kiri
atas
kanan
     
 

Masuk Cendana, Mayang Hancur

PREDIKSI Ki Joko Bodo yang sangat menakutkan untuk Mayangsari adalah ketika ia harus memasuki Cendana. Jika sudah memasuki bagian keluarga Cendana, maka sudah dapat dipastikan, pasti akan banyak konsekuensi yang harus dilakoni oleh orang tersebut. Mulai dari protokoler keluarga hingga pada hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang awam. Dan Mbak Mayangsari di sini, harus siap dengan konsekuensi tersebut. Meski datang dari kalagan artis, akan tetapi budaya yang harus dilakoni ketika sudah berada dalam lingkaran keluarga Cendana sangat berbeda dengan kebiasaan hidup yang biasa dilakoni Sang Sinden ini.

“Nah, kalau Mbak Mayang tidak bisa beradaptasi dengan Keluarga Cendana, ataupun Keluarga Cendana belum bisa menerima Mbak Mayang, maka yang bisa diramalkan adalah Mbak Mayangsari bisa hancur. Baik dalam kehidupannya, popularitasnya maupun keamanannya,” kata Joko Bodho.

Sementara itu, sejak Bambang Trihatmodjo menggugat cerai istrinya, Halimah Agustin Kamil, kediaman Mayangsari di Simprug Golf 16 No. 36 terus dijaga ketat. Kabarnya, Mayang mengungsi ke Singapura.

Menurut kabar yang dihimpun posmo dari warga sekitar, Mayangsari meninggalkan kediamannya pada Selasa tanggal 29 Mei Malam lalu. Menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya tersebut, pada Selasa malam itu, ada iringan mobil dari rumah Mayang, namun dia mengaku tidak melihat Bambang.

Kabarnya Mayangsari membawa putrinya, Kirania Siti Hatmanti Trihatmodjo ke Singapura. Hal tersebut dilakukan Mayang, untuk menjaga keselamatan putri mereka dari akses yang mungkin timbul dari gugatan cerai Bambang terhadap Halimah. Dan selepas kepergian Mayangsari ke luar negeri, satu pleton petugas keamanan pun tak terlihat lagi di sekitar rumah Mayangsari. tommyk ardyan

 
 

Terawang di Balik Perceraian Bambang Trihatmodjo – Halimah
Tumbal Ritual Pelet Gaib?
 
Hancurnya bahtera rumah tangga Bambang Trihatmodjo dan Halimah Agustin Kamil, pernah diramal akan menuai badai besar. Di sisi lain, berdasarkan deteksi gaib seseorang, kehidupan artis Mayangsari, istri muda Bambang, juga akan hancur seiring dengan perceraian tersebut. Mengapa?
Geger ramalan ini diungkap paranormal berambut gondrong, Ki Joko Bodo. Pria kelahiran Pulau Dewata ini mengatakan, jika Bambang tetap memilih Mayangsari, kehidupan artis asal Purwokerto beranak satu ini bakal didera cobaan.

“Kalau memilih Mayangsari, cobaan akan datang bertubi-tubi. Tapi Mbak Mayang harus dirukunkan. Jangan ada yang dibuang atau diceraikan,” ujar Ki Joko Bodo ditemui di acara Konsolidasi Partai Permata Nusantara 2007, di kediamannya di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Soal desas-desus Mayang memakai jasa paranormal dengan tujuan Bambang menceraikan Halimah, Joko mengatakan itu bisa saja terjadi.

“Begini, kalau pelet manusia itu tidak asing lagi. Orang itu kalau ke dukun datangnya secara sembunyi-sembunyi. Tapi kalau datang ke kiai secara terang-terangan, bahkan dipublikasikan. Jadi mereka (manusia: Red) mempunyai sifat munafik dan ini bagian dari gaya hidup,” ujar Ki Joko Bodo pada posmo.

Disinggung bagian apa Mayang melakukan guna-guna terhadap anak mantan Presiden Soeharto era Orde Baru itu, Ki Joko Bodo menerangkan, banyak bagian yang potensial untuk melakukan hal tersebut.

“Bisa saja itu terjadi dan itu ada energinya. Seperti di bagian mata dan mulut. Kalau orang bohong dipercaya. Lalu di mata, di pinggul bisa membuat orang melihat tertarik dan kemaluan yang menggigit itu yang paling bermakna,” jelas Ki Joko Bodo.

