saja bandingkan prinsip tersebut dengan para pemimpin atau pejabat kita saat ini," papar Ki Dewo.
Kalau saja Indonesia mau mengubah pola pengelolaan negaranya, beber Ki Dewo, pasti keterpurukan akan segera diatasi dan kejayaan akan diraih. Caranya dengan bercermin pada bayang-bayang Majapahit. Di antaranya mulai mengelola sektor agraris yang bertumpu pada potensi kelautan dan pertanian dengan mengelola bumi sebaik-baiknya.
Ki Dewo menyayangkan karena yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Pemimpin dan pengelola negara saat ini justru menggantungkan pengelolaan negara kepada bantuan asing. Padahal sesungguhnya itu merupakan perangkap yang bakal menjerumuskan Indonesia ke ambang kehancuran. Seharusnya, kita mulai mengelola kekayaan alam sendiri semaksimal mungkin. Karena dengan cara seperti itu, kita tidak akan kelaparan. "Bukankah di Indonesia banyak orang-orang pintar. Kenapa mereka tidak dikerahkan untuk memikirkan masalah pengelolaan alam," cetus Ki Dewo.
Keterpurukan Indonesia, masih kata Ki Dewo, memang karena pemimpinnya kualat. Di antaranya dengan menelorkan kebijakan pengelolaan sumber daya alam kepada pihak asing. Contoh paling menyedihkan adalah kasus PT Freeport. Ditambah beberapa kebijakan lain yang menyerahkan alam Indonesia untuk digarap pihak asing. Kebijakan yang sifatnya sementara itu justru akan merugikan Indonesia jangka panjang. Yang akan merasakan dampaknya nanti adalah anak cucu kita.
Maka, untuk mengangkat kutukan karena kualat kepada alam ini, pemerintah harus segera melakukan langkah-langkah kebijakan yang berani. Di antaranya menyetop masuknya kekuatan asing yang hanya akan mengeruk kekayaan Nusantara. Kemudian mengerahkan seluruh kemampuan bangsa Indonesia untuk mengolah potensi-potensi yang terkandung di bumi pertiwi. "Dengan cara itu, Indonesia akan lepas dari kutukan karuhun dan segera akan mencapai kejayaan," harap Ki Dewo. eko risanto
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Membandingkan RI dengan Majapahit
Kekuatan mistis kejayaan Majapahit sepertinya menarik pemimpin Nusantara saat ini. Pada hari Rabu, 20 Juni lalu, Presiden SBY meresmikan Gedung Arca Museum Nasional Jakarta yang notabene isinya sebagian merupakan peninggalan sejarah Majapahit.
Dalam sambutannya, presiden antara lain menyatakan, dalam berpikir dan bertindak kita sudah biasa melakukan penilaian salah-benar. Kita juga biasa berpikir tentang baik-buruk.
“Akan tetapi, kita sering mengabaikan penilaian soal indah dan tak indah, yang sering disebut sebagai penilaian estetika. Padahal penilaian ini juga penting dan dapat menjadikan kita manusia yang lebih beradab,” kata Presiden.
Menurut Presiden SBY, museum merupakan tempat yang tepat untuk mengasah kepekaan soal keindahan. ”Karena itu, saya imbau agar anak-anak sekolah lebih sering dibawa ke museum. Acara kunjungan ke museum sebaiknya juga jadi agenda tetap setiap keluarga,” tuturnya.
Gedung arca yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat No.12, Jakarta itu merupakan gedung baru yang dibangun sebagai bagian dari perluasan gedung Meseum Nasional. Gedung berlantai tujuh yang dibangun sejak 1996 itu terletak di sisi utara gedung museum yang lama peninggalan Belanda.
Presiden juga membuka pameran “Majapahit Puncak Peradaban Nusantara Abad 13-14 Masehi”. Pameran itu digelar di lantai dasar Gedung Arca, yang juga menjadi tempat pameran tetap sebagian benda koleksi Museum Nasional, yang seluruhnya berjumlah 141.899 potong.
Benda-benda yang dipamerkan adalah hasil penyelamatan, pengamanan, dan penelitian Direktorat Peninggalan Purbakala, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Selain itu, dipamerkan juga maket Kota Majapahit dan rumah tinggal di Majapahit.
Kejayaan Majapahit
Kerajaan Majapahit bisa menjadi besar dan agung ditunjang oleh berbagai faktor. Salah satunya yang paling utama adalah karena penguasanya benar-benar sebagai raja pinandhita. Artinya, selain menjadi politikus dan negarawan andal, seorang raja juga menduduki posisi sebagai brahmana yang mumpuni dalam hal olah spiritual.
Demikian diungkapkan Drs RM Putra Wisnu Agung Diponegoro, MSc menyikapi kebesaran dan kejayaan Majapahit tempo dulu. Selain hal tersebut, menurut dia, yang menjadikan kemegahan Majapahit karena kerajaan tersebut dipimpin oleh raja yang punya jiwa pengayom, bukan sebagai pengayem atau sebatas kata-kata untuk meninabobokan siapa saja. “Pada masa itu sifat pengayom dalam arti benar-benar bisa melindungi rakyat ini benar-benar dipegang teguh oleh raja. Selain menjadi pengayom, raja juga punya sifat diktator atau penguasa tunggal,” terang dia.
