kiri
atas
 

Ritual Mistis Hantarkan Kejayaan Majapahit

Dari sekian banyak peninggalan Kerajaan Majapahit, lantas apa sebenarnya yang sangat berperan dalam menopang kejayaan di masa lampau? Selain melakukan berbagai intrik politik dan menggunakan kekuatan pasukan serta strategi perangnya, unsur mistis ternyata sangat dominan dalam mendukung Majapahit meraih zaman keemasan. Benarkah?

Memang benar. Leluhur kita tidak pernah meninggalkan bahkan mengesampingkan masalah spiritual. Dunia spiritual malahan dianggap sangat penting untuk dijadikan rujukan sebelum seorang pemimpin tersebut mengeluarkan keputusan atau tindakan. Dunia spiritual pun dianggap sebagai pembangkit semangat yang mampu memberikan kekuatan di luar nalar manusia. Alhasil, hingga saat ini peninggalan berupa alat-alat ritual pun masih banyak ditemukan di pelosok Nusantara ini, sementara ajaran-ajaran pemimpin masa lalu pun sedikit banyak masih dilakoni oleh para pemimpin masa kini meski dengan sembunyi-sembunyi.

“Tak bisa disangkal lagi bahwa sesungguhnya dari sekian banyak peninggalan Kerajaan Majapahit, kita lihat yang sangat mengagumkan adalah peninggalan berupa banyaknya arca-arca sesembahan dan alat-alat ritual atau yang hampir sebagian besar ada hubungannya dengan masalah mistik. Karena dalam keyakinan saya memang benar, unsur mistik itu sangat dominan dimiliki pemimpin Kerajaan Majapahit. Mungkin bila tidak ada unsur mistik, kita tidak akan pernah melihat adanya kejayaan Majapahit dan peninggalannya saat ini seperti yang kita lihat bersama,” ujar Empu Pitrang pada posmo di Museum Nasional.

Dewi Parwati
Untuk melihat adanya kejayaan Majapahit di masa lalu dalam kacamata gaib adalah dengan melihat beberapa arca dewa yang dipercaya menggambarkan masa kejayaan Majapahit tempo dulu. Salah satunya adalah Arca Dewi Parwati. Arca ini menggambarkan sosok dewi istri Siwa, ia bertangan 4, kanan belakang membawa camara, sedangkan kiri belakang membawa tasbih, tangan-tangan depan berada di depannya penuh membawa bunga. Sikap ini menunjukkan bahwa arca ini adalah arca perwujudan, yaitu menggambarkan seorang permaisuri yang sudah meninggal dunia dengan digambarkan sebagai dewa yang dipuja semasa hidupnya.

Sementara lain banyak juga arca-arca yang dibuat dari batu putih, meliputi arca binatang, arca manusia, dan arca dewa. Arca-arca itu digunakan untuk dipuja, untuk hiasan dalam rumah dan lainnya. “Hal ini menandakan bahwa hampir semua unsur dalam kehidupan di zaman Majapahit tidak pernah lepas dengan masalah spiritual atau masalah mistik. Karena semua itu berkaitan dengan masalah keyakinan yang pada akhirnya membawa sebuah kekuatan yang notabene membuat Majapahit menjadi kekuatan ekstra, yakni kekuatan nyata dan gaib,” ujar spiritualis ini.

Mangkuk Air dan Pedupaan
Selain banyaknya arca yang menjadi peninggalan Majapahit, beberapa alat untuk ritual pun juga ditemukan. Yakni Tempat Air Suci, di mana tempat ini bentuknya seperti mangkuk dengan dinding tinggi. Bagian atas melebar pada sisinya dihias dengan untaian hiasan yang menonjol. Pada sisi ini terdapat cucuk. Lubang mulutnya kecil, biasanya tempat air suci ini diletakkan diatas sebuah lingkaran dengan ‘kaki tiga’ yang dihias dengan sulur-suluran atau ‘lidah api’ kemungkinan dahulu tempat air suci jenis ini memiliki tutup. Benda ini dipakai dalam upacara atau ritual keagamaan.

