Pasuruan Pascaberdarah
Ribuan orang dari Pasuruan dan Malang tumplek blek di halaman Pondok Pesantren Al Hikam Jl Cangger Ayam 21 Malang, Minggu (3/6/2007). Mereka melakukan istighotsah bersama, menyusul bentrok berdarah TNI AL lawan warga di Pasuruan.
Dari spanduk yang dipasang, acara ini diselenggarakan PCNU Kota/Kab Malang dan Kota/Kab Pasuruan. Ribuan orang yang melakukan doa bersama itu, kebanyakan laki-laki. Mereka khusyuk memohon perlindungan dan ketenangan kepada Tuhan. Kebanyakan dari mereka adalah warga Grati, Pasuruan.
Acara doa bersama yang dimulai pukul 10.00 WIB, dipimpin pimpinan pondok, yaitu KH Hasyim Muzadi, yang juga Ketua Umum PB NU. Sebelumnya, Sabtu (2/6/2007), Yai Hasyim menjenguk korban tragedi Pasuruan yang dirawat di RS Syaiful Anwar, Khoirul Anwar dan Erwanto.
Sementara itu, hampir semua warga Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Pasuruan, Senin (4/6/2007) 'ngungsi' ke Desa Sumberanyar, Nguling. Kabarnya, mereka mengonsentrasikan kekuatannya terkait rencana aksi turun jalan dengan cara memblokir jalur Pantura yang menghubungkan Surabaya-Banyuwangi, sebagai aksi protes pada pemerintah, khususnya TNI AL..
"Semua warga Alas Tlogo yang berusia dewasa berkumpul di Desa Sumberanyar. Ya mereka siap-siap bergerak jika hasil perundingan di pendapa kabupaten tak membuahkan hasil," kata Senan (37), salah satu warga Desa Alas Tlogo.
Dengan demikian, yang tinggal di rumah hanya ibu-ibu dan anak-anak. Senan mengemukakan, secara prinsip warga Alas Tlogo menolak tawaran relokasi sebagaimana disampaikan otoritas TNI-AL. Yang mana melalui solusi relokasi, masing-masing kepala keluarga (KK) mendapat tanah seluas 500 meter persegi.
"Warga masih memiliki bukti hukum bahwa tanah tersebut milik warga. Selain itu, sejak nenek moyang kita dahulu, tanah tersebut memang milik kita, bukan TNI-AL," tambah warga Alas Tlogo lainnya.
Tak jauh dari kerumunan warga yang berjarak sekitar 300 meter, ada puluhan polisi dari bagian Samapta Polres Pasuruan berjaga-jaga. Kedatangan polisi untuk mengantisipasi hal-hal tak diinginkan jika warga 11 desa di Kecamatan Lekok dan Nguling jadi menggelar aksi blokir jalur Pantura, yang sebelumnya telah dilakukan.
Sebagai rasa prihatin, sejumlah organisasi massa dan LSM, serta para mahasiswa disejumlah kota, menggelar aksi solidaritas. Seperti di Jakarta, mereka melakukan orasi, doa bersama dan tabur bunga untuk korban tewas tertembak.
Di sisi lain, selain Polisi Militer AL, tim pencari fakta dari Kontras, Etnas Walhi, Raca Institut, Walhi Jatim, dan Federasi Serikat Petani Indonesia, mulai menjalankan investigasi di Desa Alas Tlogo, Minggu lalu. Mereka mencari fakta, kebenaran apakah empat orang yang tewas itu ditembak atau tertembak. "Sampai saat ini kami baru menemukan indikasi kuat jika warga sengaja ditembak oleh oknum TNI AL," katanya Sinoy, Wakil Kontras.
"Logika itu muncul dari fakta-fakta berupa bekas tembakan yang mengarah pada titik-titik mematikan. Yakni kepala, dada, dan rahang," paparnya.
Sinoy menambahkan, kalaupun ada alasan warga melawan sebelum ada insiden penembakan, bukanlah sebagai sebuah alasan pembenar bagi TNI untuk menembak mati warga Desa Alas Tlogo.
"Kalaupun warga melawan cukup dilumpuhkan saja. Prosedurnya, tembakan hanya bisa diarahkan pada kaki, atau tangan, atau titik-titik yang tidak mematikan," pungkas Sinoy.
Sementara itu, lima organisasi tim investigasi dimaksud, kini mulai mencari informasi seputar kejadian, verifikasi data, melakukan testimoni, dan mengumpulkan fakta-fakta pendukung lainnya. Sedangkan warga desa setempat, terlihat begitu antusias memberikan keterangan kepada tim investigasi.
Yon/koes/bs