kiri
atas
kanan
megawati

Grebeg Pancasila, Hidupkan Ajaran BK

Benarkah citra Pancasila sudah luntur dimakan zaman hingga warga menggelar ritual budaya untuk membangkitkannya? Salah satunya adalah Grebeg Pancasila di Blitar mengusung budaya dan spiritualisme yang dijiwai ajaran Bung Karno.

SATU kegiatan rutin tahunan di bulan Juni di kota Blitar selalu punya gawe besar. Dimulai pada tanggal 1 Juni, diperingati sebagai lahirnya pancasila. Selanjutnya, pada tanggal 6 Juni, merupakan hari lahirnya Bung Karno, dan dipamuncaki pada tangga 21 Juni merupakan Haul Bung Karno. Nah, ritual 1 Juni inilah biasanya digelar pawai budaya Grebeg Pancasila yang ditujukan sebagai simbol lahirnya Pancasila sebagai lambang negara.

Grebeg tahun ini digelar Jumat (1/6), yang berisikan berbagai kegiatan di antaranya lomba tumpeng, pagelaran wayang kulit, dan istighotsah akbar. Grebeg Pancasila didesain sebagai peristiwa budaya dan didukung oleh seniman-seniman Blitar, dengan sentuhan dan piranti etik dan estetika tanpa meninggalkan kekhidmadan dan makna sebuah ritual.

Grebeg Pancasila dilaksanakan di alun-alun Kota Blitar tepat tanggal 1 Juni 2007. Ritusnya diawali dengan prosesi Grebeg Pancasila di Kota Blitar, berisi tiga mata acara pokok. Di antaranya Upacara Budaya yang diselenggarakan di alun-alun Kota Blitar, Kirab Gunungan Lima yang dilaksanakan di beberapa jalan utama di tengah Kota Blitar, dan Kenduri Pancasila yang dilaksanakan di Makam Bung Karno.

Jalannya Prosesi Grebeg Pancasila selain dikemas melalui sentuhan seni dan budaya juga dikolaborasikan dengan unsur-unsur sejarah yang menyertainya. Rekaman pidato Bung Karno berkumandang, disusul prosesi Gunungan Lima yang dikawal Prajurit Siji, Prajurit Enem, dan Prajurit Patang Pulih Lima. Arak-arakan Gunungan Lima, sebagai penggambaran Lima Dasar Pancasila. Simbol gunungan itu dikawal Prajurit Siji, Prajurit Enem, dan Prajurit Patang Puluh Lima menandai hari lahir Pancasila, 1 Jumi 1945.

Selain pengawal Gunungan Lima, kirab ini juga diikuti Pasukan Bhinneka Tunggal Ika dan diiringi Dayang Ayu dan Dayang Bagus. Arak-arakan Gunungan Lima berakhir di Makam Pencetus gagasan Pancasila Bung Karno, yang terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Blitar. Akhir prosesi disebut dengan Kenduri Pancasila. Puncak acara kenduri ini berupa ngalap berkah. Gunungan Lima akan diberikan kepada para pengunjung dan masyarakat sekitarnya.

Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni diusulkan diperingati secara nasional, baik di sekolah maupun instansi lain. "Sudah sepantasnya, Hari Lahir Pancasila diperingati secara nasional," kata Wali Kota Blitar, Djarot Saiful Hidayat usai memimpin Grebeg Pancasila untuk memperingati Hari Lahir Pancasila di Makam Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, pada hari Jumat.

Djarot juga mengajak beberapa kepala daerah di seluruh pelosok Nusantara untuk menggelar acara memperingati Hari Lahir Pancasila sehingga kesannya tidak hanya diperingati di Blitar saja. Ia menambahkan, hari lahirnya ideologi rakyat Indonesia itu perlu dilestarikan semua pihak, termasuk para generasi muda untuk menumbuhkan semangat nasionalisme yang sekarang sudah mulai luntur.