Sementara benda lainnya yang menunjang dalam melakukan ritual adalah alat Pedupaan. Pedupaan adalah alat untuk menempatkan api untuk dipakai membakar dupa. Asap dupa yang berbau wangi dipercaya sebagai pengantar doa supaya sampai kepada dewa, dari ramuan yang apabila dibakar asapnya berbau wangi.

Pedupaan yang dibuat dari perunggu, memiliki tangkai pegangan yang mungkin dibuat dari kayu. Wadah pedupaan mungkin tertutup, tutupnya berlubang-lubang sebagai jalan keluarnya asap. Bentuk pedupaan dipakai dalam upacara atau ritual para penganut Buddha atau Hindu.

Prasen
Hal lain yang cukup mencengangkan adalah adanya ramalan untuk melihat rasi. Rasi tersbut sudah ada dalam ramalan yang tertuang dalam sebuah Prasen, kata Prasen berasal dari bahasa Sansekerta yakni rasi yang berarti zodiak atau perbintangan. Prasen merupakan suatu wadah dengan dinding lurus, semakin keatas semakin besar, pada dasar Prasen dibagian dalam terdapat hiasan relief menggambarkan Matahari. Pada dinding luar terdapat 2 deret relief yang menggambarkan 12 rasi.

Deretan atas menggambarkan perbintangan Jawa asli. Sedangkan bagian bawah menggambarkan perbintangan berasal dari India (dari Bangsa Aria), yang penggambarannya hampir sama dengan penggambaran perbintangan dari Romawi sebagaimana yang kita pergunakan sekarang. Seringkali terdapat relief yang merupakan angka tahun yang paling tua adalah dari tahun 1321 M.

Prasen digunakan sebagai wadah air suci dalam upacara keagamaan untuk kemudian dipercikkan air sucinya kepada umat yang sedang bersembahyang atau kepada tempat-tempat tertentu untuk mensucikannya.

Nekara Perunggu
Nekara perunggu merupakan benda prasejarah yang berasal dari sekitar 2500 tahun lalu. Nekara ini kemungkinan dibuat di Vietnam karena pada salah satu tympanium nekara yang dipamerkan terdapat tulisan china kuno. Di Indonesia nekara-nekara ini ditemukan di Kep. Maluku, Nusa Tenggara, Jawa dan lain lain. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara Indonesia dan Vietnam masa lalu.

Benda ini dipakai sebagai genderang yang dianggap memiliki kekuatan, magis dan dapat dipakai sebagai alat untuk memanggil hujan, genderang perang, dan sebagai benda yang menaikkan status social pemiliknya. pada bidang pukul dibagian tengahnya terdapat hiasan ‘matahari’ dikelilingi oleh hiasan geometris dan burung bangau, atau sering terdapat pula hiasan patung kodok yang dianggap memiliki lambang air. Pada bahu, badan dan kaki, sering dihias dengan hiasan geometris, perahu roh, macam-macam binatang. tommyk ardyan

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Empu Pitrang Susilo
Getaran Munculnya Majapahit II

 Kamis Wage, 21 Juni lalu, bagi posmo merupakan waktu yang istimewa ketika berkelana mengarungi ritual gaib yang dilakoni oleh Empu Pitrang Susilo di sekitar Museum Arca atau Museum Nasional di kawasan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Dalam ritual tersebut getaran mistik sangat kentara dalam bayangan aura reruntuhan kerajaan Majapahit yang menjadi saksi bisu masa keemasan Nusantara.

Awal memasuki gerbang museum berbalut warna putih ini, aura anyep (dingin) langsung menerpa sekujur tubuh. Meski hawa Jakarta panas, namun tidak demikian di peraduan baru reruntuhan kebesaran Majapahit ini. “Sabar. Jangan masuk dulu. Ini ada barisan tentara Majapahit yang memasuki ‘kerajaan’,” ujar Empu Pitrang menahan posmo untuk memasuki gerbang utama museum.