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta (UNSA) sekaligus spiritualis ini menjelaskan, pada masa Kerajaan Majapahit, sebelum menjadi raja, calon-calon raja harus melakukan olah batin yang sangat dahsyat yang dibimbing langsung oleh pemuka brahmana. Didikan tersebut dimulai sejak kecil hingga menjelang dewasa. Sebagai contoh seperti yang dialami oleh Raden Wijaya yang mampu mendirikan negara besar dan Prabu Hayam Wuruk yang bisa membawa Majapahit ke zaman kencana rukmi (kejayaan).
Sebagai raja yang mumpuni dalam babakan spiritual, sampai sekarang petilasan-petilasan atau bekas pertapaannya yang berada di wilayah Mojokerto masih meninggalkan pancaran gaib yang amat kuat. “Banyak ahli spiritual Jawa yang mengakui kekuatan atau daya sakti leluhur-leluhur Majapahit yang sampai sekarang masih ikut melindungi bekas-bekas wilayahnya,” imbuhnya.
Wisnu mengakui, meski RI dan Majapahit sama-sama sebagai negara berdaulat, namun Majapahit bisa menjadi negara besar dan disegani negara-negara lain. Sementara RI senantiasa dihadapkan pada keterpurukan dan sulit menirunya. Hal tersebut, menurut dia, didasari perbedaan-perbedaan yang mencolok. Pada zaman Majapahit, meski rakyat tidak melu handarbeni negara, namun pemimpin/raja benar-benar punya loyalitas dan dedikasi yang kuat untuk menjunjung tinggi panji-panji Majapahit.
Begitu pula ketaatan kepada raja dan disiplin memegang astabrata dan ajaran-ajaran filosofi kenegaraan yang tertancap kuat dalam sanubari pada setiap aparat kerajaan membuat Majapahit dari abad 13 – 15 tak pernah terjadi konflik yang berarti. “Itu semua tak terlepas dari sifat hangayomi dari raja atau pemimpinnya, di samping karena jiwa politikus dan negarawan yang kuat,” tukas Wisnu.
Kenyataan tersebut berbalikan dengan Republik sekarang. Sejak Republik ini muncul sampai sekarang relatif hanya punya dua pemimpin yang punya sifat kenegarawanan dan politikus andal, yakni Bung Karno dan Soeharto. Bung Karno menonjol sebagai negarawan dan politikus ulung dan Soeharto didukung jiwa pengayom selain sebagai politikus dan negarawan. Sebagai bukti Soeharto kuat mengayomi Indonesia selama 32 tahun lamanya. “Setelah dua pemimpin itu jatuh, sampai sekarang belum ada pemimpin yang punya jiwa politikus dan negarawan apalagi sebagai pengayom,” terang Wisnu.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara saat ini rasanya RI sulit meniru Majapahit. Sebab, diakui atau tidak, Republik sekarang tidak menuju ke arah perbaikan. Sebaliknya cenderung menuju arah perpecahan seperti disiratkan dengan tidak memahami otonomi daerah. Berbeda dengan Majapahit, otonomi daerah diserahkan sepenuhnya kepada wilayah yang menjadi jajahannya. Namun demikian tetap memiliki loyalitas tinggi kepada raja.
Untuk itu, agar bisa menjadi baik, Indonesia harus mulai lagi dipimpin oleh satria piningit yang memiliki watak pemberani dan tegas sekaligus punya jiwa pengayom. Dalam hal pengayom, pemimpin harus bisa mengayomi para brahmana dalam arti memberi kebebasan kepada para umat yang ingin menyembah Tuhannya. Selain itu juga mengayomi para satria atau aparat pemerintahan dan rakyat banyak.
Menurut Wisnu, membedakan Majapahit dengan Republik sekarang memang jauh perbedaannya. Meski sama-sama sebagai negara berdaulat, Majapahit merupakan negara yang mandiri dan swasembada. Sebagai bukti Majapahit tak mau bekerja sama apalagi tunduk kepada negara asing. Segala persoalan dalam negeri diatasi sendiri entah bagaimana caranya. Tak mau meminta bantuan pihak luar. “Yang membanggakan Majapahit tak pernah takut kepada siapapun. Sekalipun kepada Mongolia waktu itu, Majapahit tak pernah gentar,” jelasnya.
Sementara dalam konteks kekinian Republik ini seakan tak berharga di mata negara lain. Indonesia belum bisa menunjukkan kemandirian hingga mudah diintervensi pihak asing. Karenanya Republik ini sulit menjadi negara besar selama campur tangan asing masih kuat menancapkan kuku-kukunya. “Selain pengaruh asing yang rasanya tak bisa dilepaskan dari Republik ini, hal lain yang menghambat perkembangan menuju negara besar adalah minimnya negarawan sejati di antara merebaknya para politikus saat ini,” tukas Wisnu sembari menegaskan bahwa para politikus kenyataannya masih cenderung mementingkan golongan/kelompoknya sendiri.
Untuk itu, agar negara ini bisa menjadi lebih baik dan besar hendaknya presiden punya jiwa raja
pinandhita. Maknanya, sebagai pemimpin negara Presiden seharusnya punya keberanian dan ketegasan dalam segala tindakannya sebagaimana eksistensi seorang raja sejati. Sementara aparat pembantunya memiliki jiwa satria pinandhita. “Sifat raja pinandhita dan satria pinandhita ini menjadi kebutuhan mutlak bagi presiden dan para aparat pemerintahan jika menginginkan negara ini menjadi besar,” tandas Wisnu.
irul sb/tomyk