Sementara Koordinator National Integration Movement (NIM), Ni Wayan Suriastini, menuturkan, sekarang bangsa Indonesia sedang mengalami krisis kesadaran akan budaya bangsanya sendiri dengan melupakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. "Karena itu, kami berharap peringatan ini dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap Ibu Pertiwi yang belakangan mengalami kemerosotan, akibat fanatisme kelompok yang berlebihan," ujar Suriastini selaku pendukung acara yang dilangsungkan di Makam Bung Karno itu.

Menurut dia, munculnya berbagai kelompok kepentingan saat ini telah melunturkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. "Lihat saja, sekarang ini sudah banyak upaya-upaya untuk menolak Pancasila sebagai ideologi negara. Hak asasi manusia juga diabaikan, demikian dengan persatuan dan kesatuan sudah mulai menghadapi ancaman dengan munculnya gerakan-gerakan separatisme," tegasnya.

Sementara itu dari persiapan Haul Bung Karno yang sempat diliput posmo, akan diarahkan sebagai wahana untuk meneladani perjuangan dan ajaran Bung Karno. Rencananya, acara puncak perayaan itu berlangsung di Rumah Gebang Istana Gebang atau Ndalem Gebang merupakan rumah tempat tinggal orang tua Bung Karno. Istana ini bertempat di Jl. Sultan Agung no. 69, Biltar. Sebagaimana acara haul Bung Karno dari tahun ke tahun selain di Istana Gebang, acara tersebut juga diselenggarakan di kompleks Makam Bung Karno yang dilanjutkan acara tabur bunga pada pagi harinya. agus ramadhan/ es danar pangeran

 

Gelar Gending-Gending Perjuangan Mengenang Putra Sang Fajar

Bung Karno “Muncul” di Surakarta

Pendapi Ageng Balai Kota Surakarta, Rabu (30/5) malam lalu terasa kekeramatannya. Ribuan orang terhipnotis oleh pergelaran gending-gending Jawa klangenan Bung Karno. Dalam acara itu, Sang Proklamator RI seakan “muncul” kembali.

GELAR gending-gending perjuangan karya dua empu karawitan, Ki Wasito Dipuro asal Jogjakarta dan Ki Narto Sabdo asal Klaten, Jateng yang dilangsungkan di Pendapi Ageng Balai Kota Surakarta, Rabu (30/5) malam berlangsung semarak. Acara yang digeber oleh komunitas masyarakat yang punya komitmen terhadap kebangsaan, pluralisme dan Pancasila itu penuh sesak dengan para pengagum dan pengikut Bung Karno. Selain untuk mengenang ketokohan dan perjuangannya, acara tersebut sekaligus untuk memperingati hari kelahiran Bung Karno.

Ada sekitar 10 gending karya dua empu karawitan yang diangkat dalam acara itu. Selain kedua empu karawitan yang konon pernah dekat dengan Bung Karno, gending-gending yang dipentaskannya pun sarat nilai-nilai kebangsaan dan perjuangan. Di antaranya gending “Kuwi Apa Kuwi, Kembang Jambu” dan “Kae Lho Kae”, karya Ki Wasito Dipuro serta Lancaran 45, Irian Barat dan Mari Kangen karya Ki Narto Sabdo.

“Gending-gending yang disuguhkan dalam acara ini memang sarat nilai-nilai kebangsaan dan perjuangan. Seperti ‘Lancaran 45’ menuturkan soal kebesaran bendera merah putih, gending Irian Barat menggelorakan pembebasan Irian Barat dan Mari Kangen berisikan sebuah kerinduan kepada seorang pemimpin yang jujur dan berani. Sedangkan gending Kuwi Apa Kuwi menyoal antikorupsi, Kembang Jambu menyuarakan antineokapitalisme dan Kae Lho Kae bermaknakan persatuan dan kesatuan,” ungkap Gunawan Wirosaroyo, penanggung jawab acara.