Bagaimana Anda tahu ada pasukan Majapahit (pasukan gaib) yang lewat? Sembari menengadahkan tangan kanannya, bibir Empu Pitrang tampak komat-kamit. Sementara tangan kirinya langsung merogoh sebuah buntelan kain kumel (bungkusan kain putih kusut dan dekil). Setelah membacakan beberapa mantra, akhirnya mata yang semula tertutup akhirnya terbuka dengan dibarengi meniupkan udara ke arah isi buntelan yang ternyata sebuah kepingan logam sebesar badan telapak tangan.

“Getaran koin ini yang bisa membuat kita tahu apa yang ada di sekitar kita. Dan karena tadi koin ini bergetar kencang, maka sudah pasti itu merupakan barisan prajurit Majapahit yang berjalan memasuki museum. Kenapa koin ini bisa menandakan getaran gaib tersebut? Karena koin ini berasal dari kebesaran kerajaan Majapahit ini. Koin ini merupakan sebagian harta karun peninggalan sejarah Majapahit,” ujar Empu Pitrang seraya menarik napas panjang. tomyk ardian

Gus Malik, Pimpinan Ponpes Sambungsari Notoprodjo
Tak Mudah Bangun Majapahit II
Bukan perkara mudah mewujudkan Nusantara menjadi jaya. Meski usia negeri ini sudah separoh abad lebih. Bencana dan prahara datang silih berganti mewarnai kehidupan ibu pertiwi. Sejatinya, apa yang dibutuhkan negeri ini agar tercipta kehidupan adil makmur dan terhindar dari musibah?

“Musibah yang sudah terjadi ini, jumlahnya masih sekitar sepuluh persen dari jumlah keseluruhan,” katanya di pondoknya, Desa Mojosari, Pekukuhan, Mojokerto, Jatim. Dikisahkan olehnya, kejayaan kerajaan Majapahit dengan Rajanya Raden Wijaya dan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan sumpah saktinya Amukti Palala – menyatukan panji-panji Nusantara di bawah payung Kerajaan Majapahit tak lagi bisa diteladani oleh umat

”Ini sama artinya, umat yang ada saat ini sangat sulit untuk disatukan. Apa karena pemimpinnya yang tidak cakap, atau rakyatnya yang susah diatur atau memang dua-duanya sama-sama sulitnya, saya kurang paham,” jelasnya.

Namun, sambung Gus Malik -- sapaan akrapnya, kalau semuanya mau berkaca pada alam, besar kemungkinan prahara atau musibah lambat, tapi pasti bakal sirep (berhenti). Alam, menurutnya, memiliki siklus (perjalanan) hidup yang permanen, tidak pernah melenceng juga berhenti. Tapi, ulah manusia pada akhirnya yang mengubah siklus itu hingga membuat alam jadi murka dan menurunkan azabnya.

Nusantara ini sejatinya masih kaya meski Majapahit sudah lama runtuh. Tapi karena dihuni oleh banyak angkara murka, kekayaan yang banyak itu jadi muspro (tidak ada artinya, Red) karena dikelola dengan cara yang keliru. Tidak untuk kemakmuran umat, melainkan dikorupsi oleh petinggi negeri ini.

Tapi yang juga perlu diingat, runtuhnya Majapahit juga karena ulah rajanya sendiri dan untuk mengedepankan Majapahit di zaman sekarang, untuk para tokoh di negeri ini memang bukan perkara mudah. ”Karena apa, takut dicap sebagai penganut kejawen seperti Majapahit dulu,” katanya. edy whien/mufid
 
 

Indonesia Rindukan Kejayaan Majapahit

Tatkala negara mengalami carut-marut, ekonomi terpuruk, kerusuhan terjadi di mana-mana, musibah silih berganti tak pernah henti, pemimpin kehilangan legitimasi rakyat, maka yang terjadi adalah kerinduan. Rindu masa lalu. Masa kejayaan bangsa. Yaitu masa Kerajaan Majapahit. Seperti apa kejayaan kala itu?

Majapahit adalah kerajaan besar di masanya. Dua tokoh besar, Hayam Wuruk dan Gajah Mada, jadi simbol keemasannya. Angkatan perangnya perkasa, Nusantara disatukan. Republik Indonesia berdiri di atas peninggalan Majapahit yang agung itu. Namun kini negeri ini sedang terpuruk. Kepemimpinan nasional tak lagi dapat dipercaya. Benarkah karena kualat leluhur? Atau terkena kutukan sumpah palapa?

