kiri
atas
kanan
     
 

Sebelum Anda Lahir, Allah Sudah Tuhan
Assalamu’alaikum wr. wb.
Saya Han, 22 tahun. Saya sedang mencari siapa sih Tuhan yang paling layak disembah di antara sekian banyak asumsi manusia tentang Tuhan mereka, saya merasa kosong.

Jika benar Allah Tuhan kita, mohon berikan alasan, bukti dan apa pun agar keimanan bisa saya dapat. Saya sangat ingin mendapatkan kedamaian.
Mohon bimbingan Anda, Terima kasih.

Wahono
mrhann_lhopital84@yahoo.co.id
081584341491
 
Jawab:
Allah sudah ada sebelum semesta wujud ini ada, dan Dia sudah menjadi Tuhan, bahkan sebelum terciptanya akal dan pikiran Anda. Segala apa pun yang Anda bayangkan tentang Allah, bahwa Dia itu bergerak, diam, berarah, berpenjuru, bertempat, berbentuk, berwarna, naik, turun, berwaktu, berjarak, maka semua itu pasti bukan Allah. Karena yang kami sebutkan tadi adalah karakter dan sifat-sifat makhluk.

Manusia selalu gagal mencari siapa sesungguhnya dirinya, apalagi mencari siapa sesungguhnya Tuhannya. Untuk sampai kepada-Nya dan menemui-Nya, maka Allah memberikan ajaran melalui agama, yang disempurnakan dalam Islam, tentang ajaran dari mana kita, di mana kita, menuju ke mana kita. Siapa Allah, apa yang menjadi karakter dan pekerjaan-Nya, Asma dan Sifat-Nya, sebagaimana Dia kehendaki, bukan menurut kehendak kita.

Jadi kenapa Anda bingung dan gelisah? Ikuti saja Nabi dan Rasul yang paripurna, Sayyidina Muhammad SAW, dengan segenap ajaran kesempurnaannya.***

 
Nama Anak Anda
Assalamu’alaikum wr. wb.
Pak Luqman, saat saya beranjak remaja saya dinasihati almarhum ayah saya untuk melanggengkan Surat Al-Mulk, semenjak itu saya berusaha melanggengkan Surat Al-Mulk tiap malam, dan sampai sekarang Alhamdulillah hampir tidak saya tinggalkan. Sekarang saya hampir punya anak, semenjak saya tahu istri saya mengandung, saya selalu membacakan Surat al-Mulk di perut istri saya dan mendoakan calon anak saya agar haqqul yaqin kepada Allah dan mensyahadatkan calon anak saya walaupun masih dalam kandungan.

Saya ingin anak saya juga mencintai Surat Al-Mulk semenjak dalam kandungan bahkan Insya Allah saya ingin nama anak saya ada kalimat nama surat itu. Subhanallah, sekarang saya ada di warnet. Ketika saya pertengahan mengetik konsultasi ini di warnet, tiba-tiba bergema Surat Al-Mulk dari kaset yang diputar si pengelola warnet.

Pertanyaan saya, terlalu berlebihankah sikap saya ingin supaya anak saya mencintai Surat Al-Mulk? Apakah terlalu dini buat anak saya untuk itu? Apalagi untuk memasukkannya ke dunia Sufi kelak?
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Hamba Allah
as_sajadah@yahoo.com
081319967362

Jawab:
Berilah nama anak Anda dengan nama yang baik, dengan Muhammad, Ahmad, Mahmud, Hamid, Hamdan, atau yang berhubungan dengan sifat kehambaan, seperti Abdurrahman, Abdul Malik, Abdul Ghafur, dsb.

Kecintaan Anda pada Surat Al-Mulk, jangan sampai mengurangi seluruh kecintaan Anda pada Alquran, walaupun Al-Mulk punya keistemewaan, seperti juga pada surat Yasin, Al-Kahfi, Ayat Kursi, dua ayat terakhir surat At-Taubah, dan yang lainnya. Akan lebih bagus manakala Anda bisa menghayati tafsir dari surat Al-Mulk, apalagi jika Anda bisa belajar secara sufistik mengenai tafsir Al-Mulk.

Mendidik anak memasuki dunia sufi, tentu sangat bagus, tetapi harus mengenal porsi, kapasitas, dan kemampuan pertumbuhan psikologi si anak. Misalnya, ketika anak lahir di telinga kanan sudah terdengar azan, dan telinga kiri ikamah, hal ini menandakan bahwa pelajaran pertama yang harus didengar si bayi adalah Panggilan Allah, agar hatinya terlatih zikrullah.

Karena itu Anda ajari agar ucapan pertama kali yang bisa diucapkan oleh si bayi adalah Allah Allah Allah, jangan ucapan memanggil nama-nama makhluk seperti papa, mama, ibu, ayah, makan, minum, dsb. Nama Allah adalah kata yang harus bisa dikatakan pertama kali sang bayi bisa bicara.

 
 

Bersabarlah
 
PARDI mulai puyeng kepalanya. Segalanya terasa judek. Masalahnya seperti tumpukan sampah di depan mata. Sudah berbau menyengat, sepet dipandang. Bahkan lebih dari sekadar sampah.