Gunawan menambahkan, Ki Wasito Dipuro dan Ki Narto Sabdo semasa hidupnya merupakan seniman yang dekat dan melekat di hati Bung Karno. Karena itu, kedua empu karawitan ini pernah diundang Bung Karno ke Istana Negara untuk menggarap/mengaransir gending-gending yang dikehendakinya. Yang berkisar dengan napas kebangsaan dan semangat perjuangan. Kenyataannya gending-gending yang sarat nilai kebangsaan dan perjuangan itu masih bisa eksis sampai sekarang. “Acara ini juga dimaksudkan untuk memaknai api perjuangan Bung Karno yang juga dikenal dengan sebutan Putra Sang Fajar,” tukasnya.

Dalam acara tersebut keluarga besar Bung Karno juga memberikan tali asih atau penghargaan kepada lima seniman kesayangan atau dekat di hati Bung Karno. Selain Ki Wasito Dipuro empu karawitan dari Jogjakarta dan Ki Narto Sabdo dalang dan empu karawitan dari Klaten, penghargaan diberikan kepada Ki Maridi Tondodipuro empu tari asal Solo, Ki Rusman Harjowibakso seniman tari dari Solo dan Ki Nyoto Carito dalang asal Klaten. Karena semua seniman itu sudah almarhum, penghargaan diterimakan kepada keluarga atau yang mewakili.

Acara Gelar Gending-Gending Perjuangan untuk mengenang perjuangan Bung Karno ini antara lain dihadiri oleh Wali Kota Surakarta Ir Joko Widodo, Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto, mantan Presiden RI Megawati dan keluarga besar Bung Karno, Bupati se-Eks Karesidenan Surakarta, pejabat, tokoh masyarakat serta tamu undangan lain.

Gubernur Jawa Tengah, H Mardiyanto menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya Gelar Gending-Gending Perjuangan untuk mengenang Perjuangan Bung Karno. Menurutnya, acara tersebut diharapkan bisa menggugah semangat dan meneladani sikap dan kearifan Bung Karno. “Bung Karno sebagai penggali Pancasila merupakan seorang tokoh besar yang dimiliki bangsa dan negara ini. Beliau adalah putra terbaik Indonesia yang kaya kreativitas dan gagasannya tetap relevan sepanjang zaman,” katanya.

Gubernur juga mengingatkan, lewat gending-gending Jawa yang notabene sarat nilai-nilai kebangsaan dan perjuangan hendaknya terus dilestarikan dan ditumbuhkembangkan. Sebagaimana Bung Karno yang menggandrungi gending-gending Jawa tersebut. Sebab, di dalamnya terkandung muatan nilai-nilai luhur yang sarat pesan perjuangan. “Dengan acara ini kami berharap bisa menggugah kesadaran masyarakat akan nilai-nilai perjuangan seperti disiratkan dalam gending-gending itu. Juga mengenang ketokohan Putra Sang Fajar yang telah banyak memberikan suri teladan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” tukasnya.

Cinta Seni Budaya
Sementara itu, Megawati Soekarnoputri mengungkapkan, atas nama keluarga besar Bung Karno ia menyampaikan ucapan terima kasih dengan digelarnya acara yang dikemas sedemikian rupa yang dimaksudkan untuk mengenang perjuangan dan ketokohan Bung Karno. “Untuk mengenang perjuangan dan ketokohan Bung Karno memang bisa dilakukan dengan apa saja, salah satunya dengan pergelaran seni budaya ini,” tutur Megawati dalam sambutannya.

Dalam kesempatan itu mantan Presiden RI ini juga menegaskan, untuk mengenal Bung Karno tak hanya dilihat dari sisi beliau sebagai orator ulung atau lobies di bidang politik. Tapi bisa dilihat dari sisi lain, yakni Bung Karno yang sejatinya juga sangat mencintai seni budaya. “Sejak dulu Bung Karno memang amat mencintai seni budaya. Contoh nyata adalah ya sering diundangnya almarhum Ki Wasito Dipuro dan Ki Nartosabdo ke Istana Negara untuk mengaransir gending-gending pesanannya,” imbuh Megawati yang mengaku ketika masih kecil sering diajak Bung Karno ke perusahaan rekaman Lokananta Solo untuk nembang (bernyanyi) atau mendengarkan gending-gending Jawa.

