“Hai Widowati, menurutlah padaku. Orang tuamu sudah tewas. Tak ada lagi yang akan menghalangiku untuk memaksamu. Kalau perlu kau akan ‘kugauli’ di tempat ini,” demikian ancamannya. Widowati takut bukan kepalang. Terlebih lagi, melihat wajah raja raksasa itu kian merah, dengan sepasang mata yang sangat tajam. Seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Widowati pun makin panik. “Hai Prabu Dasamuka, raja berhati binatang. Saya lebih baik mati masuk api unggun ini daripada kau jamah,” ujarnya. Ternyata benar, apa yang diucapkan Widowati tidak main-main. Secepatnya gadis ayu itu melompat, menceburkan diri di tengah api yang menyala-nyala. Tubuhnya pun hangus terbakar. Namun, muncul keanehan, asap api itu menjadi berbau sangat harum.
Setelah api padam, tiba-tiba muncul suara Widowati yang menggema. “Hai Dasamuka, raja leletheking jagat gelah-gelahing bumi (penjahat besar). Kalau kau tetap ingin memperistri aku. Aku akan menitis (reinkarnasi) tiga kali. Yakni di Ayodya, Alengka, dan Mandura. Kejarlah jika kau mau.”
Memburu Reinkarnasi Widowati
Sejak itulah Dasamuka menjadi setengah gila. Dia telah kehilangan Widowati, wanita yang sangat diharapkannya. Karena tahu Widowati akan menitis ke Ayodya, maka diburunyalah ke negara itu. Diperoleh informasi, Dewi Kausalya, istri Prabu Dasarata itulah yang menjadi titisan Widowati. Namun tak bertahan lama, sebab Dewi Kausalya meninggal.
Penitisan Widowati selanjutnya di Alengka. Padahal, ketika itu Dewi Tari, istrinya sedang hamil tua. Dia sangat meyakini bahwa kalau anaknya nanti lahir wanita itulah titisan Widowati. Terlebih lagi diperkuat oleh wangsit yang diterima dari para dewa. Dasar Dasamuka berhati binatang, meski anaknya sendiri kelak kalau besar akan dikawininya.
Ternyata benar, Dewi Tari melahirkan bayi wanita. Mengetahui rencana Dasamuka, maka Gunawan Wibisana, adiknya segera mengambil bayi itu dikalungi ketupat shinta dan dilarung ke Bengawan Gangga (karena itu kelak bernama Dewi Shinta). Untuk mengelabuhi Dasamuka, berdasarkan bantuan para dewa dia mencipta bayi pujan (buatan) dari mega (awan). Bayi ini kelak bernama Megananda (Begananda) alias Indrajit.
Dengan demikian, Dasamuka percaya bahwa anaknya memang lahir pria. Bahkan, saking jengkelnya, dia mengumpat-umpat dan mencaci-maki para dewa yang disebutnya sebagai pembohong besar. Namun, akhirnya Dasamuka mau menerima keadaan, Indrajit sebagai anaknya. Sebab, ternyata sangat sakti mandraguna.
Sementara itu, bayi berkalung ketupat shinta ditemukan oleh Raja Mantili, Prabu Arjuna Sasrabahu. Bayi itu pun diasuhnya dan dianggap sebagai anak sendiri. Setelah dewasa dikawinkan dengan Raden Rama Wijaya, putra Prabu Dasarata dari Ayodya.
Setelah diberitahu para dewa bahwa Dewi Sintha itu titisan Widowati, Dasamuka kembali bersemangat. Dia ingin merebut Dewi Shinta dari tangan Raden Rama Wijaya. Dasamuka pun tak tahu kalau sebenarnya Dewi Shinta itu adalah anaknya sendiri dari Dewi Tari, istrinya.
Dalam pertempuran dengan Rama Wijaya, Dasamuka tewas ditembus panah sakti Guawijaya. Namun, atma (kumara) atau arwahnya masih saja klambrangan (gentayangan). Untuk menjaganya, tubuh Dasamuka dijepit dua buah gunung oleh Anoman atas perintah Raden Rama Wijaya.
Meski tinggal arwahnya, Dasamuka yang berganti nama Godakumara alias Dasakumara, masih terus memburu titisan Widowati yang selanjutnya jatuh pada Dewi Wara Sumbadra (Bratajaya alias Rara Ireng), istri Arjuna. Meski demikian, upaya arwah Dasamuka juga tak pernah berhasil. moko-