“Di..Di…kamu ini masih muda, kok stres melulu….”.

“Aku nggak stres, cuma aku lagi jengkel bukan main…”.

“Apa bedanya?”

“Beda donk Dul…”

“Bedanya?”

“Kalau stres itu hasilnya jengkel, kalau jengkel itu apinya stres… ha..ha..ha…”.

“Nah, gitu donk tertawa…Kamu jengkel kenapa?”

“Saya jengkel pada diri sendiri, dan orang lain…”

“Itu namanya ujian…”

“Saya tahu ini ujian. Tapi ketika saya lagi marah, saya lupa Dul kalau itu ujian…Kalau menurut kamu bagaimana?”

“Saya punya kiat Di. Kalau aku lagi jengkel, sumpek, saya lemparkan diri saya…”
”Haaaah!?”.

“Maksudku saya berusaha melemparkan hati saya ke pintunya Allah. Terserah Gusti Allah saja…”

Pardi manggut-manggut dengan kiat Dulkamdi. Lama sekali dua sahabat itu terdiam, hingga kopinya hampir dingin.

“Soal kiat bersabar kan?” tiba-tiba dua orang itu bicara serentak lalu tertawa-tawa.
"Hanya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala mereka yang tidak terbatas.” (Q.s. az-Zumar: 10). Tiba-tiba Kang Soleh muncul dengan mengutip sebuah ayat.

“Kata Al-Junaid – rahimahullah -Sabar adalah memikul semua beban berat sampai habis saat-saat yang tidak diinginkan."

Sementara Ibrahim al-Khawash - rahimahullah - berkata. "Sebagian besar manusia lari dari memikul beban berat sabar. Kemudian mereka berlindung diri pada berbagai sarana (sebab) dan pencarian, bahkan mereka bergantung padanya seakan-akan sesuatu yang bisa memberinya."

Ada seseorang datang kepada asy-Syibli dan bertanya, "Sabar yang mana yang sangat berat bebannya bagi orang-orang yang bersabar?"

Asy-Syibli menjawab. "Sabar demi Allah SWT (fillah)” Orang itu berkata, "Tidak!!"
Asy-Syibli menjawabnya lagi. "Sabar karena Allah (lillah)." Ia berkata lagi, "Tidak!!".
Asy-Syibli menjawabnya lagi, "Sabar bersama Allah (ma’allah)." Ia pun berkata, "Tidak.!!".

Akhirnya as-Syibli marah dan balik bertanya, “Celaka kau!! Lalu apa?"
Orang menjawab, "Sabar dari Allah (‘anillah)." Kemudian asy-Syibli berteriak keras dan hampir ruhnya tercabut.

Saya pernah bertanya kepada Ibnu Salim di Basrah tentang sabar. Lalu ia menjawab dengan tiga jawaban: Pertama, orang yang berusaha untuk bersabar (mutashabir), kedua, orang yang sabar (shabir) dan ketiga, orang yang sangat bersabar (shabhar). Maka, orang yang berusaha bersabar adalah orang yang sabar demi Allah swt. (fillah). Suatu saat ia bersabar atas hal-hal yang tidak diinginkan, tapi di saat yang lain ia tak sanggup bersabar.

Tingkatan ini scbagaimana yang pernah ditanyakan kepada al-Qannad tentang sabar. Kemudian ia menjawab, "Sabar ialah senantiasa melakukan yang wajib dalam meninggalkan apa yang dilarang dan tekun melakukan apa yang diperintahkan. Orang yang sabar adalah orang yang sabar pada Allah dan karena Allah. Ia tidak pernah gelisah dan tidak memperkenankan ada kesempatan gelisah dan harapan untuk mengeluh."

Sebagaimana juga dikisahkan dari Dzun-Nun al-Mishri – rahimahullah - yang berkata: Saya pernah datang menjenguk orang sakit. Tatkala ia berbicara padaku ia merintih kesakitan. Kemudian saya berkata kepadanya, "Tidak dianggap jujur cinta seseorang jika tidak sabar atas bahaya yang menimpanya." Kemudian orang yang sakit balik berkata. "Justru tidak bisa dianggap jujur cinta seseorang bila ia belum bisa merasakan nikmatnya bahaya yang menimpanya."

Sebuah Hadis: "Bahwa Nabi Zakaria A.s. tatkala gergaji diletakkan di atas kepalanya, maka ia sekali merintih kesakitan. Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya, "Jika terdengar rintihan darimu sekali lagi, sungguh Aku akan menjungkir-balikkan langit dari bumi antara yang satu dengan yang lain'." (Diriwayatkan dari Wahb. Ini cerita dari Bani Israel. Tidak benar bila cerita ini dinisbatkan kepada Nabi SAW).

“Apakah kisah-kisah ini bisa membuat kita lebih sabar Kang?” tanya Pardi.

“Membaca kisah-kisah orang tentang kesabaran, akan memancarkan cahaya sabar pada diri kita. Sepercik cahaya sabar akan mematikan amarah kita…Di…”
 
M. Luqman Hakim
Cahaya Sufi, Jakarta


     
       

   

Copyrights © 2007, Tabloid Posmo, All Rights Reserved