Dalam catatan sejarah, kerajaan besar ini berdiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Tanah Jawa bagian timur adalah pusatnya. Majapahit dikenal sebagai kerajaan terbesar dalam catatan sejarah Nusantara. Angkatan perangnya tangguh dan pilih tanding. Karenanya, Majapahit berhasil menguasai sebagian besar pulau Jawa, Madura, Bali, bahkan konon seluas wilayah NKRI sekarang ditambah Malaka.

Kitab Nagarakertagama mencatat zaman keemasan itu. Bahwa harumnya Majapahit, terjadi semasa diperintah Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Selain itu, Majapahit selalu dikenang kebesarannya karena jasa Patih Gajah Mada. Berkat dialah angkatan perang Majapahit, terutama angkatan lautnya, menjadi kokoh dan digdaya. Namun setelah masa itu, sejarah Majapahit menjadi tak jelas.

Masih menurut catatan sejarah bahwa Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi dua sektor itu. Dalam catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua. Sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi.

Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata. Kondisi itu menggambarkan bila Majapahit pada masa itu berada dalam kemakmuran, melalui simbol istana rajanya.

Sektor pemerintahan, Majapahit ditulis sejarah sebagai kerajaan yang struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur. Itu terjadi pada masa pemerintahan dipimpin Hayam Wuruk. Pola demikian tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya. Kala itu, raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi. Raja dibantu sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan. Putra dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi.

Perintah raja diturunkan kepada pejabat-pejabat di bawahnya, yaitu Rakryan Mahamantri Katrini (biasanya dijabat putra-putra raja), Rakryan Mantri ri Pakira-kiran (dapat dikatakan sebagai dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan), para Dharmmadhyaksa (pejabat hukum keagamaan), dan para Dharmma-upapatti (pejabat keagamaan).

Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, disebut Bhattara Saptaprabhu. Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, di bawah raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah yang disebut paduka bhattara. Mereka biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat raja dan bertugas mengumpulkan penghasilan kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan kerajaan di wilayahnya masing-masing.

Bayang-Bayang Majapahit
Seperti diungkap spiritualis Ki RM Dewo, ada satu yang pantas diingat dari kebesaran Majapahit. Yakni angkatan perangnya, dalam hal ini angkatan laut yang sangat tangguh. Kondisi seperti ini terjadi ketika Patih Majapahit dijabat oleh Gajah Mada. "Di tangan pria misterius bertangan besi ini, Majapahit menjadi kerajaan yang perkasa dan besar," kata spiritualis yang masih keturunan Brawijaya VII ini.

Menurut Ki Dewo, keterpurukan Indonesia saat ini karena tidak meniru pola yang diterapkan Majapahit. Pola angkatan bersenjata yang menitikberatkan pada pertahanan laut, sangat pantas diterapkan di Indonesia. Sebab sebagai negara kelautan dengan ratusan pulaunya, Republik Indonesia sangat rentan infiltrasi asing. "Kita lihat dengan mudahnya kekayaan laut dan hasil pulau-pulau kita dikuasai negara lain. Itulah kelemahan besar kita," ujar Ki Dewo.

Semasa pemerintahan Gus Dur, terang Ki Dewo, pusat kekuatan angkatan bersenjata kita pernah diarahkan pada kekuatan laut. Antara lain dengan diangkatnya Panglima TNI dari unsur angkatan laut. Itu menunjukkan perhatian Gus Dur pada sektor kelautan yang perlu perhatian besar. "Tapi sayang hal itu seperti putus di tengah jalan. Terbukti cita-cita memperkuat sektor kelautan tidak berkesinambungan pada pemerintahan berikutnya," imbuh Ki Dewo.

Kalau saja Indonesia mau menerapkan titik pangkal kekuatan pada sektor laut, ungkap Ki Dewo, niscaya Indonesia akan berjaya. Karena laut dan pulau-pulau yang berserakan di nusantara ini, menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. "Andai saja kekayaan itu bisa digali, bukan tidak mungkin Indonesia bisa jadi negara yang kaya," katanya.