Menyoal apakah benar-benar terjadi perceraian dalam rumah tangga Bambang dan Halimah? Ki Joko Bodo menjelaskan hal tersebut sangat terbuka untuk terjadi. “Perceraian pasti terjadi,” ucap Ketua Partai Permata Nusantara ini.

Namun ada beberapa yang perlu dicatat oleh seseorang yang akan memasuki atau menjadi bagian dari area ‘keraton’ Cendana. “Memang tidak sembarang orang bisa menjadi bagian dari keluarga mantan Presiden Soeharto ini. Semua pasti melalui seleksi secara ketat dan tidak main-main karena akan membawa citra keluarga ini. tommyk ardyan

Bocah Disunat Jin Hebohkan Solo, Jawa Tengah
Melihat Sosok Serba Putih

Warga masyarakat Solo belakangan heboh. Menyusul adanya peristiwa nganeh-anehi dan berbau mistis yang menimpa seorang bocah warga setempat. Tanpa sepengetahuannya, “burung” sang bocah tersebut telah dalam kondisi disunat. Anehnya, disebut-sebut yang menyunat adalah jin.

MESKI cerita anak disunat jin kerap terjadi, namun peristiwa yang dialami oleh seorang bocah bernama Ignatius Garin Laksana (9) ini tetap menarik perhatian banyak orang. Sampai sekarang, peristiwa nganeh-anehi yang dialami oleh putra bungsu pasangan Alexander Surawan (42) – Agustina Suhartini (38) yang tinggal di Kampung Cinderejo Kidul RT 05 RW 9, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo ini tetap menjadi buah bibir masyarakat.

Menurut Wawan, panggilan akrab Alexander Surawan, peristiwa tidak lazim yang dialami anaknya itu terjadi pada Senin (28/5) malam sekitar pukul 20.15 WIB. Ceritanya bermula ketika putra bungsunya itu tengah asyik belajar menggambar di ruang tamu dengan cara telungkup di lantai. “Saat di ruang tamu itu Garin ditemani kakaknya yang juga tengah belajar. Sementara waktu itu, saya tengah berada di luar halaman rumah,” katanya.

Ketika tengah asyik belajar menggambar, terang Wawan, Garin tiba-tiba menjerit. Ia merintih karena alat vitalnya dirasakan sakit. Garin pun kemudian duduk di kursi tamu sambil memegangi alat vitalnya. ”Langsung kakaknya yang juga belajar di situ memanggil-manggil saya. Begitu saya masuk, Garin ngomong kalau alat vitalnya perih dan sakit,” imbuh Wawan.

Mendapati cerita anaknya itu, Wawan kemudian memeriksa alat kelamin anak bungsunya yang sakit tersebut. Wawan pun terkejut dan diliputi rasa tidak percaya. Sebab, alat kelamin anaknya sudah dalam kondisi seperti telah disunat. Namun demikian, Wawan mengatakan dirinya tidak menemukan bercak darah sedikit pun di celana dalam yang saat itu dipakai anaknya. Hanya saja, kata dia, anaknya terus merintih merasa perih di sekitar alat vitalnya. ''Kemaluan anak saya disunat seperti milik anak-anak lain yang sudah disunat. Malah tidak ada darah yang menetes. Ada lipatan kulit di belakang kepala kemaluannya,'' ungkapnya.

Tidak seperti anak laki-laki yang usai disunat, Garin yang oleh tetangganya dikatakan baru saja disunat oleh jin itu, tidak merasakan kesakitan yang berlebihan. Rasa sakit hanya dialami sesaat saja. Bahkan, keesokan harinya dia juga langsung bermain bersama teman-temannya dan tak jarang menjadi tontonan tetangganya.

Mengetahui peristiwa itu, seluruh penghuni rumah panik. Beberapa tetangga dekatnya pun kemudian berdatangan untuk melihat peristiwa yang dirasakan cukup aneh itu. Dalam perkembangan berikutnya, berita anak disunat jin itu menyebar luas. Masyarakat sekitarnya pun heboh. Sejak kejadian itu, rumah siswa kelas II SD Pangudiluhur III Solo itu ramai dipadati pengunjung yang ingin membuktikan kebenaran peristiwa nganeh-anehi itu.