Pada sisi lain, Megawati mengatakan, sekarang situasi politik di Indonesia tengah kering. Itu terjadi karena para politikus banyak yang tak berbudaya. Akibat tak punya tanggung jawab moral, unggah-ungguh dan tak tahu budaya menjadikan kondisi bangsa dan negara menjadi seperti sekarang, carut-marut. “Yang perlu dipertanyakan sekarang adalah di mana moral obligation para politikus. Untuk menciptakan iklim politik yang bagus mestinya para politikus harus menjunjung tinggi etika moral, budaya, dan unggah-ungguh itu,” tukasnya.

Megawati juga menyatakan rasa keprihatinannya melihat generasi muda yang sekarang tak lagi meminati budaya sendiri. Contoh konkret yang mau belajar menabuh gamelan justru orang-orang bule. Sementara, orang pribumi terkesan tak mau dan meninggalkannya. “Gamelan dan gending-gending Jawa sekarang dimintai orang dari mancanegara. Tapi, orang Indonesia sendiri khususnya Jawa malah enggan mempelajarinya, dan ini amat memprihatinkan,” tandas Megawati. IRUL SB


‘Back to’ Spirit Pancasila
 
Zaman terus berubah. Tidak tentu arah. Membikin rakyat makin ‘gelap’ menentukan langkah hidupnya. Ajaran moral dan agama pun dinomorsekiankan. Pancasila yang dulu dijadikan landasan nurani rakyat Nusantara, kini seolah lenyap. Benarkah Pancasila telah ditinggalkan?
 
MEMANG, Zaman Edan membuat kehidupan Nusantara turut edan (gila). Jika saja nilai-nilai agama atau spiritual masih dijadikan sebagai tonggak hidup. Pancasila masih dipegang teguh menjadi nurani hidup berbangsa. Niscaya, bangsa ini dijauhkan dari bahaya-bahaya kehancuran, kemerosotan moral, dan ketidakadaban. Sudah terbukti, keengganan untuk menjadikan Pancasila sebagai nurani bangsa-- telah membuat bangsa ini berkembang tanpa arah.

Ketika Pancasila dijadikan sebagai alat kekuasaan, kita melihat betapa Pancasila sebagai nurani disalahgunakan. Hingga rakyat mengalami ‘kesesatan’. Jangan sampai ada yang ingin “mengaburkan”, bahkan “menguburkan” Pancasila, dengan ideologi lain.

Buah bila kita menjadikan Pancasila sebagai nurani bangsa adalah terbentuknya bangsa yang beradab. Dengan Pancasila sebagai nurani hidup berbangsa, bangsa ini akan menanggalkan cara hidup lama. Yakni korupsi, kekerasan, dan keretakan. Selanjutnya menggapai cara hidup baru yang lebih beradab.

Dewasa ini kita ditantang untuk menciptakan sebuah peradaban baru. Demi terbangunnya ruang publik yang beradab dengan mengindahkan nilai-nilai luhur Pancasila. Perubahan dari peradaban lama menuju peradaban baru harus dilaksanakan seluruh bangsa.

Untuk memajukan kerja sama dengan semua yang berkehendak baik, harus diupayakan agar bangsa kita dijauhkan dari bahaya kehancuran. Kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik, kian mendesak dewasa ini. Sebab, ada satu hal mendasar yang terkait tata budaya bernegara Indonesia yang perlu kita sikapi secara tepat.
 
Berwatak Revolusioner
Untuk menghargai sejarah dan mengenang para pahlawan yang telah berjuang untuk nusa dan bangsa, Gerakan Spirit Pancasila (GSP) menggelar Refleksi Peringatan Hari Lahir Pancasila yang ke-62 di Nalai Sri Menanti Wisma Fatmawati Soekarno Hing Puri Fatmawati, Kebayoran, Jakarta Selatan.

