Makna Ritual Pindapatta dalam Perayaan Waisak
Simbol Solidaritas Antarmanusia
Perayaan Hari Raya Waisak 2551 Be Tahun 2007 di Borobudur banyak dilalui dengan prosesi ritual yang syarat makna. Ritual apa saja yang dilakukan? Lalu apa manfaatnya bagi negeri ini?
SEBAGAI rangkaian peringatan Hari Raya Trisuci Waisak, digelar berbagai prosesi ritual. Salah satunya adalah ritual Pindapatta. Ritual ini merupakan sebuah tradisi umat Buddha sejak zaman kehidupan Sang Buddha Gautama. Hingga kini ritual tersebut tetap menjadi keharusan karena menjadi rangkaian peringatan Hari Raya Waisak.
Seperti yang berlangsung Rabu (30/5) lalu, umat Buddha menggelar prosesi Pindapatta yang dipusatkan di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio Magelang. Dalam ritual ini terdapat 130 bhiksu Buddha Theravada dan Mahayana dan 20 di antaranya berasal dari Thailand. Ritual diawali dengan berdoa bersama yang dimulai pukul 06.00 WIB. Para bhiksu mengenakan jubah berwarna kuning dan bhiksuni mengenakan jubah warna hitam.
Seusai berdoa, para bhiksu dan bhiksuni berjalan satu-per satu menuju Kawasan Pecinan yang terletak di Jl Pemuda. Langkah kakinya terus menapak sampai di ujung jalan protokol kota dan selanjutnya kembali lagi ke kelenteng. Dengan membawa wadah dari logam mereka menyusuri pusat pertokoan yang pagi itu memang belum buka. Meski demikian, di depan masing pertokoan itu tampak para pemiliknya sudah berjajar di depan pintu toko dan rumahnya masing-masing.
Selain berupa amplop berisi uang, para umat Buddha bisa memasukkan berbagai makanan atau buah-buahan ke dalam wadah yang dibawa bhiksu tersebut. Suasana sakral mewarnai prosesi Pindapatta ini. Karena, selama dalam perjalanan itu para bhiksu tak henti-hentinya melantunkan parita (puji-pujian). Umat Buddha yang memasukkan amplop ke wadah itu sebagian besar dalam posisi tangan anjali (sikap sempurna menyembah). “Mereka percaya dengan memberikan sedekah pada bhiksu akan mendapatkan limpahan berkah,” kata Pandhita Ruby Santamoko, SAg kepada posmo sembari mengatakan setelah ritual pindapatta, para bhiksu berkumpul di kelenteng menikmati jamuan makan yang disediakan pihak kelenteng dan warga setempat.
Salah satu panitia Peringatan Waisak dari Walubi Jakarta ini menjelaskan, memberikan amplop dan berbagai makanan kepada bhiksu dalam ritual Pindapatta ini sebenarnya merupakan bentuk dharma. “Seorang bhiksu tak bekerja dan hanya melakukan kegiatan spiritual. Karenanya untuk makan sehari-hari mereka diberi dari umat. Ini merupakan sebuah simbol, betapa pentingnya kebersamaan dan solidaritas antarsesama,'' imbuhnya.
Air Suci
Selain ritual Pindapatta, masih dalam hari itu, dalam rangkaian peringatan Waisak ada beberapa ritual lainnya, yakni pengambilan air suci Waisak di Umbul Jumprit kawasan lereng Gunung Sindoro di ketinggian 3.136 di atas permukaan laut yang berada di Parakan, Ngadirejo, Temanggung. Setelah diambil dari Umbul Jumprit, air berkah tersebut disakralkan di candi Mendut oleh Dewan Sangha, Majelis-majelis agama Buddha dan LKBI.
Pengambilan air berkah dari Umbul Jumprit terkandung sebuah makna mendalam. Air melambangkan kerendahan hati dan sifat yang selalu merendah inilah yang mestinya ditiru oleh umat manusia. Di samping selalu memberikan kesejukan bagi kehidupan spiritual manusia.
Tradisi air berkah sebagai sarana peribadatan dapat dijumpai dalam Ratana Sutta. Dimana Buddha Gotawa menganjurkan kepada Yang Arya Ananda dan umat Buddha di Vesali untuk memercikkan air berkah yang telah dibacakan parita suci. Hingga wabah penyakit yang melanda Kota Vesali dapat dihilangkan. Hikmah dari peristiwa iuni dijadikan teladan bagi umat Buddha untuk senantiasa menggunakan air berkah yang dipersembahkan dengan penuh welas asih dan dipanjatkan parita-parita suci dalam melaksanakan peribadatan.
Selain pengambilan air berkah dari Umbul Jumprit, hari berikutnya dilakukan pengambilan api dharma. Sebelum mengambil api dari Mrapen, Manggarmas, Godong, Grobogan, dilakukan Puja Bhakti pensakralan api dharma oleh Dewan Sangha dan majelis-majelis agama Buddha dan LKBI secara bergantian. Begitu pula setelah diambil dari Mrapen kemudian disakralkan di Candi Mendut.
Api dharma merupakan lambang yang memancarkan cahaya gemerlapan, menghapuskan keadaan suram menjadi terang dan memberikan semangat menembus ketidaktahuan dalam kehidupan ini. “Dengan pancaran penerangan akan menjadikan kehidupan ini terayomi oleh tuntutan dharma yang mampu melepaskan manusia dari belenggu penderitaan,” jelas Pandhita Ruby Santamoko.
Makna yang terkandung dalam api dharma menjadikan umat Buddha bisa menemukan pelita dalam dasar hati sanubarinya yang berisi cahaya cinta kasih dan welas asih sehingga mampu menerangi bangsa dari kegelapan. “Api dharma sebagai lambang semangat merupakan sarana peribadatan umat Buddha yang senantiasa melahirkan pencerahan dan penyadaram dalam kehidupan ini,” imbuhnya.
Sementara itu pagi sampai siang hari ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru Tanah Air mengikuti serangkaian prosesi ritual memperingati Waisak yang dipusatkan di candi Mendut, pada malam harinya mereka berkumpul di kompleks candi agung Borobudur untuk mengikuti seremonial puncak perayaan Waisak. Namun sebelumnya didahului berbagai aktivitas umat Buddha yang merupakan rangkaian Puja Bhakti Waisak.
Selepas melakukan perjalanan dari Candi Mendut dan setibanya di candi Borobudur, umat Buddha segera menggelar prosesi Namaskara dan pembacaan doa-doa dipimpin para bhiksu masing-masing aliran. Para bhiksu dari Dewan Sangha membacakan doa memohon terjaganya perdamaian dunia. Agar umat di dunia dan negara Indonesia bisa terhindar dari bencana. Setelah selesai langsung menuju tempat seremonial di Taman Lumbini. IRUL SB