Esoknya, para pekerja diberi tahu soal hantu pocong yang tiba-tiba nonggol oleh si satpam. Hanya saja cerita yang agak miring itu ditanggapi beragam oleh meraka. Ada yang percaya, tapi ada juga yang tidak. Toh pembangunan terus berlangsung. Malah ada dari sebagaian pekerja yang ngomong, munculnya hantu pocong itu mungkin berkait di awal pembangunan mal dulu tidak digelar selamatan terlebih dulu. Yang intinya mohon izin kalau akan melakukan pembangunan. Ada lagi yang menduga-duga jika makhluk halus penghuni kawasan itu marah, karena rumah yang selama ini ditempati, dirusak, untuk dibangunan mal.
Tapi keberagaman pendapat itu, sepertinya tak menyurutkan si pocong untuk terus muncul di sekitar bangunan kapan pun dirinya suka. Sementara si satpam masih dihantui rasa takut teramat sangat. Akhirnya dia punya ide untuk meyakinkan pada rekan-rekannya bahwa hantu pocong itu memang benar ada. Caranya, beberapa rekannya yang bekerja di salah satu radio swasta nasional di Surabaya, diajaknya untuk melihat. Si rekan disarankan untuk membawa camera. Siapa tahu, nanti si hantu pocong mau nonggol lagi.
Usaha si satpam ternyata tidak sia-sia. Setelah beberapa jam menunggu di lokasi bangunan dengan berharap-harap cemas, tiba-tiba makhluk yang ditunggu-tunggu mendadak muncul. Pertama si pocong berada di lantai satu. Kesempatan langka tersebut, langsung diabadikan lewat layar camera. Tak lama setelah itu, dengan jalan melompat-lompat seperti kelinci, makhluk tersebut pindah ke lantai tiga. Katanya, saat itu tubuh si pocong sempat manggut-manggut, seakan menyapa manusia yang ada di hadapannya.
Sejurus kemudian, si pocong menghilang di kegelapan malam. Entah karena faktor teknis, atau sebab lain. Sepeninggal hantu itu, orang-orang ini bergegas menghidupkan cameranya lagi. Gambar hantu yang tertera di layar kamera, ternyata tidak jelas. Tapi hanya samar-samar dan nyaris tidak kelihatan sosoknya secara untuh.
Menyikapi gambar yang tidak sempurna itu, sambil kelakar mereka berkata pendek, “Ya, mungkin pocongnya malu kalau wajahnya yang seram itu terlihat oleh manusia karena harus muncul di mal yang pengunjungnya rata-rata berdandan dan cantik-cantik,” katanya. edy whien