Setelah peristiwa yang dialami anaknya, keesokan paginya, Selasa (29/5) Wawan mengantarkan Garin ke sekolah karena ada ujian tes. Namun setelah mengetahui peristiwa itu, pihak sekolah memberi izin Garin untuk tidak mengikuti tes. Sepulang dari mengantar ke sekolah, Wawan pun kemudian memeriksakan anaknya ke rumah sakit. ''Menurut dokter yang memeriksa, memang kemaluan Garin baru saja disunat,'' katanya.

Masih menurut Wawan, di rumah sakit tersebut ada dokter lain yang menyebut bahwa sebelumnya juga pernah ada peristiwa seperti itu. Namun baru tiga hari kemudian, bentuk kemaluan kembali normal seperti belum disunat. ''Makanya saya akan menunggu kondisi alat vital anak saya, ada perubahan apa tidak,'' jelasnya.

Garin sendiri ketika ditanya tentang peristiwa yang dialami itu mengatakan, saat telungkup di lantai sambil menggambar itu sepertinya melihat seseorang atau sosok yang mengenakan pakaian serba warna putih. Tapi sosok itu tidak mengatakan sesuatu atau hanya diam saja. ''Saya melihat orang memakai warna serba putih dan tidak berkata-kata. Sesaat kemudian ''titit'' saya rasanya sakit sekali,'' tukas Garin. IRUL SB

     
       
 
     
 

Makna Ritual Pindapatta dalam Perayaan Waisak
Simbol Solidaritas Antarmanusia
 
Perayaan Hari Raya Waisak 2551 Be Tahun 2007 di Borobudur banyak dilalui dengan prosesi ritual yang syarat makna. Ritual apa saja yang dilakukan? Lalu apa manfaatnya bagi negeri ini?

SEBAGAI rangkaian peringatan Hari Raya Trisuci Waisak, digelar berbagai prosesi ritual. Salah satunya adalah ritual Pindapatta. Ritual ini merupakan sebuah tradisi umat Buddha sejak zaman kehidupan Sang Buddha Gautama. Hingga kini ritual tersebut tetap menjadi keharusan karena menjadi rangkaian peringatan Hari Raya Waisak.

Seperti yang berlangsung Rabu (30/5) lalu, umat Buddha menggelar prosesi Pindapatta yang dipusatkan di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio Magelang. Dalam ritual ini terdapat 130 bhiksu Buddha Theravada dan Mahayana dan 20 di antaranya berasal dari Thailand. Ritual diawali dengan berdoa bersama yang dimulai pukul 06.00 WIB. Para bhiksu mengenakan jubah berwarna kuning dan bhiksuni mengenakan jubah warna hitam.

Seusai berdoa, para bhiksu dan bhiksuni berjalan satu-per satu menuju Kawasan Pecinan yang terletak di Jl Pemuda. Langkah kakinya terus menapak sampai di ujung jalan protokol kota dan selanjutnya kembali lagi ke kelenteng. Dengan membawa wadah dari logam mereka menyusuri pusat pertokoan yang pagi itu memang belum buka. Meski demikian, di depan masing pertokoan itu tampak para pemiliknya sudah berjajar di depan pintu toko dan rumahnya masing-masing.

Selain berupa amplop berisi uang, para umat Buddha bisa memasukkan berbagai makanan atau buah-buahan ke dalam wadah yang dibawa bhiksu tersebut. Suasana sakral mewarnai prosesi Pindapatta ini. Karena, selama dalam perjalanan itu para bhiksu tak henti-hentinya melantunkan parita (puji-pujian). Umat Buddha yang memasukkan amplop ke wadah itu sebagian besar dalam posisi tangan anjali (sikap sempurna menyembah). “Mereka percaya dengan memberikan sedekah pada bhiksu akan mendapatkan limpahan berkah,” kata Pandhita Ruby Santamoko, SAg kepada posmo sembari mengatakan setelah ritual pindapatta, para bhiksu berkumpul di kelenteng menikmati jamuan makan yang disediakan pihak kelenteng dan warga setempat.