Acara yang dihelat sekaligus dalam rangka syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) GSP yang pertama tersebut diawali dengan upacara bendera dipimpin langsung oleh Ketua Umum Badan Pengurus Pusat GSP Guruh Soekarno Putra.

Selain para pengurus GSP, acara yang mengusung tema Memaknai Pancasila dalam Konteks Zaman tersebut juga dihadiri keluarga besar Soekarno, menteri di era Soekarno, aktivis gerakan mahasiswa dan pemuda, serta ratusan pelajar.

Gaya orasi Bung Karno (BK) yang selalu berapi-api saat berpidato dihidupkan kembali pada perayaan hari lahir Pancasila tersebut. Dalam upacara peringatan itu, Guruh mengingatkan perlunya pemahaman dan gerakan revolusioner dalam pengejawantahan Pancasila.

Dalam orasinya, Guruh yang menjadi inspektur upacara menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara menjadi harga mati. Sebab, Pancasila berdiri di atas bangunan Indonesia merdeka.
 
Mulai Luntur
Menurut Guruh, Pancasila sebagai dasar negara sudah final, dan akan tetap dipertahankan untuk selama-lamanya. ”Karena Pancasila adalah Philosofis Groslag yang berdiri di atas bangunan Indonesia merdeka. Dan, jika kita ingin memahaminya secara utuh, kita juga harus mengerti pemikiran-pemikiran Bung Karno,” ujar Guruh dalam orasinya.

“Memang, saya adalah anak biologis Bung Karno. Tapi bagi saya, beliau (Bung Karno, Red) adalah guru bangsa dan pemimpin besar saya yang telah menggali nilai-nilai dasar tentang Pancasila. Jika kita ingin memahami Pancasila secara utuh, kita juga harus mengerti pemikiran-pemikiran Bung Karno,” katanya.

Sementara itu, lunturnya rasa cinta sebagian generasi muda terhadap Pancasila juga disoroti oleh Guruh. Anak-anak muda justru sering mengagungkan dasar pemikiran Barat atau komunis. Sebab, mereka menganggap pemikiran Barat lebih revolusioner. Padahal, hal tersebut salah besar. “Karena Pancasila kedudukannya lebih tinggi dari Declaration of Independen milik Amerika dan Manifesto Komunis.”

Untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur seperti yang dicita-citakan Pancasila, Guruh menyatakan perlunya gerakan revolusioner. ”Sebab, Pancasila itu ideologi yang berwatak revolusioner,” ungkapnya. Namun, dia menyayangkan minimnya pemimpin nasional yang berpikir revolusioner. Dalam acara tersebut, pidato mantan Presiden Soekarno saat mencetuskan Pancasila pada 1 Juni 1945 juga kembali terdengar. Wawan Sofwan, seniman teater asal Bandung, membacakan monolog pidato Bung Karno dengan menirukan aksen presiden pertama RI itu saat mencetuskan lahirnya Pancasila.

Dewan Bijak Besertari GSP Ismail Arief mengutip perkataan Bung Karno tentang “Jas Merah”. Yakni jangan sekali-kali Meninggalkan Sejarah. “Jadi, kami menggelar acara syukuran ini untuk menghargai sejarah dan mengenang jasa para pahlawan,” ujarnya.

Ismail mengakui kalau Bung Karno memang identik dengan Pancasila. Namun bukan berarti Pancasila milik Bung Karno. “Bung Karno hanya menggali nilai filosofis yang terdapat di Pancasila,” terangnya. tommyk ardyan

   
     

Geger Penampakan Kepala Singa

BULAN Juni ini awal Nusantara menapaki tengah warsa 2007. Usai bencana tanah air dan geliat pemerintahan yang tak stabil, kini akankah membaik? Manusia sebagai bagian dari alam tentunya tidak lepas dari lingkaran jerat hukum alam itu sendiri. Alam murka dan terjadi bencana alam, karena merasa diabaikan dan diinjak-injak oleh bagian dari alam itu sendiri-- yang bernama manusia.