Keterpurukan Indonesia saat ini, antara lain disebabkan tidak mau bercermin pada Kerajaan Majapahit. Apalagi sikap mental pemimpin dan para pejabat di Indonesia yang hanya ingin mencicipi manisnya saja. Tidak seperti apa yang dilakukan Patih Majapahit, Gajah Mada. "Prinsip pejabat di kerajaan Majapahit itu pantas ditiru. Para pimpinan negeri ini kualat kepada Gajah Mada sehingga Indonesia terpuruk," ungkap Ki Dewo.

Patih Gajah Mada dengan sumpah palapanya, menjadi contoh seorang pemimpin sejati. Dialah panglima perang yang benar-benar mengabdi kepada negaranya, bukan mengabdi pada kepentingan dirinya. Ia tidak akan pernah mencicipi manisnya jabatan, sebelum tugas-tugasnya dilaksanakan terlebih dahulu. "Coba saja bandingkan prinsip tersebut dengan para pemimpin atau pejabat kita saat ini," papar Ki Dewo.

Kalau saja Indonesia mau mengubah pola pengelolaan negaranya, beber Ki Dewo, pasti keterpurukan akan segera diatasi dan kejayaan akan diraih. Caranya dengan bercermin pada bayang-bayang Majapahit. Di antaranya mulai mengelola sektor agraris yang bertumpu pada potensi kelautan dan pertanian dengan mengelola bumi sebaik-baiknya.

Ki Dewo menyayangkan karena yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Pemimpin dan pengelola negara saat ini justru menggantungkan pengelolaan negara kepada bantuan asing. Padahal sesungguhnya itu merupakan perangkap yang bakal menjerumuskan Indonesia ke ambang kehancuran. Seharusnya, kita mulai mengelola kekayaan alam sendiri semaksimal mungkin. Karena dengan cara seperti itu, kita tidak akan kelaparan. "Bukankah di Indonesia banyak orang-orang pintar. Kenapa mereka tidak dikerahkan untuk memikirkan masalah pengelolaan alam," cetus Ki Dewo.

Keterpurukan Indonesia, masih kata Ki Dewo, memang karena pemimpinnya kualat. Di antaranya dengan menelorkan kebijakan pengelolaan sumber daya alam kepada pihak asing. Contoh paling menyedihkan adalah kasus PT Freeport. Ditambah beberapa kebijakan lain yang menyerahkan alam Indonesia untuk digarap pihak asing. Kebijakan yang sifatnya sementara itu justru akan merugikan Indonesia jangka panjang. Yang akan merasakan dampaknya nanti adalah anak cucu kita.

Maka, untuk mengangkat kutukan karena kualat kepada alam ini, pemerintah harus segera melakukan langkah-langkah kebijakan yang berani. Di antaranya menyetop masuknya kekuatan asing yang hanya akan mengeruk kekayaan Nusantara. Kemudian mengerahkan seluruh kemampuan bangsa Indonesia untuk mengolah potensi-potensi yang terkandung di bumi pertiwi. "Dengan cara itu, Indonesia akan lepas dari kutukan karuhun dan segera akan mencapai kejayaan," harap Ki Dewo. eko risanto

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Membandingkan RI dengan Majapahit

Kekuatan mistis kejayaan Majapahit sepertinya menarik pemimpin Nusantara saat ini. Pada hari Rabu, 20 Juni lalu, Presiden SBY meresmikan Gedung Arca Museum Nasional Jakarta yang notabene isinya sebagian merupakan peninggalan sejarah Majapahit.

Dalam sambutannya, presiden antara lain menyatakan, dalam berpikir dan bertindak kita sudah biasa melakukan penilaian salah-benar. Kita juga biasa berpikir tentang baik-buruk.

“Akan tetapi, kita sering mengabaikan penilaian soal indah dan tak indah, yang sering disebut sebagai penilaian estetika. Padahal penilaian ini juga penting dan dapat menjadikan kita manusia yang lebih beradab,” kata Presiden.

