Jadi Teladan
Mengenai sikap ikut serta dalam perjuangan negara, jika tiba-tiba ketahuan kesalahannya, janganlah lantas menjadi bingung. Itulah ajaran kelima. Menyoal pengendalian diri ketika terpojok. Ketika ketahuan kesalahan, janganlah menjadi bingung tak melihat mana lagi yang baik, tak mengetahui lagi makna kata-kata penting, melainkan tetap mengerti kilatan mata dan memahami sinambungnya kata-kata.
“De kang dadi kuciwaning abdi, bilih tuna budi, bodho buteng pengung’ (Seperti halnya abdi, maka yang menjadi kekurangan maupun kesalahan bagi seorang abdi, jika kurang baik budinya, ia akan menjadi bodoh, lekas marah, dan dungu). Pembesar negara seperti ini, di depan raja akan terus-menerus bengong karena hatinya sangat sesat dan lupa.
Ajaran keenam dari Pangeran Karanggayam adalah kemampuan seorang pemimpin untuk menjaga kerukunan dengan rekan-rekannya. Hal itu sangat penting bagi pertahanan dan keamanan agar tidak muncul masalah dari dalam. “Ing tyas den miratos, ngilangena sakserik ing ngakeh. Ngayemana manahing sasami, sasamining ngabdi. Priyen raket rukun. Prihen raket rukun (Di dalam hati siap sedia untuk menghilangkan rasa sakit hati dam ketakpuasan banyak orang, dapat menenangkan dan menenteramkan hati kawan, supaya dapat dekat, rukun dalam pergaulan).
Selain itu, dinasehatkan juga untuk selalu menghilangkan keinginan yang serakah dan wajah agar selalu ramah. Dalam pergaulan agar selalu tenang dan selalu memperhatikan segala pesan. Jangan sampai melupakan yang dilarang maupun yang harus diingat dalam ajaran yang luhur.
Dengan demikian, selalu berusahalah untuk mendapatkan kemampuan yang agung, agar dapat menjadi teladan bagi semua orang. Inilah ajaran ketujuh. Teladan ini tak hanya bagi orang senegara, tapi juga orang asing. Hal ini memunculkan karisma seseorang, membuat negara disegani oleh seluruh penjuru dunia.
Orang-orang asing pun akan belajar ajaran luhur itu. “Pra linangkung muwah among tani, ingkang andhap asor, ingesoran sasolah bawane, anor raga dening anuruti saosiking janmi, lawan wacana rum.” (Orang-orang besar maupun para petani yang sifatnya merendah diri, semuanya terungguli dalam segala tingkah lakunya. Teruslah melatih jiwa dan raga dengan mengikuti dan meneliti salah tingkah manusia, disertai tutur kata yang manis)
Nasihat kedelapan adalah nasihat untuk menjadi manusia yang memiliki hati seluas samudra. Mereka yang demikian adalah mereka yang kaya rasa maafnya, selalu ramah, akhirnya kesemuanya itu tak lain hanya menentramkan hati sesame manusia, sesame makluk Tuhan. Dengan sikap demikian, maka seorang pemimpin akan menjadi sumber segala tata krama, telah sewajarnya kalau dicari, didengarkan, dan ditiru sebagai teladan.
Nasihat ini adalah nasihat terakhir Pangeran Karanggayam yang selalu mengutamakan tata krama dalam semua nasihatnya. “Solah tingkah karem tyas tan yukti, satemah salah ton, tilar tatakramane rinemeh, yen mangkana wekasaning wuri, tan wun sira keni, kinembong ambek dur.”
(Solah tingkah senang akan hal yang kurang baik itu akhirnya akan kelihatan juga, sebab tata krama lalu direndahkan. Jika demikian akhirnya kemudian manusia akan penuh dengan watak yang jahat). Ini adalah pitutur pamungkas Pangeran Karanggayam, mengingatkan agar seseotrang itu mau berlomba-lomba mengejar kebajikan. (bersambung) purwanti setia