Alam sebenarnya telah memberikan satu “warning” kepada seisi alam atau bagian dari alam sendiri bahwa semua sudah tidak terkendalikan lagi. Memang, semua tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena leluhur sebagai bagian gaib dari siklus lahir batin alam ikut melakukannya untuk campur tangan atas dirusaknya tatanan lahir batin dari alam. Yang juga dialami oleh para leluhur.
 
BK Sedih dan Kecewa
Salah satu leluhur bangsa Indonesia ini adalah proklamator Indonesia, Soekarno (Bung Karno). Meski telah tiada, tapi bayang-bayang Bung Karno-- baik secara ideologi maupun dalam wisik gaib-- masih saja dipercaya sebagai penggiring kaum linuwih di dalam memberikan wejangan untuk melangkah di kancah politik maupun kehidupan di Nusantara. Sebab, sepak terjang Soekarno yang tak lepas dari Indonesia diyakini masih bisa menjaga Indonesia meski lewat alam gaib.

Seperti yang terjadi pekan lalu, ketika 1 Juni 2007 lalu, dikabarkan, di batu nisan Bung Karno ada penampakan kepala singa yang terekam dalam hasil foto pada waktu seorang spiritualis ibukota mengadakan ritual dalam haul Bung Karno ini.

Penampakan kepala singa sebagai lambang raja hutan mengurai jelas di bayangan putih di batu granit hitam nisan makam. Terasa kontras dan jelas meski ada kesan abstrak yang tak begitu dominan. Memang, tengara penampakkan kepala singa ini berawal pada paruh awal tahun 2004. Di mana SBY sang presiden, begitu populernya sebagai calon kandidat yang bakal tampil memimpin pada perhelatan bangsa ini. Pada waktu itu secara gaib wisik tersebut diterima secara samar oleh beberapa spiritualis yang mengatakan, SBY akan menjadi seorang presiden.

Namun, kini penampakan itu kembali menggegerkan Blitar. Apalagi, penampakan tersebut bisa diabadikan dalam kamera seorang spiritualis. Lantas adakah satu misteri yang disimpan oleh seraut wajah singa itu? Dari secercah keseriusan dan tidak adanya kegembiraan yang ditangkap mata batin Empu Pitrang pada beberapa hari yang lalu, sang proklamator agaknya terungkap lewat gambar foto tersebut, gambaran penampakan singa tersebut terlihat sedih dan kecewa.

“Ini pertanda buruk. Saya yakin penampakan gaib ini sesungguhnya mencerminkan bahwa sang proklamator kita itu sedang kecewa dengan derita rakyat Nusantara ini, benar-benar mengecewakan,” ujar Empu Pitrang usai melakoni pertapaannya di beberapa tempat di Blitar.

Dari hasil tersebut, seorang juru kamera mengatakan, hasil 2 buah foto tersebut sama-sama nampak kepala singa terlukis di batu nisan Bung Karno. Seperti 2,5 tahun silam yang juga pernah tampak sebelum terpilihnya SBY menjadi presiden.

Dari penelusuran gaib Empu Pitrang, Bung Karno menyampaikan pesan kesedihan dan duka yang amat dalam atas masa-masa yang harus dilewati oleh penerus pengelola negeri ini. “SBY ternyata jauh dari harapan Bung Karno untuk menjadikan tumpuan harapan Bung Karno atas kawula kecil negeri ini. “Kutitipkan Bangsa dan Negara Kepadamu,” ucap sang proklamator kala itu,” jelas Empu Pitrang kepada posmo.

 

Teladan Soekarno
Seolah-olah tepat ketika wisik Bung Karno yang datang pada para linuwih, bahwa pada awal tahun 2004 yang akan naik menjadi Nata Praja adalah SBY. “Rupanya masih diikuti petunjuk dengan murungnya Sang Singa itu bahwa SBY memang akan duduk sebagai Presiden (Satriyo Jatmiko). Tetapi tidak atau bukan Satria Piningit dalam arti dipingit oleh Tuhan,” kata Empu Pitrang

“Akan dimunculkan kemudian pada saat rakyat Nusantara ini membutuhkan pemimpin atau Nata Praja yang dapat membawa bangsa Nusantara ini merasakan adil, makmur, tata tenteram, kerta raharja. Penampakan ulang kepala singa yang sedih itu seakan menggarisbawahi rentetan kejadian atau musibah-musibah alam yang beruntun menimpa negeri tercinta ini,” jelasnya.