Salah satu panitia Peringatan Waisak dari Walubi Jakarta ini menjelaskan, memberikan amplop dan berbagai makanan kepada bhiksu dalam ritual Pindapatta ini sebenarnya merupakan bentuk dharma. “Seorang bhiksu tak bekerja dan hanya melakukan kegiatan spiritual. Karenanya untuk makan sehari-hari mereka diberi dari umat. Ini merupakan sebuah simbol, betapa pentingnya kebersamaan dan solidaritas antarsesama,'' imbuhnya.
 
Air Suci
Selain ritual Pindapatta, masih dalam hari itu, dalam rangkaian peringatan Waisak ada beberapa ritual lainnya, yakni pengambilan air suci Waisak di Umbul Jumprit kawasan lereng Gunung Sindoro di ketinggian 3.136 di atas permukaan laut yang berada di Parakan, Ngadirejo, Temanggung. Setelah diambil dari Umbul Jumprit, air berkah tersebut disakralkan di candi Mendut oleh Dewan Sangha, Majelis-majelis agama Buddha dan LKBI.

Pengambilan air berkah dari Umbul Jumprit terkandung sebuah makna mendalam. Air melambangkan kerendahan hati dan sifat yang selalu merendah inilah yang mestinya ditiru oleh umat manusia. Di samping selalu memberikan kesejukan bagi kehidupan spiritual manusia.

Tradisi air berkah sebagai sarana peribadatan dapat dijumpai dalam Ratana Sutta. Dimana Buddha Gotawa menganjurkan kepada Yang Arya Ananda dan umat Buddha di Vesali untuk memercikkan air berkah yang telah dibacakan parita suci. Hingga wabah penyakit yang melanda Kota Vesali dapat dihilangkan. Hikmah dari peristiwa iuni dijadikan teladan bagi umat Buddha untuk senantiasa menggunakan air berkah yang dipersembahkan dengan penuh welas asih dan dipanjatkan parita-parita suci dalam melaksanakan peribadatan.

Selain pengambilan air berkah dari Umbul Jumprit, hari berikutnya dilakukan pengambilan api dharma. Sebelum mengambil api dari Mrapen, Manggarmas, Godong, Grobogan, dilakukan Puja Bhakti pensakralan api dharma oleh Dewan Sangha dan majelis-majelis agama Buddha dan LKBI secara bergantian. Begitu pula setelah diambil dari Mrapen kemudian disakralkan di Candi Mendut.

Api dharma merupakan lambang yang memancarkan cahaya gemerlapan, menghapuskan keadaan suram menjadi terang dan memberikan semangat menembus ketidaktahuan dalam kehidupan ini. “Dengan pancaran penerangan akan menjadikan kehidupan ini terayomi oleh tuntutan dharma yang mampu melepaskan manusia dari belenggu penderitaan,” jelas Pandhita Ruby Santamoko.

Makna yang terkandung dalam api dharma menjadikan umat Buddha bisa menemukan pelita dalam dasar hati sanubarinya yang berisi cahaya cinta kasih dan welas asih sehingga mampu menerangi bangsa dari kegelapan. “Api dharma sebagai lambang semangat merupakan sarana peribadatan umat Buddha yang senantiasa melahirkan pencerahan dan penyadaram dalam kehidupan ini,” imbuhnya.

Sementara itu pagi sampai siang hari ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru Tanah Air mengikuti serangkaian prosesi ritual memperingati Waisak yang dipusatkan di candi Mendut, pada malam harinya mereka berkumpul di kompleks candi agung Borobudur untuk mengikuti seremonial puncak perayaan Waisak. Namun sebelumnya didahului berbagai aktivitas umat Buddha yang merupakan rangkaian Puja Bhakti Waisak.

Selepas melakukan perjalanan dari Candi Mendut dan setibanya di candi Borobudur, umat Buddha segera menggelar prosesi Namaskara dan pembacaan doa-doa dipimpin para bhiksu masing-masing aliran. Para bhiksu dari Dewan Sangha membacakan doa memohon terjaganya perdamaian dunia. Agar umat di dunia dan negara Indonesia bisa terhindar dari bencana. Setelah selesai langsung menuju tempat seremonial di Taman Lumbini. IRUL SB

 
     
   
       
         

   

Copyrights © 2007, Tabloid Posmo, All Rights Reserved