Menurut Presiden SBY, museum merupakan tempat yang tepat untuk mengasah kepekaan soal keindahan. ”Karena itu, saya imbau agar anak-anak sekolah lebih sering dibawa ke museum. Acara kunjungan ke museum sebaiknya juga jadi agenda tetap setiap keluarga,” tuturnya.

Gedung arca yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat No.12, Jakarta itu merupakan gedung baru yang dibangun sebagai bagian dari perluasan gedung Meseum Nasional. Gedung berlantai tujuh yang dibangun sejak 1996 itu terletak di sisi utara gedung museum yang lama peninggalan Belanda.

Presiden juga membuka pameran “Majapahit Puncak Peradaban Nusantara Abad 13-14 Masehi”. Pameran itu digelar di lantai dasar Gedung Arca, yang juga menjadi tempat pameran tetap sebagian benda koleksi Museum Nasional, yang seluruhnya berjumlah 141.899 potong.

Benda-benda yang dipamerkan adalah hasil penyelamatan, pengamanan, dan penelitian Direktorat Peninggalan Purbakala, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Selain itu, dipamerkan juga maket Kota Majapahit dan rumah tinggal di Majapahit.

Kejayaan Majapahit
Kerajaan Majapahit bisa menjadi besar dan agung ditunjang oleh berbagai faktor. Salah satunya yang paling utama adalah karena penguasanya benar-benar sebagai raja pinandhita. Artinya, selain menjadi politikus dan negarawan andal, seorang raja juga menduduki posisi sebagai brahmana yang mumpuni dalam hal olah spiritual.

Demikian diungkapkan Drs RM Putra Wisnu Agung Diponegoro, MSc menyikapi kebesaran dan kejayaan Majapahit tempo dulu. Selain hal tersebut, menurut dia, yang menjadikan kemegahan Majapahit karena kerajaan tersebut dipimpin oleh raja yang punya jiwa pengayom, bukan sebagai pengayem atau sebatas kata-kata untuk meninabobokan siapa saja. “Pada masa itu sifat pengayom dalam arti benar-benar bisa melindungi rakyat ini benar-benar dipegang teguh oleh raja. Selain menjadi pengayom, raja juga punya sifat diktator atau penguasa tunggal,” terang dia.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta (UNSA) sekaligus spiritualis ini menjelaskan, pada masa Kerajaan Majapahit, sebelum menjadi raja, calon-calon raja harus melakukan olah batin yang sangat dahsyat yang dibimbing langsung oleh pemuka brahmana. Didikan tersebut dimulai sejak kecil hingga menjelang dewasa. Sebagai contoh seperti yang dialami oleh Raden Wijaya yang mampu mendirikan negara besar dan Prabu Hayam Wuruk yang bisa membawa Majapahit ke zaman kencana rukmi (kejayaan).

Sebagai raja yang mumpuni dalam babakan spiritual, sampai sekarang petilasan-petilasan atau bekas pertapaannya yang berada di wilayah Mojokerto masih meninggalkan pancaran gaib yang amat kuat. “Banyak ahli spiritual Jawa yang mengakui kekuatan atau daya sakti leluhur-leluhur Majapahit yang sampai sekarang masih ikut melindungi bekas-bekas wilayahnya,” imbuhnya.

Wisnu mengakui, meski RI dan Majapahit sama-sama sebagai negara berdaulat, namun Majapahit bisa menjadi negara besar dan disegani negara-negara lain. Sementara RI senantiasa dihadapkan pada keterpurukan dan sulit menirunya. Hal tersebut, menurut dia, didasari perbedaan-perbedaan yang mencolok. Pada zaman Majapahit, meski rakyat tidak melu handarbeni negara, namun pemimpin/raja benar-benar punya loyalitas dan dedikasi yang kuat untuk menjunjung tinggi panji-panji Majapahit.

Begitu pula ketaatan kepada raja dan disiplin memegang astabrata dan ajaran-ajaran filosofi kenegaraan yang tertancap kuat dalam sanubari pada setiap aparat kerajaan membuat Majapahit dari abad 13 – 15 tak pernah terjadi konflik yang berarti. “Itu semua tak terlepas dari sifat hangayomi dari raja atau pemimpinnya, di samping karena jiwa politikus dan negarawan yang kuat,” tukas Wisnu.