Keanehan lain adalah penampakan wajah kepala singa sebagai sosok wakil pemimpin negeri ini, tidak terlihat di batu nisan tersebut dalam foto lain. Meskipun yang duduk di dekat batu nisan itu adalah kerabat atau keluarga Bung Karno. “Saya awalnya tidak tahu adanya penampakan tersebut, namun setelah datangnya wisik dari Bung Karno, maka dapat saya pastikan dalam foto tersebut adanya penampakan singa itu. Padahal di foto orang-orang lain tidak ada penampakan singa itu,” urainya.

Isyarat yang diterima Empu Pitrang bahwa Bung Karno kecewa berat atas kejadian demi kejadian yang menimpa bangsa ini sangat jelas. Apalagi berkaitan dengan pemimpin selanjutnya. “Sinyal gaib untuk tahun 2009, Bung Karno belum berkenan untuk memberikan isyarat gaib siapa yang akan tampil di singgasana Nusantara nanti. Sementara, gambar jepretan kepala singa yang mengekspresikan raja Nusantara itu, amat langka dan memang jarang terjadi. Kemudian foto pada tahun 2004 tersebut langsung diklarifikasikan dengan pengelihatan gaib putra lelaki almarhum guru Bung Karno dan tokoh PETA Blitar Supriadi. Yang waktu itu sang guru, tinggal di Kalipucung, Blitar yakni (alm) Eyang Nandang Joyo Nandir.

“Selanjutnya, dapat ditengarai lewat sinyal petunjuk spiritual pascatengah tahun ini. Nusantara masih terselimuti tabir atau kabut kesulitan-kesulitan atau derita dalam bidang ekonomi khususnya. Juga penampilan kembali bencana alam seperti beberapa hari yang lalu di mana ratusan rumah di Pelabuhan Ratu hancur disapu gelombang pasang laut kidul,” ujarnya kepada posmo.

Pesan Empu Pitrang bahwa dalam memperingati kembali hari lahir sang proklamator maupun haul wafatnya yang dalam bulan yang sama, bangsa Indonesia harus bisa berpikir ke depan dan menjadikan sejarah sebagai pedoman. “Mari kita tengok ulang ke belakang, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Sejarah para pahlawan atau pejuang bangsa maupun leluhur negeri ini. Seperti kata-kata mutiara Bung Karno bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan satu-satunya, tetapi kemerdekaan adalah pintu gerbang utama untuk mencapai masyarakat yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja yang bebas dari exploitation Del Lhome Par Lhome dan Exploitation Del Nation Par Nation (penindasan manusia atas manusia dan penindasan negara atas negara),” jelasnya.

Sikap tersebut perlu disuriteladani. Ucapan Bung Karno tidak hanya untuk diminati, tetapi terpenting adalah diwujudkan demi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat banyak, terutama oleh yang namanya pemimpin atau penguasa bangsa ini.

“Haul Bung Karno jangan cuma dijadikan acara seremonial belaka. Namun, mari kita mulai mengevaluasi diri. Apakah kita sudah berbuat banyak dan terbaik buat bangsa ini. Kita jadikan momentum sikap dan perilaku Bung Karno dalam menyikapi dan memimpin bangsa sebagai acuan dalam menata dan mengelola negeri. Yang tanpa pamrih dan ternyata fakta membuktikan bahwa namanya tetap harum di dalam dada ataupun hati sanubari bangsa dan rakyat di Nusantara ini,” imbuhnya. tommyk ardyan

 
     
       


Copyrights © 2007, Tabloid Posmo, All Rights Reserved