Konsep Suksesi Menurut Budaya Sunda
Salaka Domas, Jimat Para Pemimpin
Jabatan pemimpin, konon identik dengan kekuasaan. Begitupun dalam budaya Sunda, kekuasaan itu sangatlah sakral. Sehingga tidak sembarang orang dapat menduduki singasana kekuasaan. Lalu bagaimana Konsepnya?
Falsafah kekuasaan semacam ini tercermin dalam carita-carita pantun Sunda. Dan sudah amat umum dikenal, bahwa carita pantun selalu berawal dari kerajaan Pajajaran dengan rajanya yang termasyhur yakni Prabu Siliwangi. Dan falsafah itu kerap diadopsi dalam pola kepemimpinan masyarakat Sunda, utamanya bagi mereka yang masih memegang kuat nilai-nilai luhur budayanya.
Dalam konteks kepemimpinan atau kekuasaan, Raja Siliwangi menanamkan paham bahwa kekuasaan itu sebagai suatu yang bernilai luhur dan sakral. Sehingga tidak sembarang orang dapat duduk di singgasana kekuasaan. Dan satu lagi catatan dari carita pantun tersebut, yang menyiratkan nilai demokratis, bahwa kekuasaan tidak mesti dipegang oleh satu orang.
Prabu Siliwangi sebagai pemimpin dan penguasa Kerajaan Pajajaran, ternyata tidak pernah bergerak dari istananya di Pakuan. Untuk urusan-urusan “luar negeri”, sang prabu justru mengirimkan putra-putranya untuk mengembara. Tujuannya mencari negara atau kawasan baru yang akan ditempatinya sebagai pengembangan kekuasaan Kerajaan Pajajaran.
Menurut naskah Amanat dari Galunggung berisi hal-hal luhur mengenai kekuasaan seorang pemimpin di suatu daerah. Bahwa seseorang dapat menjadi penguasa di suatu daerah apabila ia menguasai kabuyutan di daerah tersebut. Kabuyutan atau mandala adalah tempat keramat (tempat suci) yang memiliki fungsi sebagai pekuburan leluhur atau tempat pemujaan.
Kabuyutan merupakan tempat yang harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan, apabila mendapat serangan dari musuh. Tanpa bisa dimungkiri lagi, pihak yang menguasai kabuyutan di daerah Jawa Barat adalah orang Sunda atau Ki Sunda. Sebab dia selain menguasai kabuyutan, ia sebagai seorang pribumi di tempat itu, tentu persis kondisi rakyat yang dipimpinnya. Sehingga apa yang menjadi keinginan rakyatnya, bisa diserap dan direalisasikan.
Salaka Domas
Dalam wilayah budaya Sunda pula, disebut-sebut jika seseorang ingin menjadi pemimpin (penguasa) di wilayah Pasundan, selain ia harus menguasai kabuyutan dan memiliki kualitas sebagai pemimpin, maka ia harus memiliki pusaka salaka domas. Konon, siapa yang mempunyai jimat salaka domas ini, maka dia bakal menjadi pemimpin masyarakat Sunda, dalam hal ini Jawa Barat.
Jimat atau pusaka salaka domas berasal dari khasanah kekuasaan pada Kerajaan Pajajaran. Ketika itu, ada syarat yang harus dipenuhi jika Pajajaran ingin jadi Kerajaan yang kuat dan makmur. Itulah wangsit Sunan Ambu yang disampaikan melalui Dewi Padmawati. Sunan Ambu memberi petunjuk, siapa pun yang ditugaskan mencari salaka domas, berangkat ke muara Sungai Ciliwung, dan nanti menuju kahyangan.
Nah, salaka domas yang tersurat dalam wangsit Sunan Ambu tersebut seringkali dimengerti oleh orang-orang yang ingin menjadi pemimpin sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi. Sehingga banyak calon pemimpin di tanah Sunda, ramai-ramai mencari salaka domas yang diasumsikan sebagai jimat bagi calon pemimpin (penguasa) dan yang ingin memperoleh kejayaan.
Karenanya jangan heran bila banyak orang-orang yang bernafsu ingin mendapatkan jabatan tertentu, selalu gagal mendapatkan jimat salaka domas. Seperti dituturkan spiritualis Tatar Sunda Ki Engkus Kusumah Somantri, salaka domas sesungguhnya konsep luhur tentang kepemimpinan dan pola perjuangan mencari jati diri bagi para calon pemimpin.
”Orang sering salah kaprah bahwa salaka domas adalah jimat atau pusaka dalam bentuk fisik, dimana bila orang berhasil mendapatkannya, dipastikan dia akan menjadi seorang pemimpin. Itu adalah paham yang salah dan sering menyesatkan,” tutur Ki Engkus. Orang, terang Ki Engkus, seringkali melihat salaka domas sebagai jimat seakan-akan merupakan benda yang punya kesaktian.
Menurut Ki Engkus, dalam kondisi seperti itulah orang jadi lupa proses mencarinya. Padahal, bila merunut falsafah salaka domas itu sendiri, sesungguhnya yang lebih memberi manfaat justru adalah proses pencariannya dan bukan pengertian jimat itu sebagai benda.
Di kisahkan bahwa untuk mencari jimat salaka domas itu, Mundinglaya harus mengembara menembus hutan dan mengarungi Sungai Ciliwung. Ini mengandung makna bahwa seorang pemimpin itu harus mengembara seperti dilakoni Mundinglaya. Sebab dalam proses pengembaraan mencari salaka domas, maka ia akan mengenal masyarakat dan alam, serta mengatasi tantangan untuk tetap bertahan hidup.
Dalam kisah tersebut, Mundinglaya harus mengatasi tantangan dan hambatan di perjalanan, antara lain harus bertarung melawan Jonggrang Kalapitung dan Guriang Tujuh. Mundinglaya memenangkan pertarungan itu dan yang lebih penting musuh yang dikalahkannya tidak dibunuh, tetapi justru menjadi sahabatnya.
Sesungguhnya, tanpa salaka domas, pengalaman dan motivasi kuat dalam pencarian jimat yang dilakukan Mundinglaya sudah cukup sebagai bekal untuk memimpin kerajaan pada saat itu. Sedangkan jimat itu sendiri hanyalah sebagai bukti dan lambang dari proses pembelajaran mengenal masyarakat dan alam serta kelulusan menghadapi berbagai rintangan.
Berkat keteguhan hatinya, akhirnya Mundinglaya berhasil mendapatkan jimat salaka domas itu. Latarbelakang kisah ini berawal ketika Prabu Siliwangi terpaksa kawin lagi karena kemampuan anak pertamanya dianggap kurang memenuhi syarat sebagai pemimpin kerajaan sebagai pengganti dirinya. Selain itu, karena permaisuri sudah tidak bisa lagi memberi keturunan. Dari perkawinannya dengan Padmawati, Siliwangi memperoleh anak yang mampu memimpin, yaitu Mundinglaya. Dan suksesi kerajaan Pajajaran pun berlangsung mulus. Ini memberi pelajaran bahwa seseorang yang tidak mampu memimpin, hendaknya jangan diberi amanah kekuasaan.
eko risanto