Kenyataan tersebut berbalikan dengan Republik sekarang. Sejak Republik ini muncul sampai sekarang relatif hanya punya dua pemimpin yang punya sifat kenegarawanan dan politikus andal, yakni Bung Karno dan Soeharto. Bung Karno menonjol sebagai negarawan dan politikus ulung dan Soeharto didukung jiwa pengayom selain sebagai politikus dan negarawan. Sebagai bukti Soeharto kuat mengayomi Indonesia selama 32 tahun lamanya. “Setelah dua pemimpin itu jatuh, sampai sekarang belum ada pemimpin yang punya jiwa politikus dan negarawan apalagi sebagai pengayom,” terang Wisnu.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara saat ini rasanya RI sulit meniru Majapahit. Sebab, diakui atau tidak, Republik sekarang tidak menuju ke arah perbaikan. Sebaliknya cenderung menuju arah perpecahan seperti disiratkan dengan tidak memahami otonomi daerah. Berbeda dengan Majapahit, otonomi daerah diserahkan sepenuhnya kepada wilayah yang menjadi jajahannya. Namun demikian tetap memiliki loyalitas tinggi kepada raja.

Untuk itu, agar bisa menjadi baik, Indonesia harus mulai lagi dipimpin oleh satria piningit yang memiliki watak pemberani dan tegas sekaligus punya jiwa pengayom. Dalam hal pengayom, pemimpin harus bisa mengayomi para brahmana dalam arti memberi kebebasan kepada para umat yang ingin menyembah Tuhannya. Selain itu juga mengayomi para satria atau aparat pemerintahan dan rakyat banyak.

Menurut Wisnu, membedakan Majapahit dengan Republik sekarang memang jauh perbedaannya. Meski sama-sama sebagai negara berdaulat, Majapahit merupakan negara yang mandiri dan swasembada. Sebagai bukti Majapahit tak mau bekerja sama apalagi tunduk kepada negara asing. Segala persoalan dalam negeri diatasi sendiri entah bagaimana caranya. Tak mau meminta bantuan pihak luar. “Yang membanggakan Majapahit tak pernah takut kepada siapapun. Sekalipun kepada Mongolia waktu itu, Majapahit tak pernah gentar,” jelasnya.

Sementara dalam konteks kekinian Republik ini seakan tak berharga di mata negara lain. Indonesia belum bisa menunjukkan kemandirian hingga mudah diintervensi pihak asing. Karenanya Republik ini sulit menjadi negara besar selama campur tangan asing masih kuat menancapkan kuku-kukunya. “Selain pengaruh asing yang rasanya tak bisa dilepaskan dari Republik ini, hal lain yang menghambat perkembangan menuju negara besar adalah minimnya negarawan sejati di antara merebaknya para politikus saat ini,” tukas Wisnu sembari menegaskan bahwa para politikus kenyataannya masih cenderung mementingkan golongan/kelompoknya sendiri.

Untuk itu, agar negara ini bisa menjadi lebih baik dan besar hendaknya presiden punya jiwa raja pinandhita. Maknanya, sebagai pemimpin negara Presiden seharusnya punya keberanian dan ketegasan dalam segala tindakannya sebagaimana eksistensi seorang raja sejati. Sementara aparat pembantunya memiliki jiwa satria pinandhita. “Sifat raja pinandhita dan satria pinandhita ini menjadi kebutuhan mutlak bagi presiden dan para aparat pemerintahan jika menginginkan negara ini menjadi besar,” tandas Wisnu. irul sb/tomyk

 


Keperkasaan Patih Gajah Mada

Asal usulnya misterius. Tak diketahui kapan dan di mana ia lahir. Ia memulai kariernya di Majapahit sebagai bekel. Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri. Demikian seterusnya, karier politiknya sebagai patih terus menanjak.

Pada 1329, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta & Sadeng pun akhirnya takluk. Patih Gajah Mada diangkat sebagai patih di Majapahit (1334).

Sumpah Palapa
Pada waktu pengangkatannya ia mengucapkan Sumpah Palapa. Bahwa ia baru akan menikmati palapa atau rempah-rempah yang diartikan kenikmatan duniawi, jika telah berhasil menaklukkan Nusantara. Menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka (1336 M).

Dalam kitab Pararaton, sumpah palapa itu berbunyi demikian: "Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tajungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa " ("Gajah Mada sang Maha Patih tak akan menikmati palapa, berkata Gajah Mada "Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.")

Walaupun ada sejumlah (atau bahkan banyak) orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Bedahulu (Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Di zaman Prabu Hayam Wuruk (1350-1389), Patih Gajah Mada mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Perang Bubat
Karier politiknya mulai merosot akibat Perang Bubat (1357). Dalam Kidung Sunda diceritakan bahwa hal ini bermula pada saat Prabu Hayam Wuruk hendak menikahi Dyah Pitaloka putri Sunda sebagai permaisuri. Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu.

Namun Patih Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan pihak Kerajaan Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. Dyah Pitaloka sendiri bunuh diri setelah ayahanda beserta seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran.

Akibat peristiwa itu, Patih Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya dan ia diberi pesanggrahan "Madakaripura" di Tongas, Probolinggo. Namun pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih, hanya saja ia memerintah dari Madakaripura.

Pada 1364, Gajah Mada menghilang secara misterius dan tidak pernah muncul lagi. Ada beberapa hipotesa tentang Gajah Mada di periode 1364 dan sesudahnya.

Yang pertama, diperkirakan Gajah Mada mengasingkan diri ke Lampung, dan akhirnya meninggal di Lampung. Saat ini ada pusara yang diyakini sebagai petilasan Gajah Mada di Lampung. Yang kedua, ia bergabung dengan Adityawarman yang telah menjadi penguasa Kerajaan Pagaruyung, Kerajaan Dharmasraya, Jambi, dan Palembang. Pada saat tiba di Lampung, ia membuat pusara yang seolah-olah adalah makamnya, supaya tidak dicari oleh Majapahit. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya ke utara dan bergabung dengan Adityawarman.

Yang ketiga, ia memimpin ekspedisi ke seberang lautan hingga ke Madagaskar. Asal muasal pulau tersebut memiliki nama Madagaskar, diperkirakan ada hubungannya dengan Mahapatih Gajah Mada. Penduduk asli pulau itu, etnis Merina dan Betsileo, mirip dengan penduduk asli pulau Jawa. eko risanto

     
         

         
 
Wahyu Cakraningrat

Berjaya dan Runtuhnya Majapahi
Dalam sejarah, penguasa Majapahit paling utama ialah Raja Hayam Wuruk yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya, keraton Majapahit diperkirakan telah dipindahkan ke Trowulan (sekarang masuk wilayah Mojokerto).

Gajah Mada adalah seorang patih dan bupati Majapahit dari 1331-1364, memperluas kekuasaan kekaisaran ke pulau sekitarnya. Pada tahun 1377, yaitu beberapa tahun sesudah kematian Gajah Mada, angkatan laut Majapahit menduduki Palembang, menaklukkan daerah terakhir Kerajaan Sriwijaya.

Menurut ''Kakawin Nagarakretagama'' pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi hampir seluas wilayah Indonesia modern, termasuk daerah-daerah di Sumatera bagian barat, Kepulauan Maluku, Pulau Irian/Papua bagian timur, dan beberapa negara Asia Tenggara. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Cina.

Jatuhnya Majapahit
Ibu Kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun. Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu.

 

Nagarakertagama tidak menyebut keberadaan Islam, namun tampaknya ada anggota keluarga istana yang beragama Islam pada waktu itu.

Ketika Majapahit didirikan, pedagang muslim dan para penyebar agama mulai memasuki Nusantara. Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, tenaga Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampaknya terjadi perang saudara pada tahun 1405-1406, pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, dan pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat Nusantara.

Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit oleh Girindrawardhana.

Catatan sejarah dari Cina, Portugis, dan Italia mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M. Yang kemudian berdiri Kasultanan Demak, dengan rajanya R. Patah, putra Raja Brawijaya. tommyk ardyan

 
     
 
         

   
   
Copyrights © 2007, Tabloid Posmo, All Rights Reserved